
Olive dan Orlando berbincang-bincang sebelum akhirnya Orlando mengajak Olive untuk pergi ke kastil miliknya.
"Ayo, kita ke kastil ku," ajak Orlando.
"Em... bisa kita menginap di sini sebentar?"
"Di sini? Di mana?"
"Di tempat tinggalku," ucap Olive dengan menunjuk arah belakang tubuh Orlando.
Orlando menatap ke arah belakang tubuhnya dan mengangkat alisnya heran lalu berkata, "Gua?"
Olive mengangguk dan berkata, "Iya... kamu nggak mau?"
"Ya, tentu saja boleh."
"Ayo!" ajak Olive.
Keduanya berjalan menuju gua gelap itu dengan Olive yang memimpin.
"Di sini sendirian?" tanya Orlando menatap sekitar yang sepi.
"Iya, tapi aku sudah terbiasa jadi bukan masalah buat aku."
Gua gelap itu hanya di terangi dua buah obor di sisi kanan dan kirinya.
Orlando dan Olive berbincang-bincang dengan keduanya yang duduk di atas batu besar dan tak lama Olive pamit ke belakang.
"Maks!" panggil batin Orlando.
"Sial! Di mana kau Maks!?"
Malam mulai larut dan entah kenapa mata Orlando mulai memberat dan tertidur.
Olive kembali dan melihat Orlando yang tertidur.
"Ah, dia sudah tidur," gumam Olive lalu memperbaiki posisi tidur Orlando.
*****
"Kau berhasil?" ucap orang dengan pakaian tertutup yang tidak dapat di kenali.
"Ya, tentu saja. Itu perkara yang mudah," jawab orang di hadapannya.
__ADS_1
"Kau harus berhasil atau hal buruk akan menimpa kita," tekan orang berpakaian tertutup itu.
"Ya... baiklah, kalau begitu aku harus kembali."
"Ya." Orang berjubah itu lalu pergi dengan cepat.
*****
Fajar menyingsing menerangi separuh wilayah bumi. Kicauan burung terdengar menjadi melodi merdu di pagi hari.
"Kamu sudah bangun?" tanya Olive melihat Orlando yang mengerjapkan matanya.
"Mau minum? Aku tadi membuat ramuan yang bagus untuk diminum di pagi hari," tawar Olive sembari menaruh kendi dan gelas tanah liat di atas batu.
"Boleh," jawab Orlando yang telah mendudukkan dirinya.
Olive memberikan segelas ramuan yang di buatnya kepada Orlando.
"Kita ke kastil sekarang?" tanya Orlando.
"Semua orang pasti sudah menunggu kedatangan Luna mereka," lanjutnya.
"Baiklah," jawab Olive.
Keduanya telah sampai di gerbang besar yang apabila terbuka akan memperlihatkan sebuah kastil besar yang tinggi menjulang.
Selamat datang, Luna Olive.
Teriakan ucapan selamat datang keluar dari semua bibir di sana dengan bunga-bunga yang bertaburan.
Olive tersenyum mendapat penyambutan yang sangat istimewa ini.
"Kamu suka?" tanya Orlando berbisik.
"Ya... ini mengagumkan," jawab Olive.
Dari kejauhan terlihat ibu Orlando dengan Zweit dan Dritt di kedua sisinya serta Credere.
"Akhirnya, *A*lpha kita menemukan Luna-nya," ucap ibu Orlando, Elen Clodoveo dengan bangga.
"Hormat saya," ucap Olive dengan melakukan curtsy.
Elen memegang kedua bahu Olive agar Olive kembali ke posisi sebelumnya.
__ADS_1
"Ibunda," panggil Orlando yang membuat Elen mengalihkan perhatiannya.
"Aku berhasil!" ujar Orlando senang.
"Ya, kamu berhasil," ucap Elen dengan menepuk bahu Orlando bangga.
"Selamat datang, Luna Olive," ucap Zweit dan Dritt serta Credere bersamaan.
"Terima kasih."
"Kita masuk sekarang," ajak Orlando.
Mereka memasuki kastil sesuai ajakan Orlando.
"Kamu, tolong antar Luna Olive ke kamarnya," pinta Orlando pada salah satu pelayan di sana.
Pelayan itu mendekat lalu berkata, "Mari, Luna."
Olive pergi mengikuti pelayan itu sedangkan Orlando beserta yang lain berkumpul di salah satu ruangan di sana.
"Kapan upacara peresmian di lakukan? Dan pemberian gelar Luna resmi di berikan?" tanya Elen.
"Secepatnya, Ibunda. Namun, tidak dalam waktu dekat," ujar Orlando.
"Kenapa tidak dalam waktu dekat?"
"Ada hal yang haru aku selesaikan, Bunda."
"Baiklah, Bunda ikut apa katamu saja."
"Dia sangat cantik, Alpha," ujar Zweit dengan nada jenaka-nya.
"Ya, aku tahu. Jaga matamu Zweit kalau kau tidak ingin mata itu lepas dari tempatnya!"
"Maaf, Alpha," ujar Zwer dengan nada jenaka yang sedikit kentara.
"Bagaimana Alpha menemukannya? Dia sangat cantik, siapa tahu saya bisa menemukannya di tempat yang sama," tanya Dritt.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍