
Duar
Sebuah cahaya dari dimensi itu menyerang Thomas dengan begitu kuat hingga tubuhnya jatuh beberapa meter dari tempat berdirinya.
"Akh!" jeritnya tertahan.
"Kenapa tidak bisa!?"
"Dia berbeda."
"Sialan!"
Thomas berdiri dengan terseok-seok dan berjalan menuju mobil Jeep-nya berada. Angin kencang tadi telah mereda sesaat setelah Thomas terjatuh.
Thomas kini telah kembali di kediamannya dan berjalan menuju pintu rumahnya dengan langkah kaki yang diseret.
Ceklek
"Daddy!" panggil Liliana berdiri dari duduknya.
"Ada apa denganmu, Dad?" tanyanya.
"Kenapa berjalan seperti itu?" lanjutnya.
"Hanya luka biasa," jawab Thomas.
"Ayo, aku antar ke kamar."
Dari arah dapur tiba-tiba ada seorang laki-laki berjalan dengan santainya sembari membawa segelas kopi.
"Liliana, di dapurmu aku hanya menemukan kopi," ucap laki-laki itu dengan santai sebelum matanya bertubrukan dengan mata Thomas.
"Heh! Kamu! Kenapa ada di rumahku dan memasuki dapur ku!" ucap Thomas dengan nada keras.
"Saya buat kopi, om," ucap Yudha dengan menaruh gelas kopi di meja terdekat dan menyodorkan tangannya.
"Suka sekali kamu masuk dapur ku! Dapur higienis ku pasti tercemar!"
"Nggak usah di ladenin, Yud," sahut Liliana yang diangguki Yudha dengan senyumnya.
"Dih, senyum gila! Maksud kamu juga apa, Lili? Gitu apanya?" ucap Thomas.
"Udahlah, Dad. Ayo aku antar ke kamar," ajak Liliana.
"Ya, ya, ya. Suruh dia pulang segera! Wajahnya merusak pandangan mataku!" ucap Thomas lalu berlalu pergi.
"Jangan dimasukin hati ya, Yud."
"Ya, santai."
"Kalau gitu aku masuk dulu, kamu bisa duduk dulu."
Liliana menyusul Thomas setelah Yudha mengangguk.
*****
Vila
Austin keluar dari kamar Fanny setelah memastikan kalau Fanny sudah tidur. Makan malam telah selesai dilakukan dan kini Austin berjalan menuju ruang tengah di mana Kevin berada.
"Kevin!" panggil Austin.
"Ya, kenapa?" tanya Kevin tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.
"Kita ke rumah Mr. Thomas kapan? Dan kapan kita akan kembali ke kota?"
"Aku telpon dia dulu dan untuk kembali ke kota akan segera di tentukan karena sebelumnya aku telah memberi tau atasan kalau Jasmine hilang," jelasnya dan kini menaruh laptopnya lalu mengambil telpon pintarnya.
__ADS_1
Selagi Kevin menghubungi Thomas, Austin menonton televisi yang menayangkan suatu film fantasi-action.
"Selamat malam, Mr. Thomas," ucap Kevin setelah telepon tersambung.
"Ya, malam juga untuk anda."
"Maaf apabila saya mengganggu malam anda,"
"Tidak masalah."
"Jadi, ada apa?" lanjutnya.
"Saya menanyakan perihal ritual itu, kapan kamu bisa ke rumah anda?" tanya Kevin.
"Oh, itu ya saya bisa memberitahu anda sekarang. Namun, saya rasa kurang sopan, maka datanglah besok pagi pukul 7 sekalian kita sarapan bersama," jawab Thomas.
"Baiklah, kalau begitu saya tutup dulu. Selamat malam."
"Malam."
Sambungan telepon terputus setelahnya.
"Kita besok ke sana pukul 7."
"Baiklah kalau begitu aku ke kamar dulu," pamit Austin yang diangguki Thomas.
*****
Dimensi werewolf
"Guncangannya telah mereda," ucap Permiro..
"Ya, aku tau. Aku juga merasakannya," jawab None yang mendapat dengusan dari Permiro.
"Ternyata benar kata Jasmine kalau kau menyebalkan."
"Ke mana saja kau selama ini?"
"Ya, aku juga tau itu," jawab Permiro dengan nada seperti None tadi.
"Guncangan tadi mengingatkanku tentang sesuatu," ucap Permiro.
"Tentang apa?"
Eungh
Tiba-tiba Jasmine terbangun dari tidurnya dan menatap sekitar.
"Kau sudah bangun?" tanya Permiro.
"Pertanyaan bodoh," gumam None.
Kruyuk
"Kau lapar? Kebetulan tadi aku merebus singkong yang kau kupas," ucap None dan mengambil singkong yang memang berada di dekatnya.
Jasmine menatap singkong itu ragu, bukannya tidak suka singkong. Namun, setahunya singkong tadi dia biarkan saja dan tentunya singkong tadi membusuk di bagian luarnya.
None yang mengetahui tatapan itu kembali berucap, "Aku telah membersihkannya tadi, jadi kau bisa memakannya."
Akhirnya dengan tangan yang sedikit lemas, mungkin efek kelaparan Jasmine mengambil singkong dengan potongan kecil.
"Aku seperti hidup di area yang terisolasi dan hanya bisa memanfaatkan hasil bumi untuk makan," ucapnya setelah potongan kecil itu habis.
"Ini memang terisolasi," ucap None.
"Kalian tidak mau? Ini enak," tawar Jasmine.
__ADS_1
"Kau saja yang makan, katanya tadi lapar?" tolak Permiro.
"Ini sangat banyak dan cukup untuk kita bertiga," ucap Jasmine dengan menunjuk ke arah singkong.
"Kau saja, biar kau kenyang setelah itu kembalilah tidur," putus Permiro dengan tatapan tajam yang langsung diangguki oleh Jasmine.
*****
Pagi telah tiba dan kini penghuni vila tengah bersiap untuk menuju rumah Thomas.
Mobil hitam mengkilap itu berjalan dengan kecepatan rata-rata menuju rumah Thomas.
"Aku harap, aku mendengar kabar baik," ucap Fanny.
"Kita semua berharap seperti itu Fanny," jawab Kevin dengan menatap Fanny melalui kaca depan.
Mobil hitam itu kini telah terparkir di halaman rumah Thomas. Dengan mengetuk pintu beberapa kali, pintu itu terbuka dan Liliana menyambut mereka.
"Ayo masuk, daddy sedang di dapur," ajaknya.
Mereka berjalan dengan Liliana di depan.
"Silahkan duduk dan kita mulai sarapannya sebelum membahas mengenai masalah kemarin," ucap Thomas ketika melihat mereka sampai di ruang makan.
Mereka makan dengan tenang dan mereka kecuali Liliana berjalan menuju ruang tamu sehabis sarapan. Sedangkan, Liliana dirinya pergi bekerja.
"Bagaimana? Apakah Jasmine berhasil di temukan? Lalu dia di mana?" ucap Fanny menyerobot Thomas dengan pertanyaannya.
"Sabar, Fanny. Jangan seperti itu," ucap Austin yang ada disampingnya.
Thomas memasang wajah penuh rasa bersalah dan berucap, "Sebelumnya saya meminta maaf."
Mereka terutama Fanny yang mendengar kata itu langsung memasang raut sendunya dan Austin memeluk bahu Fanny.
"Ritual kemarin tidak membuahkan hasil."
"Sekali lagi saya meminta maaf," ucapnya lagi.
"Ya, tidak apa-apa mungkin ini takdirnya," ucap Kevin dengan nada tenang walaupun ekspresinya tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.
"Tapi, kemarin saya sedikit mendengar dari suara tanpa wujud dan mungkin ini akan mengejutkan kalian."
"Tentang apa itu?" tanya Kevin.
"Dia berkata kalau model kalian adalah milik werewolf," ucap Thomas yang mengundang banyak tatapan tidak paham dari mereka.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih untuk bantuannya," pamit Kevin.
Mereka beranjak dengan pikiran melalang buana terutama pikiran Fanny.
"Dia tidak akan kembali?"
"Lalu, apakah aku harus menyusulnya?"
"Kenapa dia tidak mengajakku!?"
Fanny bertanya-tanya dengan air mata yang mulai mengalir membentuk sungai kecil. Austin yang melihat itu meminta untuk Kevin berhenti dan memintanya untuk memberikan Austin dan Fanny privasi.
Kini didalam mobil itu menyisakan Austin dan Fanny setelah Kevin pergi menuju salah satu cafe. Austin berpindah duduk disamping Fanny yang berada di kursi belakang.
"Fanny? Jangan mengatakan hal itu," ucap Austin dengan memeluk tubuh Fanny.
"Kita bisa melakukan cara lain. Kita masih punya banyak cara untuk membuatnya kembali pada kita," lanjutnya.
TBC
Note :
__ADS_1
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍