Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 20 Kisahmu dan Alan Sudah Usai, Bisakah Kamu Kembali Padaku?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan hanya Deris dan Abel yang terus bicara meskipun beberapa kali Dara menutup bibir Abel atau menaruh telunjuk di bibir memberi kode. Terkadang Abel mengangguk mengerti namun selebihnya layaknya seorang anak kecil seumuran nya jawaban yang ia berikan pada Deris lebih banyak jujur.


Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sekolah Abel dan perbicangan berhenti.


"Papay, Om." Abel melambaikan tangan mungilnya.


"Papay anak cantik."


Dara kembali ke mobil setelah mengantar ke kelas Abel, dengan menghela nafas sabar dia masuk kembali ke dalam mobil karena Deris cengengesan berdiri disamping mobil membuka pintu mobil.


Dara masuk segera duduk diikuti Deris yang ikut duduk di samping Dara.


"Ke Perusahaan Pramos, Pak." Ujar Deris pada sopir.


Mobil melaju membelah jalanan kota Jakarta yang terbilang selalu berada dalam kemacetan, Deris tak ingin menyembunyikan semua perasaan nya pada Dara dan segera berucap.


"Dara, kalau aku bilang aku masih cinta sama kamu... kamu percaya?"

__ADS_1


Tak ada respon dari Dara, wanita muda itu menoleh keluar jendela menatap mobil - mobil diluar.


"Kisahmu dan Alan sudah usai, bisakah kamu kembali padaku?"


"Aku hanya ingin fokus gede'in anakku, Der. Belum ada planning buat berhubungan lagi sama seseorang. Apalagi orang itu kamu, dari keluarga yang sudah nyakitin kakak aku," Dara menggeleng masih tak ingin berbalik menatap Deris di samping nya.


"Kalau begitu biarkan aku pendekatan padamu, jangan tolak aku kalau ingin bertemu. Ya?" pinta Deris.


"Entahlah..."


Mobil sampai di Perusahaan tempat Dara bekerja, Dara turun dari mobil Deris.


Deris menurunkan kaca mobil, kepalanya melongok dari dalam. "Dara, nanti aku telepon."


Dara mendengarnya tetapi wanita itu tak ingin berbalik dan terus berjalan masuk.


"Aku nggak akan menyerah, kamu tau sifatku Dara. Pak, ke Perusahaan WF." Deris ingin bicara dengan Alan, banyak hal yang ditutupi Dara darinya dan Alan lah jawaban dari semua pertanyaan - pertanyaan nya.

__ADS_1


Di dalam ruang kantor Divisi Pemasaran, Dara langsung mendekati Sabrina.


"Na, ayo bicara." Pinta Dara.


"Aku lagi nyiapin market size, Bos minta ini segera selesai." Tolak Sabrina.


"Na, pliss. Aku tau kamu kecewa sama aku, beri aku kesempatan buat jelasin yang sebenarnya sama kamu."


"Wih jadi bener Ra, mantan suami kamu sekarang kekasih sahabatmu. Dan kamu sekarang lagi dekat dengan Bos dari Perusahaan yang sedang kerjasama dengan Perusahaan kita, kabarnya semalam Bos Deris marah - marah karena cemburu lalu kamu pukul. Sayang... aku nggak ikut semalam, pasti seru lihat kemeriahan di club. Si janda bar - bar ternyata buat ulah lagi," Sindir Sisil si paling so cantik dan selalu iri pada Dara.


BRAKKK.


Dara menggebrak meja lalu berjalan mendekati meja Sisil. "Ya, Gue emang janda! Tapi mulut gue nggak pernah gue pake buat sirik, iri, benci apalagi gibahin orang lain! Urus aja urusan lo sendiri...! Paham!"


Tubuh Sisil bergerak ke belakang saat Dara mengintimidasi, namun bukan takut wanita itu malah tersenyum miring. "Cih! Janda gatal aja bangga! Udah berapa kali pria di perusahaan ini lo goda, tapi lo pura - pura jadi bar - bar sok nolak mereka semua. Heh! Mereka semua deketin lo... itu karena lo janda, mudah mereka permainkan! Mereka hanya tergoda sama tubuh lo bukan nya ingin berhubungan serius!"


Tangan Dara sudah terangkat ingin menampar wajah menyebalkan Sisil, namun ditahan oleh Sabrina. "Udah! Cukup! Ikut aku!"

__ADS_1


Sebagai sahabat meskipun Dara mengecewakan Sabrina, namun ia tak bisa membiarkan Dara terlibat dalam masalah. Pasalnya kabar sudah beredar Sisil adalah simpanan Bos besar pemilik Perusahaan tempat mereka bekerja, ia tak ingin Dara terkena masalah lalu dipecat.


__ADS_2