Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 26 Apa Om Mau Mengusap Air Mata Mama Gantiin Abel?


__ADS_3

Sekarang Dara yang bersedekap di tempat duduk nya di sofa, wajah nya memerah karena kesal. Dengan enteng nya Deris menjawab hanya ingin datang saat ditanya kenapa ada di rumahnya.


"Sana pulang! Aku mau ngurus Abel. Aku engga ada waktu buat ladenin kamu, Der."


"Aku belum makan malam, jangan usir pria kelaparan ini Nona cantik..." wajah Deris memelas semenyedihkan mungkin.


Aku sekarang sudah tau kehidupan mu Dar, kamu terluka karena keluargaku. Harus merawat seorang bayi disaat umurmu 18 tahun sambil kuliah dan bekerja mencari untuk biaya hidup sehari - hari. Bahkan Alan bilang kamu mau bekerja apa saja saat itu hingga sering sakit-sakitan karena kelelahan. Aku... menyesal Dar. Aku menyesal karena tak sekuat tenaga menemukan mu saat pergi dariku dulu. Wajar saja sekarang kamu benar - benar tertutup padaku, aku laki-laki yang tidak bisa diandalkan bukan?


"Kamu!"


"Jangan galak - galak, lihat putrimu melonjak kaget." Deris sengaja menarik Abel dalam percakapan mereka karena ia tau gadis kecil manis itu lah yang menjadi kelemahan pujaan hatinya.


"Mama, kenapa?" tanya Abel di ruang Tv model terbuka sedang mewarnai gambar yang dibawa Deris dengan segala rupa peralatan mewarnai.


"Maaf, sayang. Lanjutin mewarnai gambarnya."


Abel mengangguk menoleh sekilas pada Deris, bibir gadis kecil itu tersenyum. Tadi sebelum Dara datang, Deris mengatakan pada gadis kecil itu ingin menjadi Papa untuk Abel dan suami untuk Mama-nya, Deris meminta kerjasama Abel dan mendapatkan teriakan semangat dari Abel.


"Jangan galak-galak sama Om Deris, Om baik udah beliin gambar dan crayon buat Abel." Gadis kecil itu menyipitkan matanya menatap Dara.


"Oke," Dara menghela nafas pasrah.

__ADS_1


"Dara, makan. Lapar," rengek Deris menarik tangan Dara.


"Ih! Ngapain pegang-pegang!" sewot Dara.


"Mama..." sekali lagi suara Abel mengingatkan. Dara menoleh dengan wajah gugup, pasalnya Abel kalau sudah marah pasti mogok makan dan ujung - ujung nya Abel akan sakit ia tak akan tega.


Deris tersenyum saat Dara tak melihatnya, ia mengacungi jempol pada Abel.


Dara kembali menoleh pada Deris, "Tunggu, aku masak dulu."


Akhirnya mau tak mau Dara berjalan ke arah kulkas, mengambil beberapa butir telur dan beberapa bahan sayuran juga daging.


Menunggu Dara masak Deris mendekati Abel, sang keponakan putri dari Kakaknya.


"Om, warna untuk bunga ini apa?" tanya Abel tidak tau bunga di gambar.


"Hm, kalau gak salah warna kuning." Jawab Deris.


"Ohhh..." Abel kembali memoles gambar dengan crayon.


"Makanan kesukaan Abel apa?" tanya Deris.

__ADS_1


"Eskrim."


"Selain eskrim?"


"Bubur kacang ijo, buatan Mama."


Sama kayak kak Darwin, ternyata benar darah lebih kental daripada air.


"Wah, apa enak?"


"Enak banget."


"Dar... katanya bubur kacang ijo kamu enak. Buatin aku kapan-kapan."


"Itu resep dari Kak Dira, aku__" Dara seketika terhenti, tiba - tiba airmata keluar dari sudut matanya. Dengan cepat Ia mengusapnya, teringat kakaknya. Dulu dia gadis tomboi nakal, diberi uang jajan sekolah ia habiskan membeli rokok dan taruhan - taruhan. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa tau uang pemberian sang kakak dari kerja keras Kak Dira dan bertahan dengan pekerjaan nya meskipun sedang berada dalam masalah hanya demi biaya sehari - hari dan menabung untuk biaya melahirkan dan untuk Dara kuliah nantinya. Teman kakaknya, Septi bercerita semuanya setelah kepergian sang kakak. Saat ia menjadi seorang Ibu mengurus Abel, ia benar-benar merasakan apa yang dialami kakaknya dulu saat merawatnya seorang diri mengingat perjuangan sang kakak yang menjadi tulang punggung keluarga. Rasa menyesal dan bersalah terus menggelayuti hatinya sejak kepergian sang kakak.


Dara tak kuat menahan sesak di dadanya, ia menaruh pisau dapur di tangan nya diatas meja berlari masuk ke kamarnya lalu menangis.


Deris mendengarnya, ia bangkit berdiri ingin menyusul Dara ke dalam kamar.


"Om, Mama sering nangis tiba-tiba seperti sekarang. Abel sering mengusap air mata Mama, apa sekarang Om mau mengusap air mata Mama gantiin Abel?"

__ADS_1


Deris terenyuh, anak sekecil Abel ternyata sudah bisa bersikap baik begitu mengerti dengan sekeliling nya. "Jangan khawatir, mulai sekarang itu menjadi tugas Om."


__ADS_2