JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
50. AND YOU


__ADS_3

Tiga laki-laki dengan kekuasaan yang berbeda sedang berhadapan. None dan Permiro dengan luka yang masih terlihat dan Maks yang menatap mereka acuh.


"Kita harus kembali!" ujar Permiro tanpa basa-basi.


"Kita? Siapa yang kamu maksud kita?"


"Jangan berpura-pura bodoh, Maks! A-."


"Eit, apakah kesopananmu sudah rontok? Posisiku lebih tinggi dari kalian maka jangan lupakan itu!"


"Gila hormat," cibir None.


"Aku tidak gila hormat tapi untuk kalian pengecualian," sahut Maks yang mendengar cibiran itu.


"Hentikan ucapanmu, None! Ada hal yang lebih penting terkait Jasmine."


None langsung diam hanya menatap 2 laki-laki yang selalu serius dibandingkan dengannya yang serius di beberapa waktu saja.


"Aku tahu kamu bisa melindungi Jasmine, tapi di sini tak lagi aman karena kemungkinan orang-orang yang mencarinya sudah mengetahui keberadaannya dari kejadian tadi pagi," jelas Permiro.


"Kamu harus membawanya ke sana, alpha! Setidaknya lakukan untuk keselamatannya."


Orlando berbalik meninggalkan Permiro dan None yang menatap punggungnya.


"Ada apa, kak?"


"Tidak ada apa-apa, kita pergi."


*****


Di rumah sakit Austin dibantu perawat laki-laki berdiri dan dituntun untuk duduk di kursi agar dapat di obati. Sedangkan, Fanny dia masih diam dan mata yang menatap kosong.


"Nona Fanny?" panggil laki-laki dengan pakaian pengawal.


"Saya, kenapa?" tanya Fanny dengan pelan.


"Mari ikut kami, kami diperintahkan tuan Orlando untuk mengantar Anda pulang."


Fanny tidak menjawab melainkan menatap Austin yang hanya diam dengan tangan suster yang mengobati lukanya.


"Ya," jawab Fanny menyetujui.


Fanny berjalan pelan dengan kedua pengawal yang berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Fanny melewati Austin dengan kepala menunduk dan mata yang sedikit melirik Austin.


Fanny sadar atas semua perlakuan Austin padanya. Fanny sadar bahwa Austin terluka karenanya. Tapi Fanny juga tidak ingin hal ini terjadi padanya, tapi hanya tapi karena takdir tuhan yang menggariskan hidupnya.


"Kelihatannya perempuan baik-baik ternyata tidak jauh dengan kupu-kupu malam," sindir Austin pelan ketika Fanny melewatinya.


Walaupun pelan tapi Fanny masih bisa mendengarnya, Fanny sakit hati dikatai seperti itu tapi tidak mungkin dia membalasnya.


Fanny sudah berada di dalam mobil yang dibawa 2 pengawal tadi. Matanya menatap jalanan dari kaca di sampingnya. Kepalanya menunduk dengan kedua tangan menyentuh area perut.


Ternyata kejadian itu membuatmu ada di sini, bisakah aku bertahan dengan semua ini? Bisakah aku mempertahankan janin ini sedangkan aku tidak tahu di mana aku dapat meminta pertanggungjawaban, batin Fanny meratap.


"Saya akan mengantar Anda ke rumah Tuan Matthew, Nona," ujar pengawal yang duduk di samping supir.

__ADS_1


"Ke rumah saya saja," ujar Fanny menolak.


"Maaf, Nona. Tuan Orlando meminta saya untuk mengantarkan Anda ke sana."


*****


"Kenapa ke sini? Ayo, pulang…," rengek Jasmine.


Mobil yang Maks kendarai berhenti di pantai yang sama dengan tempatnya pemotretan beberapa bulan lalu.


"Kita akan pergi ketempat yang seharusnya, Jasmine. Kamu akan mengetahui banyak hal tentang siapa kamu," ajak Maks dengan beranjak keluar dari mobil.


"Ayo," ajaknya lagi dengan menengadahkan tangannya pada Jasmine yang pintunya sudah Maks buka.


"No…," tolak Jasmine dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"It's okay, semuanya akan baik-baik saja. Aku disini dan akan selalu disini," ujar Maks menyakinkan.


Jasmine perlahan-lahan keluar dari mobil, tangannya disatukan dengan tangan Maks yang lebih besar dari tangannya hingga tangannya hampir tidak terlihat.


"Kamu pernah ke sini, bukan?" tanya Maks di perjalanan mereka.


Mereka tidak memakai alas kaki hingga dua pasang kaki tersebut dapat menyentuh pasir pantai yang halus.


"Hem, untuk pemotretan waktu itu. Aku ke sana hingga membuat aku bertemu kak Iro dan One," ujar Jasmine dengan menunjuk bagian pantai yang tampak sepi.


"Jasmine… bukankah Orlando sudah memperingatkan mu untuk tidak memanggil mereka seperti itu?"


"Hem, ya. Tapi aku sudah terbiasa dan aku tidak bisa memanggil dengan nama asli mereka."


"Hem? Mau apa?"


"Em… mau… cium," ujar Jasmine.


Sedetik kemudian Jasmine menempelkan kedua bibir mereka beberapa detik hingga membuat dunia Maks terhenti. Hanya 5 detik Jasmine melepasnya dan berlari menjauh di tepi pantai hingga tak jarang kakinya tersapu ombak.


Maks masih diam dan menatap Jasmine yang berlari dengan tawa riangnya hingga dress yang dipakainya terbang mengikuti arah angin.


Tawa Jasmine mengudara dengan kaki yang sesekali menendang ombak. Jasmine menunduk ketika melihat pemyu yang ikut tersapu ombak.


"Hei… kamu kenapa? Kesasar ya?" tanyanya pada hewan yang berada dipangkuan telapak tangannya.


"Mau kembali ke tempatmu? Mau aku bantu? Mau tidak?"


"Em, mau," jawab Jasmine sendiri dengan suara yang berbeda dari suara aslinya.


"Ayo, kita kembali, yeay!"


Jasmine meletakkan penyu itu kembali dan mengawasinya hingga ombak datang membawa penyu itu pergi.


"I found you," bisik Maks.


"A… no!" teriak Jasmine tidak terima dan kembali berlari.


Jasmine terjatuh ketika ombak besar datang tapi karena Jasmine bertekad agar Maks tidak dapat menangkapnya Jasmine segera berdiri walau pakaian basah hingga ke pinggang bawahnya.

__ADS_1


"Aku akan menangkapmu, sayang!!" teriak Maks tidak terlalu keras.


"Kejar aku!!" tantang Jasmine.


Maks mengejar dengan pelan tapi tak lama Maks berlari cepat dan menarik pinggang Jasmine dari belakang hingga kaki Jasmine tidak lagi menapak di pasir pantai.


"A… lepas! Kamu curang! Kaki kamu panjang, kaki aku kecil!" kesal Jasmine.


"Tidak, aku tidak curang. Bahkan aku tadi hanya berjalan," kilah Maks.


"Turunkan aku!" titah Jasmine.


Maks menggeleng tapi Jasmine tidak mengetahuinya. Maks bergerak memutar dengan Jasmine digendongannya.


"Stop! Stop! Kepalaku pusing," keluh Jasmine.


Maks berhenti dan menjatuhkan tubuh Jasmine di atas pasir dengan Maks di atas tubuhnya. Kondisi aman karena pantai sepi.


"Seneng?"


"Banget!!! Tapi jangan seperti ini, pakaianku kotor."


Maks menunduk sebentar dan benar bagian bawah pakaian Jasmine yang basah sudah ditutupi pasir.


"Salah siapa, hem?"


Maks mendekatkan wajahnya dengan wajah Jasmine.


"I love you, today, tomorrow and forever Hera and you Jasmine," bisik Maks.


Momen ini ditutup mereka dengan ciuman di atas pasir pantai dengan deburan ombak yang sesekali mengenai kaki mereka dan langit yang menatap kedua insan yang sedang dalam gelora cinta.


*****


"Sialan! Siapa pemilik kekuatan itu?! Tidak mungkin 2 wanita gila itu," ujar Credere bertanya-tanya.


"Hah, 2 wanita gila dengan otak kosong," lanjutnya.


"Hei! Siapa yang kau sebut wanita gila dengan otak kosong, hah?!" tanya wanita tua.


"Tentu saja, kalian. Sedang apa kalian di rumahku? Tidak ada rumah, ya?"


"Aku punya penawaran yang bagus," ujar Olive dengan mendudukkan tubuhnya di sofa dengan gaya seperti tuan rumah begitu juga dengan wanita tua disampingnya.


"Siapa yang menyuruh kalian duduk?! Pergi! Aku tidak ingin menerima tamu seperti kalian!"


"Kau sangat sombong, bagaimana bisa ada seorang penghianat yang sedang berkeliaran bebas seperti ini?"


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍

__ADS_1


Instagram : @kahorlenis._


__ADS_2