
Ambulance yang membawa None dan Permiro telah sampai dipintu lobi rumah sakit dan segera diturunkan lalu didorong beberapa Ners menuju emergency room.
Tidak lama 2 mobil datang dengan mobil pertama berisi Jasmine, Matthew, dan Jo sedangkan mobil belakang diisi oleh Orlando dan 2 bodyguard.
Orlando segera turun begitu pintu dibuka mendahului 2 bodyguard itu dan berlari mendekati Jasmine yang baru saja akan memasuki rumah sakit.
"Jasmine! Tunggu dulu!" teriak Orlando pelan dengan berjalan mendekati Jasmine.
Tapi pergerakannya tertahan ketika Jo memasang badan menghalangi Orlando yang mendekat.
"Awas! Ini bukan urusanmu!" titahnya pada Jo.
"Maaf, Tuan Orlando… untuk saat ini keadaan nona Jasmine sedang tidak baik-baik saja jadi beri nona Jasmine ruang. Sedangkan, Anda… bisa mengobati luka Anda terlebih dahulu," jelas Jo.
Matthew menggiring Jasmine kembali selagi Jo yang sudah dibantu 2 bodyguard itu menghalangi langkah Orlando.
Bug
Kepalang kesal, Orlando melayangkan pukulan pada wajah datar Jo yang menjijikkan bagi Orlando. Kedua bodyguard yang melihat bahwa asisten Jo dipukul langsung bertindak dengan menahan setiap tangan Orlando.
Jo memegangi area pipinya yang terasa sedikit kebas lalu menghembuskan nafas mencoba menambah stok kesabarannya.
"Mari ikuti saya," ujar Jo.
Jo mendahului langkahnya yang kemudia diikuti oleh Orlando yang diseret oleh 2 bodyguard.
Saat ini luka Jasmine telah diobati dan sedang istirahat atas paksaan Matthew. Di dalam ruangan dengan bau obat yang mendominasi Jasmine sendirian di dalamnya karena Matthew sedang keluar untuk mengurus administrasi.
Matthew tidak langsung kembali, dia mampir ke ruangan tempat Orlando di obati.
"Matthew!" ujar Orlando begitu melihat Matthew datang.
Posisi Orlando saat ini sangat lucu untuk seorang alpha, terdapat 4 orang dimana 2 orang adalah bodyguard dan 2 lagi adalah perawat laki-laki yang sengaja dipanggil untuk menahan Orlando yang terus memberontak.
"Kalian semua bisa pergi," titah Matthew hingga kini dalam ruangan itu menyisakan Matthew dan Orlando.
"Matthew biarkan aku bertemu Jasmine!" pinta Orlando seenaknya.
"Kamu tahu tingkahmu tadi bisa membuat Jasmine ketakutan ketika melihatmu!"
Matthew mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sana begitu pula Orlando.
"Aku lepas kontrol tadi. 2 Rogue sialan itu dengan tidak tahu malunya berniat membawa Jasmine pergi, tentu saja aku tidaj terima akan hal itu!"
"Tapi tidak dengan seperti tadi, Orlan. Kemarin aku sudah berbaik hati membiarkanmu bersama Jasmine tapi kejadian hari ini membuatku menyesal."
"Ya, ya, ya terserah apa katamu, beritahu aku ruangan Jasmine aku harus menjelaskan sesuatu," kekeh Orlando.
"Kamu ini! Ah, sudahlah mungkin ini juga sudah waktunya Jasmine tahu kebenarannya."
Orlando langsung keluar begitu mengetahui ruangan Jasmine.
Tanpa mengetuk pintu Orlando memasuki ruangan itu dan terlihat Jasmine yang sedang terlelap.
Orlando mendekat ke arah brankar dan mengusap lebam yang di dapat Jasmine darinya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," ujar Orlando dengan mengusap lebam itu pelan.
Dalam tidurnya Jasmine bermimpi kembali bertemu dengan seekor serigala yang sudah beberapa kali muncul di mimpinya, Hera.
__ADS_1
"Kau?"
"Ya, ini aku. Jasmine ketahuilah aku tidak pernah jauh darimu, aku selalu berada didekatmu tepatnya aku selalu berada di bagian terdalam tubuhmu."
"Ha? Apa? Aku tidak paham. Dan tolong entah kamu siluman atau sejenisnya jangan menggangguku!"
"Tidak bisa!"
Tiba-tiba serigala itu berubah menjadi kumpulan asap dan masuk ke dada Jasmine yang membuat Jasmine merasakan sakit di bagian dada.
Dalam raganya tubuh Jasmine mengalami kejang-kejang yang cukup hebat membuat Orlando yang ada didekatnya berusaha menenangkannya. Orlando tidak memanggil dokter karena dia mampu menenangkan Jasmine.
"Jasmine atau Hera, siapapun kalian tolong buka matamu dan untukmu Hera tolong jangan terlalu memaksa."
Orlando memeluk tubuh Jasmine dengan tubuhnya yang menunduk dan salah satu tangan mengusap rambut halus Jasmine.
Tubuh Jasmine berangsur tenang dan tak lama mata yang tadinya tertutup kini mulai terbuka secara perlahan.
"Jasmine? Masih sakit?" tanya Orlando.
Kini Orlando tak lagi memeluk Jasmine dan hanya menundukkan badannya.
"Kamu?! Kenapa kamu disini?! Pergi! Aku tidak ingin satu ruangan dengan pembunuh!"
Jasmine berusah menguindar dari segala kontak fisik yang dilakukan Orlando, kejadian tadi begitu membekas dikepalanya bagaimana Orlando dengan tanpa perasaan melancarkan serangannya.
"Jasmine… aku bisa jelaskan. Jangan seperti ini, aku akan menjelaskan sedetail-detailnya," mohon Orlando.
Sedikit rasa sakit menyentuh relung hati Orlando. Jika kalian tanya apakah dia menyesal telah membuat 2 orang itu terluka? Tentu dengan tegas Orlando menjawab tidak!
Orlando berusaha meraih Jasmine kembali untuk dipeluknya.
"Yes, it's me."
Dengan kelebihannya Orlando berhasil membuat Jasmine tak berkutik dengan segala perlakuannya.
Orlando kini telah naik di brankar Jasmine dan memeluk Jasmine disana.
"Kamu mimpi apa tadi?"
Jasmine kembali mengingat mimpinya dan ingatannya hanya menangkap nama dari serigala itu.
"Hera," bisiknya.
Orlando tersenyum. "Mau tahu sebuah kebenaran?"
Jasmine menatap Orlando bingung, Orlando yang melihat itu dengan berani menempelkan kedua bibir itu dan menyesapnya sebentar.
Jasmine seketika memelototkan matanya atas tindakan Orlando yang tiba-tiba.
"Orlan!" kesalnya ketika Orlando telah menjauhkan bibirnya.
"Kamu werewolf," bisik Orlando tepat didepan wajah Jasmine dengan kedua matanya yang menyorot langsung mata hazel Jasmine.
"Hah?"
"Kamu werewolf, kamu mate-ku, kamu Luna di Wolfsmond pack dan kamu merupakan keturunan dari seorang werewolf dan pemilik kekuatan supranatural.
"Dan Hera, dia adalah wolf milikmu yang menjadi takdir wolf milikku, Maks."
__ADS_1
"Orlan… apa maksud kamu?" tanya Jasmine yang masih tidak percaya.
"Cepatlah sembuh maka akan aku beritahu silsilah keluargamu dan apa saja yang harus kamu lakukan serta hal yang harus kamu lakukan denganku," ujar Orlando dengan senyum aneh diakhir kalimatnya.
Orlando memberi kecupan di dahi Jasmine dan memberi kecupan lagi di bibir itu serta sedikit gerakan. Orlando menjatuhkan kedua tubuh mereka mengungkung dan Jasmine dalam pelukannya dengan usapan lembut dipunggung itu.
"Jangan ingat kejadian waktu itu," titah Orlando seakan mengetahui jalan pikiran Jasmine.
"Maks? Berarti-."
"Ya, dia bukan alterego-ku, dia adalah wolf-ku. Kalian sudah pernah bertemu dan bukankah dia cukup baik?"
"Hm."
"Tidurlah, hari kedepan kamu harus selalu disisiku."
"One dan Iro?"
"Tidak akan ada masalah serius dan jangan memanggil mereka seperti itu."
"Or-."
"Tidur, Luna," tekan Orlando.
Tubuh jamsine sedikit bereaksi lebih ketika Orlando memanggilnya seperti itu.
"Tidak sekarang, suatau saat pasti akan terjadi. Buang pikiran itu, Jasmine."
Orlando mengetahui apa yang terjadi dengan tubuh Jasmine, Orlando tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tapi dia tidak akan melakukannya sekarang.
"Tidur."
"Orlan…," panggil Jasmine dengan merengek.
Jasmine tiba-tiba memajukan tubuhnya hingga hampir membuat keduanya terjatuh apabila Orlando tidak menhan tubuh mereka.
"Shut, diam dan tenang," bisik Orlando.
Orlando dengan sigap menurunkan kepala Jasmine dan kini kepala Jasmine berhadpaan dengan dada bidangnya yang berlapis kemeja.
"Orlan…."
"Tidak Jasmine, tidurlah." Orlando mengusap rambut itu dan Jasmine dengan sengaja membuka kancing baju Orlando.
Apapun itu Orlando akan berusaha menahannya dan mengalihkannya dengan hal lain.
"Tidur, sayang," bisik Orlando dan seakan sebuah sihir untuk Jasmine kini mata itu perlahan menutup kembali.
Jasmine tidur dengan Orlando dibawahnya dan posisi kepala yang berada di atas dada Orlando yang tadi Jasmine buka.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍
Instagram : @kahorlenis._
__ADS_1