
Malam ini di apartment Fanny hanya terdengar dentingan alat makan yang beradu. Sedangkan, kedua manusia yang ada di sana hanya diam dan memakan makanan mereka dengan khusyuk.
Ting
Layar ponsel Austin menyala dan tertampil ada pesan baru yang masuk.
Austin menghela napas kasar hingga mampu merebut atensi Fanny.
"Kenapa, kak?"
"Aku keluar sebentar ya, kamu lanjutkan makannya dan kalau sudah langsung tidur, oke?"
"Em... baiklah tidak apa-apa," ucap Fanny sedikit ragu. Walau dalam hatinya kini dirinya sedang berteriak senang karena bisa terlepas dari orang yang suka melarangnya itu.
"Langsung tidur jangan begadang!" tekan Austin lagi ketika kembali ke meja makan setelah selesai bersiap.
"Tentu."
Austin pergi setelah memberi kecupan singkat di dahi Fanny. Fanny berusaha tetap tersenyum dan menerima hal itu walaupun tangannya ingin sekali bertemu dengan rahang tegas Austin.
"Yes! Senangnya akhirnya bisa bebas! Wuhu!!!!" girang Fanny setelah terdengar pintu kembali tertutup.
Fanny bergerak cepat membersi meja makan dan masuk kedalam kamarnya.
Selangkah dirinya memasuki kamarnya nanyang tentang Jasmine yang suka menginap di sini bermunculan membuat mata Fanny perlahan berkaca-kaca.
"It's okay, Fanny. Kita akan segera bertemu dengan Jasmine," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Fanny melangkah menuju balkon dengan selimut yang ada di dekapannya.
"*Bintangnya sangat banyak, Fanny!"
"Ah, kamarmu adalah impianku!" lanjut Jasmine.
"Impianmu? Why? Bahkan kamarmu lebih bagus dari kamarku," heran Fanny.
"Tapi, kamarmu ada balkonnya sedangkan kamarku tidak*."
"Aish! Jangan nangis Fanny!" marahnya pada dirin sendiri lagi.
Fanny akhirnya memilih beranjak dari balkon dan menuju meja belajar di mana laptopnya berada.
Fanny membuka salah satu web yang di mana banyak cerita novel yang telah di simpannya di dalam perpustakaan onlinenya.
Banyak kalimat sudah terbaca oleh Fanny.
"Apa aku harus pergi ke sana?"
"Tapi apakah aku bisa?"
Otak Fanny merangkai rencana untuk pergi ke tempat itu lagi dan memasuki dimensi itu, namun otaknya juga membuat keraguan untuk Fanny.
__ADS_1
Lama Fanny berpikir hingga sebuah bunyi pintu terbuka membuatnya tersentak kaget dan berlari menuju tempat tidur lalu menutup kedua matanya.
Austin, dia yang membuka pintu itu dan kini dia telah masuk kedalam kamar Fanny.
Austin mendekati Fanny yang terlelap.
"Jangan membohongiku, Fanny," bisik Austin di telinga Fanny.
Austin tahu kalau Fanny sedang berusaha menipunya, tapi sayang Austin dapat membaca hak itu karena mata Fanny yang mengerjap pelan karena lampu yang menyala terang.
"Tidak ingin bangun?"
"Hari ini aku memaafkanmu, tapi tidak untuk lain kali," putus Austin.
Austin beranjak menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"Jasmine... dia memiliki banyak rahasia di hidupnya dan dia belum mengetahui hal itu," gumam Austin di bawah guyuran air shower yang Austin harapkan mampu mendingin kepalanya.
Sedangkan, Fanny kini berusaha agar dirinya dapat tertidur setelah Austin memergokinya kalau dia berpura-pura.
Fanny tidak bisa tidur, dia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi nyamannya. Namun, tak kunjung menemukannya hingga sebuah pelukan di pinggangnya membuat dirinya rileks dan tertidur.
"Sweet dreams," bisik Austin.
Keduanya menyelami alam mimpi tanpa tahu bahwa hal yang akan membuat keributan di antara keduanya akan terjadi besok pagi.
*****
"Kak, One kenapa?" tanya Jasmine resah.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, berikan dia waktu istirahat, oke?"
Jasmine menurut, rasa sesal muncul di hatinya. Bukankah ini semua karena dirinya? Di sini Jasmine merasa sangat menyusahkan keduanya dan itu membuat rasa bersalah semakin membesar di rongga dadanya.
*****
Mentari telah bersinar menemani mereka yang bersiap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melakukan pekerjaan masing-masing.
"Eungh," lenguh Fanny dengan membalikkan badan hingga kini wajahnya berhadapan dengan dada bidang seseorang.
Fanny hampir akan mendorong orang itu sebelum bisikan dengan suara yang dikenalinya terdengar.
"Good morning."
Fanny mendongak lalu tak lama menurunkan kembali pandangannya.
"Bisa lepaskan aku?" bisiknya meminta.
Austin mengangguk lalu melepas rengkuhan itu.
"Besok kalau di kasih tahu nurut, ya? Jangan membantah!"
__ADS_1
Fanny mengangguk kaku mendengar nada peringatan itu.
"Sekarang kamu mandi, aku ke bawah," pamit Austin.
"Sial! Kenapa sih harus takut sama dia!?" kesal Fanny dan mengacak-acak rambutnya.
Fanny beranjak menuju kamar mandi dan sebelumnya dia memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas ranselnya.
Fanny telah selesai dengan acara mandinya dan ketika dia keluar dari kamar mandi Fanny menemukan Austin yang berdiri dengan baju yang telah disiapkannya Yadi berserakan di sekitar kaki laki-laki itu.
"Apa maksud dari semua ini, Fanny?"
"Kamu berniat pergi tanpa ijin dari ku?"
Pertanyaan dengan nada mencekam tertangkap indera pendengar Fanny.
"Oh soal itu...." Fanny berusaha tenang walau jantungnya bertalu-talu.
"Aku berniat kembali ke sana dan mencarinya."
Brak
Suara pukulan keras dari kepalan tangan Austin yang diarahkan ke almari di dekatnya berhasil membuat Fanny tersentak mundur.
Mata Austin berkilat marah.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Austin berujar dengan kaki yang mulai dilangkahkan mendekati Fanny.
"Aku tidak pernah mengijinkanmu pergi keluar dari apartment ini tanpa seijinku!" tekan Austin.
Austin berdiri menjulang di depan Fanny dengan salah satu tangannya yang merengkuh pinggang Fanny erat.
"Aku ingin pergi, kak! Aku ingin mencari Jasmine!"
"Aw," jerit Fanny tertahan.
Rengkuhan itu semakin erat menyebabkan tubuh mereka hampir menempel apabila Fanny tidak menahan dada Austin untuk memberi jarak.
"Ada hal yang tidak harus kamu ketahui, Fanny," bisik Austin.
"Tetap di sini dan jangan coba-coba untuk keluar dari apartment."
Austin melepas rengkuhan itu dan berlalu keluar.
Fanny melemas ketika bunyi pintu yang dikunci oleh Austin.
Di luar Austin mendudukkan dirinya di sofa depan televisi.
TBC
Note :
__ADS_1
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍