JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
33. ALTEREGO?


__ADS_3

Kedatangan Orlando dengan Jasmine yang berada di gendongan nya membuat Matthew yang sedang menunggu kedatangan mereka berdiri dan mendekat.


Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada cucu satu-satunya itu.


"Ada apa dengannya?"


"Hanya ketiduran."


Orlando tidak berniat berhenti dan tetap berjalan lurus menuju kamar Jasmine.


"Tidak perlu mengganti bajunya," ujar Matthew tiba-tiba di depan pintu kamar Jasmine.


Matthew menyusul Orlando untuk memastikan bahwa cucunya aman-aman saja.


Orlando yang baru saja membaringkan tubuh Jasmine diatas ranjang terhenti.


"Kenapa tidak?" tanyanya yang kini menatap Matthew.


"Lebih baik kau keluar dan biarkan maid yang menggantikan bajunya," suruh Matthew.


"Saya bisa melakukannya sendiri," tolaknya.


Perlukah Orlando bercerita bahwa dia sudah pernah menggantikan baju Jasmine di awal pertemuan mereka?


"Lebih baik maid yang menggantikannya, tidak perlu membantah Orlando. Kau tidak akan kehilangannya!"


Orlando membenarkan kalimat bahwa dia tidak akan kehilangan Jasmine dan sepertinya dia akan menyetujui titah pria tua itu untuk membiarkan Jasmine di urus maid.


Orlando mengangguk dan Matthew yang melihat itu lantas meminta maid untuk menggantikan baju Jasmine. Orlando keluar dan sebelumnya memberikan tatapan ancaman pada maid yang masuk.


Orlando pergi ke kamarnya dan berniat untuk membersihkan diri. Kamarnya terletak didepan kamar Jasmine, tentu saja semua atas permintaannya.


"Biarkan aku menemuinya," pinta Maks.


Tadi siang ketika Orlando menahan rasa sakit itu disebabkan oleh Maks yang akan muncul namun ditahan oleh Orlando.


Saat ini ketika Maks meminta Orlando ingin menolak, tapi dia juga kasihan dengan wolf-nya itu. Pertemuannya dengan Jasmine juga atas campur tangan Maks.


Setelah berpikir akhirnya mereka bertukar posisi, mata itu akan berkilat kuning keemasan ketika wolf menguasai raga manusia.


Maks keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruangan lain yang berada di lantai bawah. Tanpa mengetuk pintu Maks langsung masuk dan mengejutkan seseorang yang berada di dalam.


"Matthew," panggilnya.


Orang itu adalah Matthew menatap ke seseorang yang sudah berdiri didepannya dengan batas meja. Matthew berdiri.

__ADS_1


"Kau?" ucapnya dengan menunjuk.


"Ya."


"Tidak perlu tegang, Matthew. Kau bisa duduk dan kita hanya perlu berbicara dengan santai," lanjut Maks.


Matthew tahu akan kemana arah pembicaraan mereka akhirnya duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


"Apakah dia tau, siapa dirinya sebenarnya?" tanya Maks begitu mereka duduk.


"Kenapa kau diam saja?"


"Kau tidak pernah mencoba menjelaskan siapa dirinya sebenarnya?"


Matthew masih setia membungkam bibirnya.


"Matthew?" panggil Maks penuh peringatan.


"Aku belum memberitahunya."


"Itu bukan hal yang mudah dipahami oleh orang awam, Maks," lanjut Matthew.


"Dia bukan orang awam!"


Maks berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke dinding kaca yang menampilkan halaman luar rumah ini.


"Apakah harus aku yang memberitahunya langsung?" tanyanya dan kini menatap Matthew yang menegang ditempat duduknya.


Matthew berdiri dari duduknya setelah keterdiamannya beberapa saat.


"Jangan egois, Maks!"


"Itu mungkin sesuatu istimewa bagi kita tapi belum tentu istimewa bagi dia!"


"Baiklah, hentikan pembahasan ini," putus Maks.


"Bagaimana kalau aku membawanya pergi menuju tempat yang seharusnya?"


Belum juga Matthew menjawab suara ketukan pintu yang cukup keras mengalihkan perhatian mereka.


Pintu di buka oleh Matthew dan menampilkan asisten pribadinya, Jo.


"Ada apa Jo?"


"Nona muda-."

__ADS_1


Belum juga selesai ucapan Jo, Maks sudah berlari menabrak bahu Jo yang menghalangi jalannya.


"Kalian pergi!" titahnya ketika sampai di kamar Jasmine.


Para maid yang tadi berusaha membangunkan Jasmine pergi meninggalkan Jasmine dan Maks diruangan itu.


Maks berusaha membangunkan Jasmine agar keluar dari lingkar mimpinya.


"Kamu bermimpi sesuatu?" tanya Maks ketika Jasmine sudah tersadar dan kebingungan.


"Hera?" Jawaban Jasmine berhasil membuat Maks kaget.


Maks diam begitupun Jasmine. Sedangkan, tanpa mereka ketahui ada seseorang dibalik balkon kamar Jasmine.


"Mau minum?" tawar Maks.


Jasmine hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Keduanya kini duduk dengan jamsine yang menyandarkan kepalanya didada Maks. Tentu saja dengan ke-otoriteran Maks.


"Mau tau sesuatu?"


Jasmine tidak menjawab, melainkan mendongakkan kepalanya menatap wajah Orlando dari bawah.


"Aku bukan Orlando."


"Maksudnya?" tanya Jasmine tak paham.


"Kamu alterego-nya Orlan?"


"No, I'm Maks."


"Maks?" Jasmine kembali menatap ke depan.


"Kalau kamu bukan alterego-nya Orlan, lalu kamu siapa?"


"Kamu akan tahu secepatnya, sekarang tidur lagi. Aku akan pergi."


Maks turun dari tempat tidur Jasmine dan menutupi tubuh Jasmine dengan selimut tebal.


Satu ciuman dibubuhkan di bibir Jasmine dan mengusap dahi Jasmine sebentar kemudian pergi.


TBC


Note :

__ADS_1


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍


__ADS_2