JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
39. KUTUKAN?


__ADS_3

Hingga pagi tiba Matthew belum juga mendapatkan kabar baik untuk keberadaan Jasmine. Orang yang diminta untuk melacak keberadaan Jasmine hanya menemukan keberadaan Jasmine yang turun dari mobil dan memasuki coffee shop setelah itu cctv tiba-tiba rusak.


"Matthew," panggil seseorang seenaknya.


Laki-laki jangkung memasuki rumah Matthew dengan kesopanan yang sudah tercecer di jalanan. Matthew yang sedang duduk di sofa hanya diam tak memperdulikan keberadaan tamunya.


"Mau apalagi?"


"Aku dengar Jasmine hilang, itu benar?" Matthew mengangguk.


Leher Matthew tercekik ketika laki-laki itu mencengkram kerah bajunya dengan erat dan dengan segera para pengawal yang mengelilinginya mengangkat revolver yang diacungkan pada laki-laki itu.


"Kau tidak becus!"


"Or-orlan… aku ti-tidak tahu kalau itu akan terjadi," ujar Matthew pada laki-laki itu, Orlando.


"Satu hari saya tinggal dan Jasmine menghilang," geramnya dan melepas cengkraman itu.


"Ketika Jasmine ditemukan saat itu juga aku akan membawanya pergi!"


Orlando pergi tanpa menunggu jawaban dari Matthew. Ketika mobil Orlando keluar dari gerabng rumah itu matanya menangkap seorang perempuan dengan pakaian yang sudah lusuh.


"Jasmine!" teriaknya dan berlari mendekati Jasmine.


Orlando langsung memeluk Jasmine.


"Hei?" panggilnya.


"Kenapa?" tanyanya khawatir.


"Ini kenapa?" tanyanya lagi ketika matanya menangkap cap tangan di pipi Jasmine.

__ADS_1


"Aku anak kutukan?" lirih Jasmine.


Orlando mengeratkan pelukannya.


"Siapa yang bilang?"


Jasmine hanya diam menatap kosong. Dia teringat dengan ucapan laki-laki yang menculiknya.


"Kita pulang, ya?"


Walaupun Jasmine tidak menjawab, Orlando langsung menggiring Jasmine untuk memasuki mobilnya. Pulang yang dimaksud adalah pulang ke apartment miliknya bukan kediaman Matthew dan bukan juga kastil miliknya, karena ini belum saatnya.


Orlando mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan orang lain dan menerobos lampu lalu lintas yang bahkan satu detik lagi akan menunjukkan warna merah.


Orlando sampai di basement apartmentnya dan menggendong Jasmine ala bridal style untuk memasuki lift dan menuju kamarnya.


Mendudukkan Jasmine di sofa ruang tamu dan meninggalkannya sebentar untuk mengambil air.


"Mau cerita?"


"Mau istirahat," tolak Jasmine.


Orlando menurutinya dan membantu Jasmine berjalan menuju kamarnya yang beberapa hari yang laku juga digunakan oleh Jasmine. Setidaknya keadaan Jasmine lebih baik.


"Bajunya lepas dulu, ganti." Orlando memberikan kemeja miliknya yang diambilnya dari lemari yang cukup untuk menutupi hingga setengah paha Jasmine.


Membantu Jasmine melepas atasannya dengan menahan napas. Tidak, ini bukan waktu yang tepat, ujarnya dalam hati. Hanya atasan yang dilepas dan untuk bawahan biarkan saja.


"Kamu istirahat, kalau perlu apa-apa panggil aku."


Orlando keluar setelah memastikan Jasmine tertidur.

__ADS_1


"Siapapun dia, akan mendapat ganjarannya!"


*****


Sedangkan disalah satu kamar di sebuah hotel yang dekat dengan tempat hiburan malam, seorang perempuan meringkuk di sudut tempat tidur dengan tubuh yang tertutup oleh selimut.


Laki-laki di sana mulai mengerjapkan matanya dan menatap sekitar.


"Ah!! None sialan!"


"Pusing!!!"


Dengan mata kabur laki-laki yang hampir sepanjang hidupnya bersama None menangkap keberadaan perempuan itu. Dia Permiro.


"Kau siapa?" tanya dengan tangan yang masih memegangi kepalanya.


Sial! Buram!, kesalnya dalam hati.


Permiro berdiri dan mendekati perempuan itu sebelumnya memakai celana pendek yang didapatnya dari lantai.


"Kau siapa?" tanyanya lagi dengan tangan yang berusaha mengangkat wajah itu.


Perempuan itu berusaha mengelak dan semakin menenggelamkan kepalanya pada selimut yang membalut tubuhnya.


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalianšŸ‘

__ADS_1


__ADS_2