JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
45. 365523


__ADS_3

Saat ini Matthew kembali kebakaran jenggot, meeting yang dipimpin oleh Orlando ditinggal begitu saja. Memang salah percaya sama dia.


"Jo, kita ke tempat tinggal Orlando."


Jo yang memang sudah berada di dalam ruangan itu mengangguk paham. Jo menyusul langkah Matthew yang berjalan di depannya.


Mobil telah siap di depan lobi dan segera supir itu membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Matthew, sedangkan Jo memasuki pintu di samping sopir.


Perjalanan sangat tenang, tidak ada suara musik atau percakapan sekalipun di dalam mobil mewah itu.


Matthew telah memasuki lift yang akan mengantarkannya menuju apartemen yang ditempati Orlando. Pintu mewah dengan warna hitam dan emas menjadi tujuan Matthew.


"Sialan!!!"


Teriakan dari dalam membuat Matthew bergegas mendekat ke arah pintu. Menekan bel dengan tidak sabar, sampai jari yang menekan bel itu terasa kebas.


"Minta Access card atau pin untuk ruangan ini, cepat!" Salah satu bodyguard bergerak cepat berlari menuju meja resepsionis.


Matthew bergerak gusar, berbagai pertanyaan timbul dibenaknya selain itu Matthew juga takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada cucunya.


Dan entah kenapa di kala panik semua orang seketika menjadi tidak dapat berpikir. Jo yang mendengar titah dari tuan besarnya mengambil ponsel dari saku jasnya dan tetap membiarkan bodyguard itu berlari.


"Pin presidential suite room dengan pemilik Orlando Clodoveo, Jo Denon," ujar Jo dengan singkat dan padat.


Resepsionis yang ada di sana membuka komputernya mencari pin yang memang tertera di dalam layar itu dan mengetik nama Orlando.


"Nomor pin presidential suite room atas nama Orlando Clodoveo 365523, Tuan."


Bip


Jo memasukkan kembali ponsel miliknya dan maju mendekat ke arah pintu.


"Tuan nomor pin 365523."


Matthew mengangguk dan memasukkan nomor pin ke dalam digital door itu. Pintu terbuka setelah dapat dipastikan pin yang dimasukkan benar.


Seakan mereka lupa dengan salah satu dari mereka yang sedang berlari untuk mencari pin yang diminta, mereka masuk begitu saja.


"Nona, nomor pin presidential suite room-." 


Bodyguard itu berujar dengan nafas yang sedikit terengah, larinya memang tidak jauh tapi keadaan genting mampu membuat cairan yang dikeluarkan kelenjar keringat dengan kandungan utama natrium klorida itu keluar.


"Atas nama Orlando Clodoveo? Saya sudah memberitahukannya, Pak," potong resepsionis itu.


"Baik, terima kasih dan tolong jangan panggil saya pak karena saya bukan bapak kamu."


Bodyguard itu kembali memasuki lift dan menuju di lantai dimana tuannya berada. 


"Percuma lari-lari," gumamnya.


Di sisi lain Matthew dengan dua orang yang mengikutinya hampir mual melihat banyak darah yang berceceran dan seseorang yang tergeletak dengan darah di tubuhnya yang mulai mengering.


"Sialan, sialan, sialan!!!" 


Mereka kembali mendengar teriakan itu dengan pukulan yang keras. Matthew meninggalkan laki-laki yang tergeletak itu dan berlari menuju lantai atas.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan keadaan di lantai bawah, darah juga ditemukan di lantai atas. Pandangan Matthew jatuh pada perempuan yang sedang menunduk dan berusaha mendekat pada laki-laki yang sudah tergeletak di atas lantai.


Dan satu lagi pada laki-laki yang dengan bodohnya melukai dirinya sendiri dan keadaan yang berantakan.


"Ada apa ini?" gumam Matthew bertanya-tanya.


Matthew seketika tidak dapat memahami semuanya.


Jo yang memang asisten yang dapat diandalkan dengan sigap menelpon sebuah rumah sakit langganan mereka untuk mengirim ambulance ke gedung ini.


"Tuan… sebaiknya anda tenangkan nona Jasmine terlebih dahulu. Ambulance akan segera tiba."


Jo memang sangat kuat dalam segi mental dan dapat memahami situasi dikala semua orang yang berada didekatnya tidak dapat memahaminya. Bahkan bodyguard yang mengikuti mereka tidak paham karena mereka lebih siap dalam segi fisik, bertarung.


Matthew melangkah mendekati cucunya.


"Jasmine?"


"Gran-grandpa."


Matthew menarik Jasmine ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan tangisan Jasmine yang tidak terlalu keras.


"Astaga! Apa ini?" pekik bodyguard yang baru saja tiba.


"Dia mati?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan mengecek apakah nafas orang itu masih ada.


Kedatangan ambulance membuat kehebohan di sekitar sana apalagi tidak ada hal apapun yang terjadi, bagi mereka. 


Resepsionis yang melihat itu langsung membantu mereka menuju lift khusus, sebelumnya resepsionis itu sudah mendapat pemberitahuan dari Jo.


Para Ners tersebut segera mengangkat laki-laki yang berada dilantai bawah untuk dinaikkan ke atas brankar dan menuju ke mobil.


"Ada satu di atas, kalian bisa mengangkatnya ke bawah terlebih dahulu."


Mereka mengangguk dan segera ke atas mengangkat laki-laki lain, None.


Di dalam ruangan itu menyisakan Jasmine, Matthew, Orlando, Jo dan 2 bodyguard.


"Tuan… sebaiknya none Jasmine kita bawa ke rumah sakit," saran Jo.


Matthew benar-benar buntu.


"Kita ke rumah sakit ya… kita obati lukamu." Jasmine hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Matthew.


"Kamu di sini dulu sebentar. Jo jaga Jasmine sebentar aku harus memberi pelajaran pada laki-laki itu." Jo mengangguk, apalagi yang akan dia lakukan selain mengangguk.


"Asisten Jo… kami harus apa?" Pertanyaan bodoh keluar dari bodyguard yang tadi ke resepsionis.


"Kalian amnesia sampai lupa tugas kalian?" tanya balik Jo.


Keduanya langsung diam di tempat.


Matthew telah sampai di lantai atas dan membalik tubuh Orlando yang menatap kosong ke arah dinding.


Bug

__ADS_1


"Otakmu hilang, heh?" tanyanya setelah memberi satu pukulan di rahang Orlando yang sudah terdapat sedikit lebam.


"KENAPA KAMU DENGAN BODOHNYA MEMPERTONTONKAN TINGKAH MU ITU, HAH?" teriaknya marah.


Di bawah Jo yang mendengar teriakan Matthew mengeluarkan airpods yang kemudian diberikan pada Jasmine.


"Nona pakai ini, terdapat lagu baru yang pasti nona suka."


Jasmine hanya menerima dan memakainya.


"Kamu bilang tidak ingin kehilangan Jasmine… tapi kenapa kamu membuat hal itu-."


"Aku tidak berniat mempertontonkan hal itu! Aku sudah meminta Jasmine untuk tidak keluar!" bantah Orlando.


"Tapi… kenyataannya apa? Jasmine di sana… dia berdiri di depan tingkah setan mu itu! Kamu akan kehilangannya, Orlan."


"Tidak! Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku! Salahkan dua Rogue sialan itu! Mereka yang memulai!"


Matthew menghela nafas.


"Ikut aku ke rumah sakit. Sekarang! Tidak ada penolakan untuk kali ini, Orlan!"


Matthew turun dan kembali menggiring Jasmine untuk keluar dari sana.


"Kalian berdua seret laki-laki di atas jika tidak segera turun," titahnya pada 2 bodyguard itu.


"Baik, Tuan."


Tersisa mereka berdua dengan laki-laki yang tak dikenali. Ditemani dengan suara pecahan dari atas keduanya mencoba untuk tidak berlari keluar.


"Ini sudah 2 menit, kita ke atas dan menyeretnya?" tanya bodyguard yang tadi ke resepsionis, sebut saja bodyguard konyol.


Temannya menarik nafas dan mengeluarkannya. " Ayo… demi gaji tidak dipotong." 


Keduanya berjalan ke atas dan melihat kekacauan itu lagi.


Dengan sopan si demi gaji berujar, "Tuan, anda diminta Tuan besar Matthew untuk ke rumah sakit."


Orlando tidak mendekat ke arah mereka dan masih sibuk membantingi vas-vas bunga di sana.


"Bagaimana? Kita harus menyeretnya? Astaga aku tidak pernah membayangkan akan menyeret serigala yang sedang marah." Ini suara si konyol.


"Tuan kami terpaksa menyeret Anda untuk ke rumah sakit." Setelah si demi gaji berujar keduanya melangkah mendekat menyeret tangan berotot itu agar keluar.


"Jangan menyentuhku, sialan!"


"Maka dari itu, Anda bisa berjalan ke rumah sakit sekarang?"


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍

__ADS_1


Instagram : @kahorlenis._


__ADS_2