
None telah kembali dengan membawa beberapa singkong yang ditemukannya di hutan tadi.
"Hei! Aku membawa singkong untukmu," ucap None kepada Jasmine ketika memasuki gubuk.
"Benarkah? Thanks," jawab Jasmine dengan mengambil singkong dari tangan None.
"Dimana Permiro?"
"Aku tidak tau, tadi dia keluar."
Mengangguk lalu berkata, "Kalau begitu, aku keluar dulu."
Setelah kepergian None, Jasmine menuju ke belakang untuk merebus singkong. Ketika sampai di dapur di mana ada tungku dan beberapa kayu di bawahnya, Jasmine mulai mengupas kulit singkong menggunakan sebuah pisau yang besar seperti pisau daging.
"Awh," jerit Jasmine tertahan.
Tangan Jasmine tergores pisau ketika mengupas singkongnya. Jasmine-pun, mengikat lukanya menggunakan kain dari bajunya yang di sobek untuk menutup lukanya.
"Shh."
"Sakit banget," keluhnya ketika mulai mengupas singkongnya kembali.
Jasmine terus meringis ketika lukanya tertekan. Sedangkan, di sisi None dan Permiro.
"Permiro!" panggil None.
"Kenapa?"
"Kenapa kau meninggalkan dia sendirian?" tanya None.
"Aku tidak pergi jauh dari gubuk dan dari sini aku masih bisa melihat keadaan gubuk," jelas Permiro.
"Kau tau kalau kawasan ini merupakan kawasan Rogue, kan?"
"Tentu aku tau, None. Kenapa kau sangat bodoh, kita juga Rogue," ucap Permiro dengan nada geramnya.
"Entahlah, aku merasa sangat khawatir saja."
"Kau ini!"
Tiba-tiba Permiro menyerang None tanpa memberitahu, None yang memang sudah berlatih dapat menahan serangan Permiro yang tiba-tiba itu. Keduanya saling serang dan bertahan agar tidak terjatuh.
Dari arah gubuk, terlihat Jasmine yang celingak-celinguk mencari di mana kedua orang yang beberapa saat lalu bersamanya dengan pakaian yang sudah amburadul.
"Itu mereka," ucapnya ketika melihat None dan Permiro.
"Tapi... kenapa mereka bertarung? Apakah keduanya adalah musuh?" ucap Jasmine menerka-nerka.
"Aku harus ke sana atau ini tidak akan selesai."
Dengan keberanian yang telah terkumpul, Jasmine berjalan mendekati None dan Permiro yang sedang beradu kekuatan.
"Kak Iro!" panggil Jasmine sedikit keras.
None dan Permiro yang mendengar suara itu menghentikan kegiatan mereka dan melihat Jasmine yang berdiri menatap mereka.
"Ya? Kenapa?" tanya Permiro.
"Iro?" gumam None.
"Permiro, Iro, sangat lucu," gumamnya lagi.
"Aku mau meminta bantuan untuk menyalakan api untuk merebus singkong."
__ADS_1
"Singkong?"
"Aku tadi yang membawakannya," sahut None.
"Ya, baiklah. Ayo kembali ke gubuk," ajak Permiro.
Ketiganya berjalan kembali ke arah gubuk dengan None yang berjalan di belakang. Ketika tangan kiri Permiro akan menggandeng tangan Jasmine tiba-tiba sebuah ringisan terdengar.
"Awh."
"Eh, kenapa?" tanya Permiro heran.
"Tanganmu luka? Bagaimana bisa?" sahut None ketika melihat tangan Jasmine yang terbalut kain, namun masih terlihat bercak darah.
"Luka?" tanya Permiro lalu melihat tangan Jasmine.
Permiro membuka lilitan kain itu dan terlihat luka yang masih basah dan cukup menganga.
"Aku carikan daun yodium sebentar," ujar None.
"Aku ikut," sahut Jasmine.
"Kau sedang luka, Jasmine. Tetap diam di sini," titah Permiro.
"Aku ikut saja, sekalian melihat-lihat kawasan ini lagian lukanya sudah tidak sesakit tadi."
"Jas-"
"Izinkan saja, Iro. Toh, kita juga ada di sampingnya," ucap None.
Permiro yang mendengar itu dan melihat tatapan memohon Jasmine, menghela napas sebelum akhirnya menyetujuinya.
Jasmine bersorak senang mendengarnya.
"Ayo, aku melihat tidak jauh dari sini ada pohon yodium," ujar None.
"Iro!" panggil None.
"Jangan panggil aku dengan nama itu. Menggelikan!"
"Kenapa? Dia memanggilmu seperti itu."
"Oh ya, kau tau nama dia... apa kau tau namaku?" lanjutnya bertanya kepada Jasmine.
"Ya, namamu None. Haruskah aku memanggilmu kakak?" tanya Jasmine.
"Sepertinya tidak perlu. Kita salaman dulu." None menyodorkan tangan kanannya.
"Maaf, tanganku terluka. Namaku Jasmine."
None menurunkan tangannya dan mengangguk pelan.
Mereka telah sampai di pohon yodium dan telah menaruh getahnya di atas luka Jasmine.
"Aku mau berkeliling di sini."
"Kita kembali ke gubuk, di sini tidak aman dan singkong mu masih belum di masak," tolak Permiro.
"Kak Iro saja yang kembali, aku dan Jasmine akan berkeliling," sahut None.
"Kau! Berhenti memanggilku Iro!"
"Jangan berantem, dong. Ayo berkeliling," ajak Jasmine yang sudah berjalan dahulu.
__ADS_1
Dengan pasrah Permiro membuntuti Jasmine dan None yang menyusul tadi.
*****
Hari sudah sore dan kini Thomas sudah siap untuk pergi ke pantai dengan membawa beberapa hal yang dibutuhkannya.
"Dad!" panggil Liliana ketika baru turun dari mobil.
"Kenapa?" jawab Thomas dengan memanaskan mobilnya.
"Daddy, mau ke mana sore-sore begini?"
"Daddy ada urusan, kamu di rumah dan jangan keluar lagi," peringat Thomas lalu menaiki mobilnya.
"Kau ini pergi pagi pulang sore," cibir Thomas lalu melajukan mobilnya.
"Dad! Ini lebih baik dari pada temanku!" jerit Liliana tak terima lalu menghentakkan kakinya.
Thomas telah sampai di pantai dan berada di area yang ditandai. Tempat pintu tak kasat mata berada.
"Setelah sekian lama, ini terjadi lagi," ucapnya ketika baru turun dari mobil Jeep miliknya.
"Sore ini akan berbeda dan tidak akan tenang seperti biasanya."
Setelah bergumam, Thomas mulai mengeluarkan alat-alatnya. Berdiri tepat di depan garis yang sedikit orang bisa lihat Thomas memegang sebuah alat seperti mangkuk berbahan emas campuran.
Memukul-mukul beberapa kali salah satu sisi mangkuk menggunakan sebuah alat yang berwarna sejenis lalu mulai menggumamkan beberapa hal yang tidak dapat diterjemahkan orang lain.
Angin di sekitar pantai mulai terasa dingin dengan beberapa daun yang mulai bergoyang ke sana- ke mari.
Gumaman terus keluar dari bibir Thomas hingga angin kecil tadi kini berubah menjadi angin yang lebih besar dan semakin besar hingga banyak pohon yang bergoyang hampir rubuh di sentuh angin
Ada apa ini?
Hal buruk terjadi kembali.
Kita harus pergi, kita harus pergi!
Dari sudut pantai yang lain yang turut merasakan angin hebat itu mulai berspekulasi sebelum akhirnya mereka beranjak pergi dengan terburu-buru.
Ombak mulai tergulung dengan jangka waktu singkat dan keras menghantam karang. Suasana pantai sangat sepi meninggalkan Thomas seorang diri dengan ditemani oleh deburan ombak dan suara angin.
"Kenapa di sini sangat dingin?" gumam Fanny memeluk tubuhnya yang sedang berada di balkon vila yang ada di kamarnya.
Tok... tok... tok
"Kau kedinginan?" tanya Austin dengan memeluk tubuh kecil Fanny dari belakang.
"Eh," kaget Fanny ketika sepasang tangan menyusup melingkari perutnya.
"Aku akan memelukmu dan tolong jangan menolakku," ujar Austin dengan deep voice yang mengganggu telinga Fanny.
"Ini ada apa, kak? Ini berbeda dengan hari kemarin," tanya Fanny setelah berusaha merilekskan tubuhnya.
Mungkin sudah di mulai, batin Austin.
"Entah," jawabnya penuh dusta.
"Kita ke dalam, udara sangat dingin dan dapat membuat mu sakit," ajak Austin.
TBC
Note :
__ADS_1
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍