
Tangan Deris dicekal oleh tangan Dara, mata wanita itu terbuka menatap tak percaya ada orang yang berani menyusup ke kamarnya apalagi si penyusup adalah pria yang tadi tubuhnya bertabrakan dengan nya. "Sebenarnya siapa kamu dan apa mau mu?!"
"Ups! Ketahuan!" Deris malah nyengir ala dirinya.
Dara mendorong tubuh Deris dengan kuat, "Menjauh!"
Deris memundurkan tubuhnya dengan kedua tangan diangkat ke atas, sudah seperti seorang penjahat yang menyerah karena ditodong pistol.
Dara berjalan ke arah tombol lampu, suasana gelap kamar berubah terang.
"Kenapa kamu menyusup ke dalam kamarku?!"
"Dar-- eh... Dira. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Bagaimana ini, aku tak bisa tidur terus memikirkan pertemuan kita tadi," bohong Deris lancar.
"Apa?! Kau gila! Kamu nggak dengar aku katakan sudah punya tunangan! See!" sekali lagi Dara memperlihatkan cincin di jarinya.
"Cincin cuma sebuah simbol! Ngga ada arti apapun..." Deris mulai maju mendekat, namun ia bersiaga menjaga tubuhnya dari pukulan tak terduga Dara.
Huff!
Deris menahan serangan kaki Dara yang akan menendang pada kakinya, ia sudah mengenal gerakan - gerakan Dara yang akan menerjang ke bagian mana.
__ADS_1
Sial! Kenapa nih cowok bisa tau gerakanku!
"Apa kita pernah bertemu atau kenal?" tanya Dara akhirnya.
"Jika aku katakan kita bukan hanya kenal tapi sangat dekat, kamu pasti tidak bisa mengingatku bukan?"
"Kita dekat? Siapa namamu tadi, Deris... Deris..."
"Dara, gue serius. Gue udah kenyang loe bikin babak belur, sekarang gue lapar ingin dicintai loe. Dara Anggraeni... gue Deris Sagantara CINTA sama loe!!!"
Kilasan itu menyerbu ingatan Dara, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Tubuh Dara limbung, pandangan matanya berputar, "Arghht!"
"Dara!" Deris memegangi tubuh Dara yang akan terjatuh.
"Mama! Abel mau pulang!" anak kecil itu ditarik paksa oleh seseorang.
"A...pa... ingatan... ini...arghhh..."
"Bunuh saja wanita tak tau diri itu!"
"Ahhhh... Ab..." Dara akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Dara! Bagaimana ini?!" Deris memangku tubuh terkulai Dara ingin membaringkan di ranjang tapi ia cepat mendapatkan ide berlari membuka pintu kamar masih dengan memangku Dara lalu keluar dari kamar menuju rumah sakit. Sebaiknya ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Rocky dan harus memeriksa sendiri kebenaran tentang kesehatan otak dan mental Dara.
Di dalam taksi Deris menanyakan rumah sakit paling besar di Bali pada supir dan segera kesana. Setelah Dara masuk ruang ke perawatan, ketiga laki-laki itu datang setelah Deris menelepon.
"Kami datang! Gimana keadaan Dara?" tanya Darwin membuka pintu rawat.
"Apa kata Dokter?" cemas Alan.
"Apa kamu beneran menyusup ke kamar Dara?" Kamu menggila lagi, Der!" Dimas geleng - geleng.
Pertanyaan - pertanyaan dari mereka bertiga membuat Deris ingin menutup mulut mereka dengan sepatunya. "Berisik! Satu - satu nanya nya!"
"Oke, jadi Dara udah diperiksa?" bisik Alan seraya melirik ke arah ranjang dimana Dara terbaring tertutup selimut.
"Tinggal rontgen, tunggu Dokter spesialis neurologi selesai operasi."
"Aku harap keadaan Dara nggak separah yang dikatakan Rocky, jujur aku nggak percaya sama sekali pada tuh orang." Ujar Darwin.
"Aku juga nggak percaya. Mungkin kalau masalah cinta, tuh cowok beneran cinta sama Dara. Tapi aku sangsi kalau yang dikatakan tentang keadaan Dara adalah yang sebenarnya."
"Makanya aku ingin check langsung pada Dokter spesialis." Deris menggenggam tangan Dara mengecup tangan wanita yang teramat dirindukan nya.
__ADS_1
Tiba - tiba bulu mata Dara bergerak, dengan perlahan sepasang matanya terbuka dan menatap dengan pandangan nanar pada Deris.