Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 29 Calon Papa.


__ADS_3

Tak jauh diluar rumah sejak Deris datang ke rumah Dara seseorang mengawasi di dalam sebuah mobil, dia masih menunggu sampai malam.


"Mau sampai kapan Bang Deris di dalam? Ini sudah malam," Feli sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah dan melabrak wanita yang tadi turun dari motor, apalagi ia mengenali wanita itu adalah yang sempat berpapasan di restoran dengan nya.


Tok.


Tok.


Seseorang mengetuk kaca jendela mobil, Feli menoleh pada orang diluar mobil. Orang itu memberi kode pada Feli untuk membuka jendela, ia pun menurunkan jendela nya.


"Ya, Pak?"


"Saya Hansip, Bu. Maaf sejak tadi saya perhatikan mobil Anda berada disini, tapi Ibu tidak keluar dari mobil. Apa Ibu bukan orang sini, apa tersesat?" tanya Pak Hansip.


"Maaf, Pak. Tadi saya ingin jemput teman tapi teman saya membatalkan janji, saya baru akan pergi."


"Jadi begitu," Pak Hansip mengangguk - anggukkan kepala tapi wajahnya masih belum percaya pasalnya sekarang sedang marak penculikan anak.


"Iya, Pak. Ah, ini buat rokok sama kopi Bapak." Feli membuka dompet mengambil selembar uang merah menyodorkan pada Pak Hansip.


Wajah Pak Hansip seketika berbinar, "Terima kasih, Bu. Saya pergi."


Feli memutar bola matanya kesal, dengan uang segitu saja sudah bisa aman. Ia menaikkan kembali kaca mobil, tak lama menunggu sebuah mobil datang.

__ADS_1


"Mobil Deris," gumam Feli.


***


Deris keluar dari gerbang dengan menggendong Abel di punggungnya, ikut tertawa saat Abel tertawa senang.


"Om pulang dulu ya," pamit Deris seraya menurunkan Abel dari gendongan nya.


"Hati-hati di jalan Om," Abel mengecup pipi Deris.


"Uchh, gemesin." Deris balas mengecup pipi tembem Abel.


Deris menegakkan tubuhnya maju mendekat ingin mengecup pipi Dara, tapi bibirnya yang sudah monyong ditahan telapak tangan Dara. "Ish!"


Lelaki berhidung mancung itu berwajah sok sedih, "Dasar pelit!"


"Udah sana pulang," cebik Dara, wanita itu melihat Pak Hansip mendekat. "Malam...Pak," sapa Dara.


"Malam Nyonya Dara, ini pacarnya ya," ujar Pak Hansip seraya bercanda.


"Pak Hansip, ini calon Papa Abel loh," celetuk gadis kecil berusia lima tahun itu seraya memeluk kaki Deris karena tubuh Abel yang masih pendek, kepala gadis kecil itu mendongak. "Iya kan, Om?"


Deris tertawa, "Iya, Om calon Papa Abel." Deris nyengir menatap wajah Dara yang memerah entah karena marah atau malu.

__ADS_1


"Wah, saya ikut senang. Tapi kalau ngapel jangan malam - malam ya pulang nya, nanti digerebek warga," Pak Hansip mengingatkan seraya nyengir.


"Iya, Pak." Jawab Deris lalu menarik dompet dari saku belakang celananya dan mengambil 2 lembar uang berwarna merah. "Untuk beli rokok, Pak."


"Aduh, rezeki nomplok malam ini. Makasih, Tuan." Pak Hansip lalu ngeloyor pergi sambil tersenyum - senyum karena mendapatkan dobel rezeki.


"Aku pulang, ya. Besok biar aku yang jemput Abel di sekolah nya, aku Bos perusahaan jadi bebas mau keluar kapan aja." Ujar Deris.


"Hm," Dara hanya mengangguk, lagipula dia sudah sepakat menyetujui Deris merawat Abel sebagai Paman.


"Boleh aku bawa Abel ke Perusahaan? Abel mau ikut Om melihat kantor kerja Om nggak?"


"Engga boleh." Dara.


"Mau." Abel.


Dara dan Abel menjawab berbarengan, Deris memang sengaja meminta ijin di depan Abel biar Dara gak berkutik.


"Ekhm, oke. Besok sepulang sekolah, Om jemput terus kita main ke Perusahaan Om. Sekarang Om pamit...."


Supir sudah membuka pintu mobil, Deris naik ke jok belakang. Setelah supir menutup pintu mobil, supir segera masuk dan duduk di depan kemudi.


Deris menurunkan jendela mobil, "Papay kesayangan Om, Papay cinta." Jahil Deris mengedip ke arah Dara.

__ADS_1


Setelah mobil Deris pergi, mobil hitam yang dikendarai Feli pun ikut pergi. Sengaja mengebut saat melewati Dara yang masih berdiri diluar gerbang yang masih memperhatikan belakang mobil Deris, Abel yang terkejut seketika memeluk kaki Dara.


"Apa-apa itu?! Kenapa ada yang berani ngebut di dalam kompleks?" Dara menatap plat nomor dan mengingatnya.


__ADS_2