
Suasana berbeda di salah satu apartment di negara J yang di mana pemiliknya hampir setiap saat hanya termenung dan menangis.
"Fanny, sarapan dulu." Suara laki-laki terdengar bersamaan dengan pintu kamar Fanny yang terbuka.
Laki-laki yang tak lain adalah Austin memasuki kamar Fanny dengan membawa semangkuk sereal.
Austin meletakkan mangkuk itu di meja kamar Fanny lalu menghampiri Fanny yang duduk di balkon.
"Fan," panggil Austin dengan menepuk pelan pundak Fanny.
Fanny masih diam dan mempertahankan posisinya yang duduk dengan kedua kaki yang ditekuk dan didekapnya di atas kursi.
Austin berjalan dan berhenti dihadapan Fanny.
"Fan!" panggilnya lagi dengan sedikit mengundang bahu Fanny.
Fanny akhirnya menatap sepasang mata cokelat terang itu. Dapat Austin lihat mata Fanny yang sembab dan bengkak serta tatapan yang seperti orang tidak memiliki keinginan untuk hidup.
"Kamu sarapan dulu, ya? Biar nggak sakit," ucap Austin.
"Aku ambilin dulu," lanjutnya sembari berjalan mengambil mangkuk sereal.
"Makan sendiri atau aku suapi?"
"Sendiri," ucap Fanny dengan suara yang hampir tidak muncul.
Austin mengangguk lalu memberikan mangkuk itu pada Fanny.
Fanny mulai memasukkan suapan kecil ke dalam bibirnya sedangkan, Austin kembali berjalan ke dalam dan kembali dengan membawa karet kecil.
"Rambutnya aku ikat, biar nggak kesusahan," ucap Austin dengan menyatukan rambut Fanny.
Fanny hanya diam, dia bahkan seperti tidak niat untuk memakan sarapannya.
__ADS_1
"Udah?" tanya Austin ketika melihat Fanny mengehentikan suapannya dan menaruh mangkuknya di pembatas balkon.
Fanny mengangguk.
Austin menatap mangkuk itu lalu mengambilnya.
"Aku suapi, ini masih banyak."
Fanny menolak sebelum tatapan tidak ingin di bantah di tunjukkan oleh Austin.
Mangkuk sereal itu tersisa setengah namun, tak apa itu lebih baik dari pada tadi.
Austin pergi meninggalkan Fanny menuju dapur untuk menaruh mangkuk kotor itu.
"Kenapa, Kev?" ucap Austin ketika mengangkat ponselnya yang bergetar.
"Kamu ada jadwal untuk lusa, bisa?"
"Aku tidak bisa, untuk sementara bisa semua pekerjaanku kamu pindahkan ke orang lain? Aku harus menemani Fanny," tolak Austin.
"Aku akan menghentikan kontrak itu dengan membayar denda dan juga Fanny akan mengundurkan diri."
"Dude! What's wrong with you?" kesal Kevin di ujung sana.
"Aku hanya ingin fokus untuk Fanny dan kalau tentang Fanny aku tahu dia tidak akan bisa kembali lagi bekerja sebelum Jasmine di temukan."
"Sedangkan, kita tidak tahu kapan Jasmine ditemukan. Jadi, dari pada kamu mempertahankan pegawai seperti aku dan Fanny lebih baik kamu mencari pegawai lain," lanjutnya lalu menghentikan sambungan telepon sepihak.
Dengan kesal Austin meletakkan ponselnya dengan kasar lalu berjalan memasuki kamar Fanny kembali.
"*Jasmine sedang ada pemotretan di tempat lain, kek."
"...."
__ADS_1
"Aku sedang sakit jadi, aku tidak ikut dengannya."
"...."
"Iya kek, nanti aku kabari*."
Dari luar dapat Austin dengar suara Fanny yang berkomunikasi dengan seseorang. Austin membuka pintu dan menemukan Fanny yang terisak.
"Fanny," panggil Austin dan bergegas untuk memeluk tubuh Fanny yang terduduk di tepi tempat tidur.
"Ka--kakek Jasmine ngehubungin a--aku, Kak," ucap Fanny dengan sesenggukan.
"A--aku bilang kalau... kalau Jasmine lagi ada pemotretan."
"Sshh, udah ya, jangan nangis," ucap Austin lembut dengan mengusap-usap punggung Fanny.
"I lied to him."
"It's okay, itu untuk kebaikannya juga."
"Kapan kita akan menemukannya?" gumam Fanny.
"Mau jalan-jalan?" tawar Austin yang di jawab gelengan oleh Fanny.
"Ayo! Aku memaksamu, jadi segera pergi ke kamar mandi atau aku akan menggendongmu!?" ucap Austin dengan memundurkan dadanya agar dapat melihat wajah Fanny.
Fanny yang mendengar ancaman itu bergidik ngeri lalu berjalan dengan lemas ke kamar mandi.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍