
Semua orang di dalam ruangan tak ada yang berani bernafas keras, melihat wajah Nyonya Tiara menggelap menyeramkan.
"Darwin, tanyakan identitas wanita tadi!" geram Nyonya Tiara.
Darwin menggeleng - geleng melihat kelakuan adiknya, apa adiknya itu membuat kenakalan lagi seperti saat duduk di bangku sekolah SMA yang selalu pulang ke rumah dengan wajah babak beluk. Kenapa setelah dewasa, adiknya masih belum berubah?! Pikir Darwin seraya menghela nafas pelan lalu mendekati polisi untuk menanyakan identitas wanita yang telah memukuli Deris.
"Saya minta identitas wanita itu?" pinta Darwin.
"Namanya Andara Anggraeni, beralamat di Jakarta selatan. Usia 23 tahun, staf di Perusahaan__"
"Tunggu! Tolong katakan lagi namanya, dan siapa yang menjadi wali dari keluarganya?" Darwin menghentikan ucapan Pakpol karena merasa mengenali nama itu mirip sekali dengan seseorang yang sudah meninggal dunia 5 tahun silam. Karena perkataan kejam nya untuk mengugurkan anak mereka, dia masih menyesalinya sampai saat ini. Nama yang sangat mirip wanita yang dicintainya, Andira Anggraeni. Bahkan nama lengkap nya saja ia masih mengingat dengan jelas, Dira bahkan bercerita tentang sang adik yang bernama Andara.
"Namanya Andara Anggraeni, disini dia tidak mempunyai kerabat dekat untuk menjadi wali. Semua keluarganya sudah tidak ada, nama wali nya dulu adalah Andira Anggraeni tapi disini ditulis sudah Alm." Jelas Pakpol yang bertugas meng-input data.
__ADS_1
"Astaga! Benar itu dia! Wanita tadi adalah adik Dira," Darwin mengusap wajah dengan sebelah tangan nya, tanpa bicara lebih dulu pada sang Ibu ia berlari keluar ingin mengejar adik dari Dira ingin meminta ampunan pada wanita itu karen dulu sudah menyakiti kakaknya.
"Darwin! Kamu mau kemana?!" panggil Nyonya Tiara.
Langkah Darwin tak berhenti saat Ibunya memanggil, dia terus berlari keluar namun Dara dan Deris sudah tidak ada disana.
Di lain tempat di dalam mobil yang berhenti Deris dan Dara saling tak bicara, si pria karena masih malu karena kelakuan nya barusan sedangkan si wanita sedang kebingungan harus menghadapi Deris.
"Kenapa kamu keluar rumah sakit? Lukamu akan terasa sakit, aku menghajar mu dengan keras," akhirnya Dara lah yang membuka mulutnya pertama kali.
"Sekarang kamu sudah melepaskan ku, ayo pergi ke rumah sakit. Bagaimana pun aku harus bertanggung jawab atas yang terjadi padamu. Bawa mobil ini ke rumah sakit, Pak." Ujar Dara pada sopir Deris.
"Dara aku baik-baik saja, aku__"
__ADS_1
"Nggak ada bantahan, cepat Pak!" Dara tak sadar ada nada kecemasan dalam suaranya.
Mobil akhirnya melaju kembali, menembus kegelapan malam menuju rumah sakit sebelum nya.
"Apa kamu sangat mencemaskan ku?" tanya Deris seraya tersenyum.
"Kau salah, aku hanya nggak ingin lukamu infeksi. Sayang wajah ganteng mu, nanti kamu nggak bisa married sama wanita pilihan Ibu dan Ayahmu yang super itu," ada nada sindiran dari suara Dara.
"Kamu sepertinya ngak menyukai kedua orang tuaku, kenapa? Apa barusan Ibuku melakukan sesuatu padamu? Iya?" heran Deris.
"Hanya ditampar satu kali nggak bakal kerasa sama pipi kerasku, tapi sikap sombong dan arogan Ibumu juga kedudukan tinggi Ayahmu membuatku tak suka," jujur Dara.
"Maaf karena tamparan Ibuku. Namun kenapa kamu bicara seperti itu tentang Ayah dan Ibuku? Dulu saat kita pacaran, kamu belum pernah bertemu dengan mereka dan saat itu hubungan kita... kedua orang tuaku nggak tau. Jadi darimana pemikiran mu datang? Kamu bahkan baru bertemu Ibuku sebentar tadi, apa kamu pernah bertemu Ibu atau Ayahku sebelumnya?" tanya Deris.
__ADS_1
Dara menghela nafas panjang, ia salah membahas kedua orang tua Deris. Ia sangat tau pasti, Deris adalah jenis orang yang jika sudah mempunyai pemikiran akan terus mencari jawaban. "Sudahlah, lupakan perkataan ku. Bisakah kita nggak bicara? Kepala ku masih pusing dengan situasi yang terjadi sejak di club tadi."
Akhirnya Deris diam, itu lah dia. Apapun yang Dara inginkan akan selalu ia turuti sejak mereka pacaran dulu.