
Jasmine membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman untuk tidur, namun tak kunjung mendapatkannya.
"Arghh!" teriaknya frustasi.
"Kenapa tidak bisa tidur!????"
Jasmine pergi keluar berniat membuat coklat panas untuk menemaninya begadang daripada tidak bisa tidur.
"Nona!" panggil seorang maid ketika Jasmine sedang mengambil bubuk coklat.
"Ya, kenapa?"
"Nona sedang membuat apa? Biar saya buatkan."
Jasmine menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri. Kamu bisa pergi."
"Tapi Nona-."
"Pergilah!"
Maid itu akhirnya pergi dan Jasmine sudah menuangkan air yang sudah mendidih kedalam mug yang sudah terdapat bubuk coklat.
Jasmine kembali ke kamarnya dan duduk di sofa yang tersedia di balkon kamarnya dengan menatap langit malam.
"Bukankah kemarin aku menemukan buku novel?" tanyanya pada dirinya sendiri setelah meminum sedikit coklat panasnya.
Jasmine berdiri kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil buku novel yang tersusun bersama dengan majalah-majalah miliknya.
Tak lupa mengambil selimutnya dan kembali ke balkon. Jasmine membolak-balikkan buku itu menatap sampul yang mulai menguning.
"Ini seperti mimpi itu."
Jasmine mulai membaca dengan sesekali meminum coklat panasnya.
*****
"Iro, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar," saran None.
Keduanya kini sudah berada di dunia manusia dan sedang berada di apartment mereka.
Permiro sedang menidurkan tubuhnya sedangkan None duduk di sofa.
"Kamu pergi saja sendiri," ujar Permiro menolak.
"Beneran? Nanti kamu menyesal. Siapa tahu nanti kita bisa bertemu dengan Jasmine," rayu None.
"Ini sudah malam None mana mungkin Jasmine keluar malam-malam begini."
"Siapa yang tahu? Bisa saja dia ada urusan atau pergi ke suatu tempat."
__ADS_1
"Aku tidak mau."
"Nanti kalau aku bertemu dengan alpha itu lagi?"
"Mana mungkin dia ada di sini, tidak usah mengada-ngada. Pergilah sendiri kalau kamu ingin pergi."
"Dia tentu mencari Jasmine dan tentu dia ada di sini. Nanti kalau aku tidak sadar lagi kamu bisa stress."
"Cepatlah kita pergi! Ocehanmu mengganggu kinerja telingaku!"
None bersorak senang. Setelah segala bujuk rayu dan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi padanya yang none utarakan pada Permiro akhirnya Permiro mengikuti keinginannya.
*****
"Bertahun-tahun kepergian kalian, kini hal yang sangat aku takutkan terjadi."
"Aku akan berusaha sekuat mungkin, aku akan menjaga Jasmine sebaik mungkin dengan menjauhkan orang-orang yang bisa menghilangkan Jasmine."
"Tapi kenyataannya, kemungkinan buruk itu sudah pasti datang bukan? Dia sudah datang, dia yang akan membawa Jasmine kedalam keputusan yang sulit untuk dipilihnya."
Matthew bergumam dengan mengusap sebuah pigura yang berisi foto pernikahan anaknya.
*****
Maks saat ini hanya berjalan-jalan santai. Maks tahu di kamar Jasmine tadi ada seseorang yang sedang menatap kegiatan mereka, tidak pasti siapa dia karena pakaian yang sangat tertutup.
Menatap rumah Jasmine yang cukup bagus dari halaman yang luas juga menatap para bodyguard yang berjaga.
"Kenapa dia belum tidur?"
Maks berjalan kembali masuk kedalam rumah dan menuju kamar Jasmine. Tanpa mengetuk Maks masuk begitu saja.
"Jasmine, kenapa belum tidur?"
Jasmine hampir menjatuhkan novelnya karena dikagetkan dengan suara Maks di belakang punggungnya.
"Orlan!!! Kamu mengagetkan ku!" kesalnya.
Maks duduk di samping Jasmine. "Orlan?" Jasmine mengangguk.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku Maks bukan Orlan?" ujar Maks tenang namun terden menyeram di telinga Jasmine.
"A… itu, aku kira kamu hanya bercanda," elak Jasmine.
"Alasan!"
Jasmine menaruh novelnya dan memfokuskan tatapannya pada laki-laki di sampingnya.
"Kamu marah?"
__ADS_1
Maks menggeleng.
"Bohong! Kamu marah?"
Maks masih menggeleng.
"Ya sudah kalau gitu," final Jasmine cuek.
Jasmine kembali membaca novelnya dan menghiraukan keberadaan Maks.
"Kok berhenti!?"
Jasmine diam.
Maks berdiri dan hal itu membuat Jasmine mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba Maks menurunkan sandaran sofa dan menahan punggung Jasmine agar tidak terjatuh, selanjutnya Maks mendudukkan tubuhnya di belakang Jasmine dan menyandarkan punggung Jasmine di dada bidangnya.
"Tidak dibaca lagi?"
Jasmine segera mengalihkan pandangannya.
"Tentang apa?"
"Tentang apa? Apa? Novel ini?" tanya Jasmine.
Dia baru sadar kalau laki-laki ini yang bilang bahwa dirinya Maks adalah orang yang suka bermain-main dengan kata.
"Ya, apalagi?"
Jasmine mengangguk. "Tentang manusia serigala yang bertemu dengan jodohnya yang ternyata seorang manusia."
"Hanya itu?"
"Aku belum selesai membacanya!"
"Em… baiklah, kamu lanjut baca."
"Tapi-" jedanya dengan menatap Maks yang fokus ke lembaran kertas yang tersusun menjadi buku.
"Jangan bergerak, diam dan baca dengan tenang!"
Jasmine seketika diam dan kembali membaca dengan Maks yang menahan tubuhnya dan kedua kaki Jasmine yang diapit oleh kedua kaki Maks.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍