JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
21. KASTIL (II)


__ADS_3

"Jasmine, kakak masuk," ucap Permiro di depan pintu yang diiringi dengan ketukannya pada pintu


"Iya, kak! Masuk saja!" teriak Jasmine dari dalam.


Ceklek


Pintu terbuka dan Permiro sudah melangkahkan kakinya.


"Kamu kenapa muter-muter gitu? Bajunya jelek?" tanya Permiro khawatir karena melihat Jasmine yang memutar-mutar tubuhnya di depan kaca full body.


Jasmine berhenti berputar-putar dan menatap Permiro yang berdiri beberapa meter dari tempat berdirinya.


"Nggak kok, bajunya bagus. Aku putar-putar tadi karena suka banget!!! Bajunya lucu!!!," jawab Jasmine dengan ekspresi senangnya.


Permiro mengangguk paham lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Jasmine berjalan mengikuti Permiro.


"Kak, One di mana? Aku mau melihatnya," ujar Jasmine ketika sudah duduk di sebelah Permiro.


"One lagi istirahat, kamu di sini saja sama kakak, oke?"


"Aku mau melihatnya, please. Aku kan sudah mandi," paksa Jasmine.


Permiro menghela napas lalu memberi tawarannya pada Jasmine. "Biarkan dia istirahat dulu, besok kamu bisa jenguk dia, ya?" ujar Permiro dengan mengelus puncak kepala Jasmine.


Jasmine mengangguk lesu membuat Permiro yang melihat itu menjadi tidak tega.


"Bagaimana kalau kita keliling kastil saja? Ada banyak tempat yang pasti akan kamu sukai," ajak Permiro.


"Mau?" tawarnya lagi dan akhirnya Jasmine mengangguk walau terlihat tidak terlalu antusias.


Mereka berjalan keluar dari kamar.


"Kamu suka baca atau nggak?" tanya Permiro.


"Nggak terlalu," jawab Jasmine.


Permiro mengehentikan langkahnya membuat Jasmine ikut berhenti. Permiro memutar bahu Jasmine agar menghadapnya.


"Kamu kenapa? Ngambek karena nggak kakak bolehin ketemu One?"


"Nggak papa."


"Kenapa Jasmine? Maaf kalau kakak ngelarang kamu, tapi ini juga demi kebaikan One juga," ucap Permiro sedikit memaksa dan juga bahu Jasmine yang sedikit digoyangkan oleh Permiro.


"Hiks...."


"Jangan nangis... kakak terlalu keras ya?"


Permiro menarik Jasmine ke dalam dekapannya.


"Maaf... kalau sikap aku kekanak-kanakan," ucap Jasmine yang tidak terlalu jelas namun, Permiro masih dapat menangkapnya.


"Iya, nggak papa."


Jasmine masih berada di dekapan Permiro dengan tangan Permiro yang bergerak aktif mengusap rambut Jasmine dan sesekali membubuhi kecupan di puncak kepala Jasmine.


"Perpustakaannya bagus," puji Jasmine.


Saat ini mereka sudah berada di dalam perpustakaan setelah acara tangis-menangis tadi.


"Kamu suka?"


"Suka, tapi nggak terlalu."

__ADS_1


Permiro mengangguk paham. Mereka berkeliling ke lorong-lorong perpustakaan yang penuh dengan rak berisi buku.


"Aku boleh pinjam ini?" tanya Jasmine dengan menarik salah satu buku bersampul usang.


"Boleh. Tapi kenapa pilih buku itu?" tanya Permiro.


"Kayaknya ceritanya bagus, aku sedikit suka novel apalagi kalau genre fantasi," jelas Jasmine dengan membuka-buka beberapa halaman secara acak.


"Kamu ambil saja dan kamu bisa membawanya ke kamarmu."


"Mau baca dulu atau lanjut keliling?" lanjutnya bertanya.


"Keliling aja, nanti aku baca waktu di kamar."


Mereka keluar dari ruangan yang dipenuhi oleh buku-buku itu.


"Di sini ada siapa saja? Selain aku, kakak dan One," tanya Jasmine di perjalanan mereka.


"Ada pengawal, pembantu juga ada."


"Bukan itu maksudnya!"


"Terus apa?" tanya Permiro jahil.


"Maksud itu, anggota keluarga kalian, ayah, ibu, saudara."


"Kan tempat ini luas," lanjutnya.


"Nggak ada siapa-siapa lagi."


Mereka terdiam.


"Di sini sebenarnya ada ruang melukis, cuman itu ruang pribadi None jadi kita tidak bisa memasukinya," jelas Permiro ketika mereka melewati sebuah pintu setelah mereka berjalan bebwràpa meter.


"Nanti aku mau minta ajari One, boleh?"


"Kalau Kakak boleh saja, besok kamu bilang ke One saja, oke?"


"Oke."


"Kita ke bawah langsung, ya? Di sini cuma ruang-ruang biasa," tanya Permiro dan Jasmine mengangguk.


"Ini siapa?" tanya Jasmine ketika mereka menuruni tangga dan menemukan sebuah lukisan seperti wanita dengan beberapa bagian yang di samarkan dengan lukisan yang lain.


"Oh, itu. Kata None dia hanya asal menggambar saja dan tidak ada maksud apapun di dalamnya," sahut seseorang dari belakang mereka tiba-tiba.


"None?" ucap Permiro kaget melihat None ada di belakang mereka.


"Kenapa tidak istirahat!?" marah Permiro.


"Aku tidak kenapa-kenapa, Iro. Itu hanya luka kecil," ujar None santai mengabaikan kemarahan Permiro.


"Tadi aku dengar ada yang menangis karena tidak di perbolehkan bertemu seseorang," lanjut None.


Jasmine yang merasa kalau dia yang di maksud oleh None menundukkan kepalanya. Malu sekali dia.


"Siapa yang menangis?" tanya Jasmine.


"Ah, sayang sekali, dia tidak mau mengaku. Padahal kalau dia mau aku bisa mengajarinya untuk melukis sampai dia menjadi pelukis hebat."


"Ah, itu ya?" ucap Jasmine dengan mengusap pipinya yang tidak gatal.


"Itu... aku," cicit Jasmine yang disambut gelak tawa oleh None.

__ADS_1


"Ah... One!!!!" kesal Jasmine.


"Kalian tidak mau turun? Atau kalian berniat untuk jatuh bersama-sama dan terluka bersama?" ujar Permiro yang sudah berada di bawah tangga.


Jasmine dan None saling tatap lalu mereka bergerak untuk menuruni tangga.


"Selain perpustakaan dan tempat One melukis di sini ada apa lagi?" tanya Jasmine.


"Ada ruang ramalan, mau ke sana?" jawab None diiringi dengan pertanyaan.


"Nggak usah deh kalau itu," ujar Jasmine bergid ngeri.


"Kenapa? Padahal di sana kamu bisa tau masa depan kamu." None berujar menyakinkan.


"Nggak usah, One."


Mereka terus berjalan keluar hingga pintu utama di buka dan mata Jasmine hanya menangkap banyak pepohonan dari tempatnya berdiri.


"Gerbangnya tinggi banget." Jasmine menatap gerbang besi yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari tubuhnya.


"Kalau pendek bukan gerbang dong namanya," sahut None.


"Nyenyenyenyenye."


"Wah, ada mawar hitam," girang Jasmine dan berlari menuju halaman yang banyak di tumbuhi bunga langka itu.


"Jangan lari, Jasmine!" peringat Permiro.


Sungguh Permiro takut dengan Jasmine yang berlari. Baju yang sedang dipakai Jasmine di buat sedikit mengembang dibagian pinggang ke bawah dan itu membuat Permiro takut kalau Jasmine akan tersandung.


"Kamu sangat mengkhawatirkannya, Permiro."


"Bagaimana tidak!? Kalau nanti dia jatuh bagaimana?"


None menghiraukan hal itu dan berjalan menuju ke arah Jasmine yang sudah berjongkok.


"Kamu suka?" None bertanya dan itu membuat Jasmine berdiri.


"Sangat! Bunga ini sangat langka dan harganya-pun mahal."


"Ini semua milikmu, hadiah dari ku untuk kedatanganmu kemari."


"Terima kasih banyak, One." Jasmine memeluk tubuh None yang lebih tinggi darinya.


"Sama-sama, semoga nyaman di sini." None membalas pelukan itu.


Tiba-tiba pelukan None melemah dan Jasmine menyadari itu seketika panik apalagi melihat mata None yang mulai tertutup.


Permiro yang memang mengawasi mereka dari jauh bergerak cepat mendekati keduanya ketika melihat wajah panik Jasmine.


"None! Hei, None!" panggil Permiro dengan menepuk pipi None beberapa kali.


Beberapa penjaga di kastil itu mendekat melihat keributan dari pemilik kastil.


"Angkat dia!"


"Jangan nangis, oke? None akan baik-baik saja."


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3

__ADS_1


Tinggalkan jempol kalian👍


__ADS_2