JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
49. YEAH, IT'S ME


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Orlando dan Jasmine telah berhenti di pekarangan rumah Fanny. Semuanya lancar tidak ada lagi yang mengikuti mereka sejak kejadian tadi, tapi itu semakin membuat kewaspadaan Orlando meningkat.


"Kita tidak membawa buah tangan?" tanya Orlando.


"Astaga! Aku lupa… kita pergi dulu cari buah."


"Tidak perlu, aku akan meminta Jo membawakannya kemari."


Orlando mengambil ponselnya dan menghubungi Jo. Mereka menunggu kedatangan Jo di dalam mobil. Seorang laki-laki tiba-tiba keluar dari rumah Fanny dengan menggendong seorang perempuan.


"Austin? Kenapa dia di sini? Dan siapa perempuan itu? Kenapa terlihat buru-buru?" gumam Jasmine.


Tok, tok, tok


Kaca mobil diketuk dan ternyata itu Jo dengan parcel buah di tangannya.


"Ayo kita keluar," ajak Orlando.


Orlando tidak melihat laki-laki itu karena fokus dengan ponselnya.


"Eh, iya… ayo."


Keduanya turun begitu juga laki-laki tadi yang memutari mobil setelah memasukkan perempuan yang berada di gendongannya tadi.


"Kak Austin," panggil Jasmine.


Austin yang hendak membuka pintu mobil terhenti. Jasmine berjalan mendekat diikuti Orlando dibelakangnya.


"Perempuan tadi siapa? Dan kenapa kakak di rumah Fanny?"


"Itu Fanny, aku buru-buru kalau kalian ingin tahu ikuti aku atau masuk ke dalam mobil saja terserah. Aku pergi dulu."


"Fanny? Ayo kak kita ikuti," pinta Jasmine.


Mereka mengikuti mobil Austin yang melaju cukup cepat. Mobil Austin berhenti di sebuah rumah sakit yang memunculkan pertanyaan di benak Jasmine.


Jasmine dan Orlando menunggu di luar ketika Austin membawa Fanny di ruangan dokter umum.


"Kira-kira Fanny kenapa ya, kak?"


"Entah."


Tidak lama suara teriakan mengagetkan Jasmine.


"APA?! TIDAK MUNGKIN!"


Jasmine menyerobot masuk ke ruangan itu dan terlihat Austin yang marah-marah.


"Kak… ada apa?" tanya Jasmine pelan.


Austin yang marah terlihat menakutkan dengan mata yang melotot menatap tajam dokter di depannya.


"Saya menyarankan agar kalian ke dokter obgyn untuk memastikannya."

__ADS_1


"Fanny hamil? KAKAK YANG BUAT FANNY HAMIL?!" marah Jasmine.


Sayup-sayup Fanny dapat mendengar teriakan itu dan berusaha membuka matanya.


"Jangan menuduh sembarangan, Jasmine! Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya!" Austin berbalik marah pada Jasmine.


Memang sejak Austin mendapati Fanny di dalam bathtub mulai hari itu Austin menginap di rumah Fanny. Semuanya aman dan Austin tidak melakukan apapun pada Fanny.


Tapi pagi tadi, Fanny tiba-tiba mual dan tak lama terjatuh pingsan, karena Austin tidak ingin terjadi hal buruk pada Fanny akhirnya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.


"Fanny… kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Jasmine khawatir.


Fanny telah membuka matanya dan menatap kosong ke atap ruangan.


Fanny mendengar mereka dan Fanny juga ingat tentang kejadian itu selain itu dia juga belum mendapati tamu bulanannya. Fanny menyangkal bahwa di hamil tapi yang dokter sudah katakan itu berhasil membuat Fanny down.


Fanny tidak ingin hamil, setidaknya tidak untuk saat ini. Apalagi dia hamil tanpa ada ikatan apapun dengan orang itu dan tanpa tahu siapa orang itu.


"Fanny, dokter bilang kamu hamil, kamu hamil sama siapa?! Jawab aku!"


Austin menyingkirkan Jasmine dari posisi awalnya.


Fanny menatap laki-laki yang ada di sampingnya selama satu bulan yang lalu. Sejak kejadian itu laki-laki itu selalu berada disampingnya, memperhatikannya dengan baik.


"A-aku tidak tahu," jawab Fanny pelan.


"Kamu menghianatiku?!" tanya Austin penuh penekanan dan kedua tangan yang menekan bahu Fanny.


"Ternyata kamu tidak beda jauh dengan perempuan-perempuan dikuaran sana!" cemooh Austin.


Jasmine menarik lengan Austin hingga membuatnya menatap Jasmine dan tangan Jasmine memberi satu tamparan keras di pipi Austin.


"Jaga ucapanmu, kak! Kakak tidak sadar? Kelakuan kakak tidak jauh dengan perempuan-perempuan yang kakak maksud! Sebelum ini, berapa banyak wanita yang sudah kakak tiduri, kakak hamili dan kakak kasih mereka uang untuk aborsi?!


"Bahkan kakak lebih hina dengan membunuh janin yang belum melihat dunia!"


Plak


Tangan tebal dan berurat di punggung tangannya itu melayang di pipi halus Jasmine. Tenaga laki-laki yang pasti lebih kuat dari perempuan berhasil membuat Jasmine hampir terjatuh apabila Orlando tidak menahannya.


Sudut bibir Jasmine berdarah, bahkan telapak tangan Austin tercetak merah di pipi Jasmine.


"Sialan! Jaga ucapanmu, Jasmine!"


Bug


Orlando memberi pukulan telak di tulang pipi Austin. Tidak, ini bukan Orlando melainkan Maks.


Maks kesetanan dengan memberi pukulan-pukulan telak pada Austin hingga membuat banyak lebam di wajah Austin dan kemungkinan lebam juga di area perutnya.


"Jaga tingkahmu, Austin! Aku bisa membunuhmu saat ini juga!"


Maks mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Austin.

__ADS_1


"Saatnya kau pergi, Austin."


Setelah berujar demikian, Maks membawa Jasmine pergi. Tidak dengan Jasmine yang berjalan tapi dengan Jasmine yang berada di gendongannya.


Maks mendudukkan Jasmine di kursi penumpang samping kemudi lalu dia menyusul masuk.


Maks mengobati luka Jasmine dengan diam.


"Fanny bagaimana?" tanya Jasmine ketika Maks telah selesai mengobatinya dan sedang membersihkan kapas yang kotor.


"Nanti ada yang menjemputnya."


Jasmine menyadari ada yang berbeda dari Orlando, suaranya lebih dalam dan lebih mendominasi.


"Maks?" tanya Jasmine ragu.


"Hm?" Maks menjawab dengan tangan dan kaki yang mulai bergerak untuk membuat mesin dengan 4 roda itu bergerak membawa mereka ke tempat yang Maks mau.


"Tidak, bukan apa-apa."


"Masih sakit?"


"No, it's better."


Jika tadi mobili mereka dikejar kini mobil mereka dihadang mobil lain. Seseorang dari dalam mobil itu keluar dengan beberapa plester yang menempel di wajah mereka.


Ternyata mereka adalah Permiro dan None. Mereka pergi dari rumah sakit begitu keduanya sadar.


"Kak Permiro, None?"


Jasmine hendak membuka pintu di sampingnya tapi tidak bisa karena Maks sudah menguncinya terlebih dahulu.


"Jangan keluar dan jangan coba-coba keluar. Aku akan mengurus mereka."


"Jangan buat mereka terluka," mohon Jasmine.


"Tidak, apabila kamu menurut."


Maks keluar setelah berhasil mencuri ciuman di bibir Jasmine.


"Wow! Kalian mengejutkanku."


"Maks," ujar Permiro.


"Yeah, it's me."


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍

__ADS_1


Instagram : @kahorlenis._


__ADS_2