JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
22. RUMAH GUBUK


__ADS_3

Orlando meninggalkan None sendirian dengan luka yang dia tinggalkan.


Aku mencium aroma itu ditubuhnya, batin Orlando.


"Rogue itu?"


"Singkong dan buah ini?" gumam Orlando menatap ke sekeliling tempat berdirinya.


"Ini tidak mungkin tumbuh sendiri hingga sebanyak ini, tentunya ada yang menanam ini semua."


"Apa di sini ada manusia?"


Orlando berjalan lurus sembari menatap sekitar melihat tanda-tanda kehidupan manusia yang bisa saja akan ditemukannya lagi.


"Ini sangat aneh."


"Bukankah kalaupun di sini ada manusia pasti para Rogue itu sudah memangsanya?"


Hutan lebat di sepanjang mata memandang menemani setiap langkah kaki Orlando.


*****


"Di mana Orlando, Cred?" tanya Elen tiba-tiba ketika mereka tidak sengaja berpapasan.


"Hormat saya, Reine mère," ucap Credere langsung dengan membungkukkan punggungnya.


Elen mengangguk lalu menyentuh bahu Credere pertanda agar Credere berdiri.


"Alpha tidak ada di kamarnya sejak pagi tadi, Reine."


"Bisa kau carikan dia untukku dan ketika dia sudah berada di kastil segera minta dia untuk menghadapku."


"Baik, Reine."


Elen pergi meninggalkan Credere yang membungkukkan punggungnya sampai Elen menghilang dari pandangannya.


Credere akhirnya kembali ke posisi tegapnya dan segera melangkah pergi untuk mencari Orlando.


"Ke mana aku akan mulai mencarinya?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku tidak bisa mengendus aromanya!"


Credere mengendus-endus untuk mencari aroma dari Orlando namun, tetap tidak bisa. Akhirnya dirinya kembali melangkah berjalan menuju gerbang utama.


"Aku akan pergi dan kalian tetap siaga di sini!" perintah Credere ketika sampai di gerbang utama.


"Baik, Watcher!"


Credere melangkah ke arah kiri, entah kenapa kiri selalu menjadi pilihannya ketika bingung memilih arah.


"Harus ke mana aku?"


Credere bingung, tentu saja. Dia bukannya tidak tahu wilayah hutan ini, namun semua akan sia-sia ketika dia tidak bisa melacak keberadaan Orlando.


"Lelah sekali," keluhnya dengan menumpu kedua tangannya di kedua lututnya.


"Mengapa aku tidak memiliki wolf saja, ya?"


"Lalu aku mempunyai wolf semua ini pasti tidak akan terasa sangat melelahkan seperti sekarang."


Credere mendudukkan tubuhnya bersandar di pohon besar dan tinggi menjulang.

__ADS_1


"Ini...? Bukankah ini kawasan selatan!?" ucapnya kaget ketika mengenali tumbuhan yang hanya di tanam di kawasan selatan saja.


"Sial! Harus bagaimana aku?!" Credere gusar dengan keberadaannya di kawasan selatan sendirian.


"Apa aku harus kembali ke kastil?"


"Nanti pasti Reine Elen menanyakan keberadaan anaknya."


Credere bergerak gusar di tempatnya sampai matanya melotot sempurna melihat seseorang yang telungkup.


"Siapa itu?"


"Apa aku harus mendekat dan menolongnya?"


Credere kini bingung apakah dia harus menolong orang itu atau tidak. Namun, sebagai seseorang yang memiliki rasa sosial yang tinggi akhirnya Credere memberanikan diri untuk mendekat.


Takdirnya ia pasrahkan pada yang di atas.


"Kamu tidak apa-apa?"


Bodoh!, batinnya merutuk.


Kenapa pertanyaan bodoh itu yang kau keluarkan, Credere!, lanjut Credere masih membatin.


"Hei! Kau tidak apa-apa? Mau aku bantu?" Dengan berani jari Credere menjawil pergelangan tangan orang itu hingga dirinya hampir terjengkang kebelakang ketika orang itu mengangkat kepala dan menatap dirinya tajam.


"Maaf, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin membantumu jika kau membutuhkannya."


Tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir orang itu, namun sepertinya Credere tau makna tatapan orang itu.


Akhirnya Credere membantu orang itu untuk duduk.


"Mau aku antar pulang? Rumahmu di mana?"


"Kau ini siapa!? Seenaknya saja!" tolak Credere secara tidak langsung.


"Baiklah-baiklah, aku akan membantumu dan berhenti menatapku seperti itu." Credere menurut ketika orang itu kembali melayangkan tatapan tajam.


Selain karena tatapan itu, sebenarnya Credere juga takut apabila orang itu penghuni kawasan ini yang terkenal dengan Rogue-rogue yang beringas ketika menghadapi lawannya.


Keduanya berjalan namun, di pertengahan jalan Credere berhenti.


"Kau bisa lanjut jalan sendiri, kan? Aku ada urusan," ujar Credere dengan terburu-buru.


Orang yang di papah Credere hanya mengangguk karena mendengar nada terburu-buru Credere.


Credere segera berlari mendekat ke arah seseorang yang dikenalinya.


"Alpha!" teriaknya yang sangat tidak sopan.


Orang yang dipanggilnya itu berbalik badan dan melotot kearah Credera.


"Ah, maaf kan saya, Alpha." Credere membungkukkan punggungnya. Ya, orang yang dipanggil tidak lain adalah Orlando.


"Hm, ya. Ada apa kau memanggilku?" tanya Orlando.


"Reine Elen meminta saya untuk mencari anda, Alpha."


"Dan meminta anda untuk menghadap beliau sekarang," lanjut Credere.


"Kau kembalilah ke kastil dulu, aku masih ada urusan di sini."

__ADS_1


"Dan katakan pada ibunda kalau aku akan menemuinya ketika urusanku sudah selesai," lanjutnya menitah.


"Tapi, Alpha...."


Ucapan Credere terpotong ketika mendapat tatapan tak ingin di bantah dari mata Orlando.


"Baik, saya akan kembali dan segeralah untuk anda kembali."


Setelah berujar demikian, Credere membungkukkan punggungnya sekilas dan berlalu pergi.


"Menyusahkan saja! Kau tahu begini lebih baik aku tadi di kastil saja mengurus pekerjaanku yang setinggi Mauna Kea!" gerutu Credere kesal.


Meninggalkan Ctedere, saat ini Orlando masih terus berjalan menapaki tanah kawasan para Rogue tinggal.


Tiba-tiba sesuatu hal mengganggu pikirannya.


"Kalau aku menciu aroma mate-ku di sini, tidak menutup kemungkinan kalau mate-ku adalah Rogue, bukan?"


"Semoga tidak, apa yang akan di katakan penduduk nantinya."


Orlando berusaha menepis kemungkinan buruk dan berusaha menyangkal.


"Itu rumah?" gumamnya lagi untuk yang kesekian.


Mata Orlando terkunci pada bangunan yang seperti rumah yang berdinding anyaman bambu.


Langkah Orlando menuntunnya untuk mendekati bangunan itu dan ya, dapat Orlando cium aroma mate-nya yang cukup tajam dari rumah itu.


"Kenapa aromanya sangat tajam di sini?"


"Apa dia tinggal di sini?"


Orlando membuka pintu itu perlahan, matanya menangkap sebuah ranjang dari kayu pohon dengan alas seadanya dan juga di belakang rumah itu ada bekas tempat pembakaran.


"Apa arti semua ini?!"


"Dia pernah tinggal di sini!?"


Orlando berteriak kesal, kenapa kemarin-kemarin dia tidak menyusuri kawasan ini!? batinnya bertanya.


"Kulit singkong?" gumam Orlando melihat terdapat tumpukan kulit singkong yang lumayan di belakang rumah ini.


"*Orlando!"


"Kenapa kau memaksaku untuk berdiam di sini, sialan*!"


Maks di dalam sana berteriak protes ketika jiwanya di kunci di dalam bagian terdalam tubuh Orlando.


"Biarkan aku keluar Orlando!"


Orlando masih diam membiarkan Maks memprotesnya di dalam sana, sedangkan dia mendudukkan tubuhnya di ranjang kayu itu memikirkan segala kemungkinan yang telah terjadi.


"Bukankah kemungkinan besar dia adalah manusia? Setelah semua hal yang aku temukan hari ini?"


"Apakah Moon goddess salah memberi tahu aroma mate-ku?"


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3

__ADS_1


Tinggalkan jempol kalian👍


__ADS_2