JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
25. BERTEMU?


__ADS_3

Aroma itu semakin dekat dan kedua pasang langkah kaki itu terus berjalan lurus ke depan. Jantung keduanya berdetak dengan cepat, perasaan berdebar itu mereka rasakan.


Selesai, batin keduanya.


Hanya berjarak 2 meter saja namun, mereka tak kunjung sampai. Ingin berlari namun, kaki mereka tidak bisa diajak untuk berlari.


Pertanyaan itu muncul di benak mereka.


"Alpha!" teriak Zweit tiba-tiba dari belakang Orlando.


Ya, kedua orang yang di maksud adalah Orlando dan tentu saja Jasmine atau Hera yang ditakdirkan untuk menjadi mate Orlando.


Orlando tidak ingin membalikkan badannya, dia ingin fokus untuk melangkah dan menemukan pemilik aroma itu. Aroma segar yang membuat gairahnya membuncah ketitik paling tinggi.


"Alpha Orlando," panggil Zweit lagi yang kini telah berada di belakang Orlando.


Orlando masih mengacuhkannya hingga zweit dengan terpaksa menepuk pundak Orlando, tidak cukup keras namun mampu membuat Orlando berbalik.


"Bisa diam tidak! Kau ini menganggu!" sentak Orlando.


"Alpha!"


"Alpha!"


"Zweit!!!" teriak Orlando geram.


Orlando memegangi detak jantungnya yang melaju, bulir-bulir keringat membasahi dahinya dan mata itu menatap ke sekeliling.


"Zweit! Di mana dia!?" tanya Orlando.


Zweit mengedarkan matanya menatap sekitar, sedikit dongkol di hatinya karena gelarnya sebagai Beta tidak disebut dan hanya menyebut namanya saja.


"Dia siapa, Alpha? Di sini tidak ada siapa-siapa dan saya menemukan anda dalam keadaan pingsan."


"Pingsan?" tanya Orlando sedikit bingung.


"Iya, Alpha. Anda kenapa sebelumnya?"


Lalu… dimana dia?, batin Orlando bertanya-tanya.


"Alpha!" panggil Zweit kembali mengagetkan Orlando.

__ADS_1


"Kau berani meneriakiku!?"


"Maaf, Alpha. Saya hanya memanggil anda, namun anda melamun."


"Kenapa kau ada di wilayah ini?" tanya Orlando ketika dirinya sudah berdiri.


Bukan maksud apa-apa mengenai pertanyaan itu, namun kawasan ini jarang di kunjungi atau di datangi oleh werewolf lain.


"Saya diperintah oleh Reine Elen untuk mencari anda, sudah beberapa hari ini anda tidak kembali ke kastil."


"Reine Elen mencari anda untuk membicarakan sesuatu yang cukup penting," lanjutnya.


"Dan juga, anda mendapatkan undangan perjamuan dari Loupnoir pack malam sabit nanti," sambungnya ketika zweit mengingat sesuatu.


"Baiklah, kita kembali ke kastil sekarang."


Walaupun sedikit bingung mengenai hal tadi, bagaimana dia bisa pingsan dan beberapa hari di kawasan selatan. Padahal dia baru merasa 3 hari meninggalkan kastil. Satu lagi, apakah hal tadi tidak nyata? Apakah itu hanya bunga tidurnya?.


*****


Kini di salah satu rumah sakit ternama di negara J sedang terjadi keributan akibat kedatangan seseorang.


Sebuah mobil berhenti sempurna di depan lobi dan keluar seorang pria dengan menggendong seorang wanita yang juga diikuti oleh seorang wanita.


Beberapa perawat yang mendengar panggilan itu bergerak cepat mendorong sebuah brankar agar seseorang yang ada di gendongan itu bisa di letakkan di sana.


Ban kecil itu berputar dengan cepat dibantu dengan dorongan beberapa suster juga pria dan wanita itu menuju pintu bertuliskan 'Emergency room'.


Pintu itu ditutup meninggalkan kedua orang itu di luar dengan perasaan cemas.


"Bagaimana bisa dia di sana?" tanya si perempuan dengan bergumam.


"Jangan menangis, Fanny. Kita berdoa saja semoga Jasmine baik-baik saja," pinta pria itu yang tak lain adalah Austin.


Flashback on


Austin kembali ke kamar dengan membawa makanan karena dia lupa belum memberi Fanny makan.


"Austin, ku mohon ijinkan aku ke sana," ucap Fanny memelas ketika melihat Austin berjalan mendekati tempat duduknya.


"If I say no it means no!" tekan Austin.

__ADS_1


Fanny berusaha memikirkan hal lain, entah kenapa tekadnya ini benar-benar bulat dan dia hanya memerlukan izin Austin untuk pergi.


"Bagaimana kalau kita pergi bersama? Selain mencari Jasmine kita bisa liburan berdua," tawar Fanny.


Tawaran itu cukup menggiurkan bagi Austin dan itu membuat hatinya goyah, ditambah dengan tatapan Fanny yang seperti anak kecil.


"Baiklah, kita pergi," putus Austin.


Fanny kegirangan dan langsung menerjang tubuh Austin dengan pelukannya.


Austin kaget tentu saja, namun dia dengan senang hati membalas pelukan itu.


"Tapi lusa, tidak sekarang," bisik Austin.


Walau sedikit kesal namun, Fanny masih bisa menerima. Bukankah lebih baik lusa dari pada tidak sama sekali.


Flashback off


"Bagaimana dia bisa pingsan di tepi pantai? Padahal sebelum-sebelumnya kita tidak melihatnya."


"Bersyukurlah Fanny, jangan bertanya-tanya hal yang tidak terlalu penting," ujar Austin.


Keduanya terdiam menanti pintu itu terbuka dan memberi mereka berita bahagia itu.


Perasaan mereka sangat senang terutama Fanny, walaupun kesedihan itu ada kala menemukan Jasmine dalam keadaan pingsan dan seluruh tubuhnya basah karena deburan ombak, tapi itu lebih baik dari pada mereka tidak menemukannya sama sekali.


"Apa aku harus menghubungi kakeknya?" tanya Fanny.


Akhir-akhir ini kakek Fanny sering menghubungi atau kalau tidak asisten pribadinya yang menghubunginya.


"Kita hubungi besok saja, bukankah keadaan kakek Jasmine sedang terganggu?"


Fanny mengangguk membenarkan, sekitar 2 hari yang lalu asisten pribadi kakek Jasmine mengubungi Fanny untuk meminta Jasmine agar segera pulang karena kakeknya sedang sakit. Dengan berbagi alasan akhirnya sambungan telepon itu bisa berhenti.


Mereka kembali terdiam dengan kepala Fanny yang bersandar di bahu lebar Austin.


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3

__ADS_1


Tinggalkan jempol kalianšŸ‘


__ADS_2