
Setelah perjuangan yang syukurnya membuahkan hasil yang lumayan, kini Jasmine sedang berada di mobil tentunya dengan Orlando si menyebalkan bagi Jasmine.
"Berhenti di sana saja," pinta Jasmine.
"Itu bukan tujuanmu, aku antarkan sampai tempat yang kamu inginkan."
"Orlan!!" kesal Jasmine.
Entah kenapa Orlando merasa senang ketika Jasmine memanggil namanya dan lagi raut wajah kesal itu sangat lucu bagi Orlando.
Orlando menepikan mobilnya dan memastikan tidak menghalangi jalan kendaraan lain.
"Panggil lagi," pinta Orlando dengan memusatkan perhatiannya pada Jasmine.
"Ha?"
"Panggil namaku lagi," jelas Orlando.
"Or… lan?"
"Seperti tadi," pinta Orlando tidak puas.
"Kamu kenapa sih?! Nggak jelas!" kesal Jasmine karena Orlando memancing emosinya.
"Lucu banget!!!" gemas Orlando dengan mencubit salah satu pipi Jasmine.
"Sakit, ih!!!"
Orlando melepas cubitannya dan kembali melajukan mobilnya dan kini salah satu tangan Jasmine berada di genggaman tangan Orlando.
"Awh, Orlan! Kenapa?" tanya Jasmine ketika genggaman itu mengerat.
Orlando tetap diam, Orlando berusaha mengendarai mobilnya dengan baik ketika rasa sakit itu di menyerangnya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir," ujar Orlando.
Sedikit merasa tenang ketika jari-jari yang lebih kecil dari jari-jari Orlando bergerak mengusap tangannya pelan seakan memberinya ketenangan.
Mereka kini telah sampai di sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka. Keduanya turun dan berhasil menarik perhatian orang-orang sekitar selain karena paras keduanya, mobil yang mereka naiki juga menarik atensi mereka.
__ADS_1
Brown metallic merupakan warna yang tidak banyak digunakan, kebanyakan mobil yang terparkir adalah putih, hitam, grey metallic, biru, dan merah menyala.
Mata seorang laki-laki menangkap kedua orang itu dan hampir saja menjatuhkan telepon genggamnya ketika melihat Jasmine dan Orlando.
"Jasmine!" teriak laki-laki itu.
"Ini kau? Seriously?" lanjutnya dengan memegang kedua bahu Jasmine.
"Singkirkan tanganmu!" titah Orlando dengan nada datar.
Laki-laki itu menatap Orlando dari atas sampai bawah seakan menilai dan berusaha mengintimidasi Orlando. Sayang sekali, Orlando bukan orang yang mudah diintimidasi.
"Apa hakmu?" tanya laki-laki itu menantang.
"Inti-"
"Stop it!" sela Jasmine.
"Kak Kevin, aku di sini untuk melakukan pemotretan terakhirku dan menyerahkan berkas pengunduran diriku."
"What do you mean?" ujar Kevin tidak mengerti.
"Aku tahu kak-"
"Bisa kita ke dalam?" potong Orlando masih mempertahankan nada datarnya.
"Oh ya, ayo!" ajak Kevin sedikit kikuk.
Mereka bertiga memasuki gedung itu dan kini sedang berada di kantin yang berada di perusahaan tersebut.
"Aku lanjut ya?" tanya Jasmine yang diangguki Kevin, sedangkan Orlando dia hanya diam mendengarkan.
"Aku tau Kak, kalau kontrakku tinggal satu bulan dan banyak kontrak yang belum terlaksana, tapi aku akan menyelesaikan beberapa kontrak penting hari ini dan aku sudah membawa uang ganti rugi beserta surat pengunduran diriku."
"Jasmine! Ini bukan perkara uang ganti rugi! Tapi ini perkara reputasi perusahaan kita! Dengan kamu yang tidak profesional itu membuat reputasi perusahaan ini buruk! Dan itu hanya karena kamu!"
"Jangan pernah meninggikan nada suaramu di depanku atau Jasmine!" Orlando angkat bicara ketika laki-laki yang dia tahu bernama Kevin berani membentak Jasmine walau tidak keras.
"Kau diam saja! Ini bukan urusanmu!" tunjuk Kevin pada Orlando.
__ADS_1
Ketika Orlando akan menjawab Jasmine lebih dulu menyela, Jasmine hanya ingin ini segera selesai.
"Aku minta maaf untuk itu, tapi kakekku sedang membutuhkan aku sebagai cucunya untuk membantunya diperusahaan."
"Lebih baik kita segera melakukan pemotretan dan untuk surat pengunduran ini aku akan langsung menyerahkannya pada HRD," lanjut Jasmine.
Walau Kevin kesal tapi nyalinya menciut melihat mata tajam Orlando. Akhirnya Kevin mengajak mereka menuju ruang pemotretan.
Jasmine melakukan pemotretan dengan sebaik mungkin dan berusaha agar tidak mengulang-ulang, Orlando terus mengawasi pergerakan Jasmine dan terkadang protes dilayangkan karena baju yang dikenakan jasmine atau model laki-laki yang menjadi pasangannya.
Sore tiba dan Jasmine mengakhiri semuanya, surat pengunduran dirinya sudah diserahkan pada bagian HRD dan langsung disetujui. Tentu ada orang dibalik itu, bukan?
"Masih kuat jalan?" tanya Orlando ketika melihat Jasmine yang berjalan dengan langkah yang lambat.
Jasmine melepas heels miliknya dan Menganti dengan sandal japit rumahan berbulu yang terasa nyaman untuk kakinya.
"Hm," jawab Jasmine.
Orlando mengangguk paham.
Orlando menarik Jasmine ketika hampir menabrak dinding dan langsung menggendong tubuh Jasmine layaknya bayi koala.
"Tidurlah," bisiknya.
Sejujurnya Orlando tahu kalau Jasmine lelah dan mengantuk, bergonta-ganti pakaian, make-up dan hal lain bukan hal mudah, tapi Orlando tidak ingin memaksa Jasmine sampai tadi Jasmine hampir menabrak dinding.
Jasmine menurut karena dia tidak ingin berdebat, lagi pula seperti ini lebih enak.
Banyak tatapan di dapat mereka dari orang-orang yang berpapasan dengan mereka, namun siapa peduli. Orlando yang dengan tenang menggendong Jasmine dan Jasmine yang sudah tertidur di pundak lebar Orlando dengan tangan yang terhempas bebas kebawah.
...TBC...
...Note : ...
...Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3...
...Tinggalkan jempol kalian👍...
...Untuk beberapa hal mungkin ada yang tidak sesuai mohon ...
__ADS_1
...maaf dan terus dukung karya ini agar menjadi lebih baik....