
"Kita pulang sekarang!"
"Nggak! Aku belum bertemu Luna-ku!"
"Ini hari ketiga kita mengelilingi hutan dan hasilnya nol, lebih baik kita pulang," tekan Orlando dengan berjalan kembali ke arah kastil.
"Aku mencium aromanya! Aku menciumnya Orlando!"
"Aku tidak mau pulang!"
"Siapa peduli!"
Tanpa memperdulikan omongan wolf-nya Orlando terus berjalan.
"Lebih baik aku saja, Orlando," ucap Maks dengan nada deep-nya.
Sedetik setelah maks berucap demikian, jerit kesakitan keluar dari bibir Orlando.
"Akh!!!!"
"Aku yang mengatur, Orlando," ucap Maks ketika berhasil menguasai raga Orlando.
"Kita sudah dekat, Luna."
Maks mengendus aroma Luna-nya beberapa kali untuk memastikan langkah kakinya nanti.
Setelah memastikan arah mana yang akan diambil Maks, kakinya mulai melangkah.
Hari mulai sore dan maks masih terus berjalan dengan sesekali mengendus apakah aroma Luna-nya masih tercium.
*****
"Ini sebenarnya di mana?" tanya Jasmine di perjalanan mereka.
"Apa ini jauh dari kota ku?," tanyanya lagi.
"Lumayan," jawab None.
__ADS_1
"Lumayan apa? Lumayan jauh? Atau lumayan dekat?"
"Ya, intinya lumayan," jawab None.
"Ah, aku melupakan satu fakta kalau kamu menyebalkan," ucap Jasmine.
Sudah menjadi hal biasa bagi Permiro kalau None dan Jasmine selalu berdebat mengenai hal-hal tidak penting.
"Kalian jangan berdebat terus, langit mulai petang," sela Permiro.
"Di sini pasti akan gelap," ucap Jasmine seraya memundurkan tubuhnya menyamakan langkahnya dengan Permiro.
"Kau takut?" tanya None dengan nada ejeknya.
"Kata siapa?" jawab Jasmine menantang.
Tiba-tiba....
"Ah, apa ini!?" teriak Jasmine ketika merasa ada sesuatu sedikit kasar menyentuh kakinya.
Jasmine memepetkan tubuhnya ke arah Permiro dan merangkulkan kedua tangannya ke tangan kiri Permiro.
None yang mendengar jeritan Jasmine tertawa terbahak-bahak sebelum melihat raut Jasmine yang sangat kentara sedang ketakutan.
Permiro menekuk kakinya memposisikan dirinya untuk berjongkok di tanah melihat ada apa dengan kaki Jasmine. Sebelumnya, melepas rangkulan tangan Jasmine pelan.
"Itu hanya landak yang lewat," ucap None ketika melihat hewan berduri itu berjalan beberapa langkah dari posisi mereka.
"Huh, untung saja," ucap Jasmine lega.
Permiro berdiri setelah memastikan kaki Jasmine baik-baik saja.
*****
"Itu Luna-ku?" tanya Maks pada dirinya sendiri.
Dari tempat Maks berdiri, terlihat seorang perempuan yang sedang berjongkok dengan rambut cukup panjang yang hampir menyentuh tanah dengan aroma yang sangat kuat.
__ADS_1
Maks berjalan perlahan mendekati perempuan itu.
"Hey!" panggil Orlando.
Ya, Orlando kembali setelah Maks mengisi raganya beberapa saat. Orlando merasa senang akhirnya mate-nya datang. Posisi Luna akan segera terisi.
Perempuan berambut panjang itu berdiri dan berbalik. Sebelumnya, dapat Orlando lihat bahwa perempuan itu sedang mengusap-usap hewan yang berukuran sedang yang menurut Orlando seperti landak.
"Ya?"
Suara merdu terdengar di telinga Orlando. Suara itu memang merdu dan sedikit menggoda.
"Maks kau di mana?" batin Orlando berucap berusaha berkomunikasi dengan Maks tanpa suara langsung.
"Ada apa?" tanya perempuan itu lagi.
"Aku Orlando, siapa namamu?" Pertanyaan klasik keluar dari bibir Orlando dengan menyodorkan tangannya.
Perempuan itu mengangkat salah satu alisnya heran sebelum akhirnya menyambut tangan Orlando.
"Aku Olive, Olive Twerkuns," ucap perempuan bernama Olive.
"Kamu Luna-ku?" tanya Orlando langsung setelah jabat tangan itu terlepas membuat mata Olive hampir melotot.
"Luna?" tanya Olive bingung.
"Ya, kamu Luna-ku? Mate yang di kirim Moon Goddess dan akan menjadi Luna-ku," papar Orlando.
"Ah, ternyata secepat ini?" ucap Olive membuat Orlando mengernyitkan dahinya.
"Aku di beritahu oleh Moon Goddess bahwa aku akan segera menemukan pasanganku, dan ternyata...."
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍