
Permiro kembali teringat dengan kejadian malam itu, bayangan kejadian itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
"None, kita temui Jasmine sekarang!"
Permiro memilih melupakan kejadian itu karena sebelumnya dia sudah memberikan imbalan untuk wanita itu, jadi dia tidak salah bukan? Lagi pula bukankah semua yang berada di tempat itu untuk mendapatkan uang?
"Dari kemarin aku sudah mengajakmu tapi kamu menolak, kenapa sekarang kamu tiba-tiba mengajakku?"
"Jangan banyak bicara kita berangkat sekarang, aku sudah merindukannya."
None mendengus. "Baik, Tuan."
Permiro tidak memperdulikan ucapan None dan berdiri keluar apartment yang ditempati mereka meninggalkan None yang kini sibuk mencari bajunya karena tadinya dia tidak memakai baju.
"Iro! Tunggu aku!" teriak None dengan memakai sepatunya dengan berlari.
"IRO!!!!!" teriaknya lagi kali ini lebih menggelegar.
"Kenapa kamu berteriak!? Cukup diam dan cepat selesaikan urusanmu!" marah Permiro ketika None sudah dekat dengan tempat berdirinya.
Permiro jujur bahwa beberapa hari terakhir dia lebih mudah terpancing emosi sekalipun itu masalah sepele.
None diam dan keduanya kini berada di dalam lift untuk menuju basement. Permiro yang memegang kendali menginjak pedal gas dengan penuh tenaga hingga mobil yang mereka tumpangi berjalan secepat kilat.
"IRO PELANKAN MOBILNYA!
"JANGAN AJAK AKU MATI!"
Teriakan penuh ketakutan None memenuhi mobil dengan bagian luar berwarna putih itu. Kini berganti kaki perkiro menginjak rem ketika beberapa meter dari tempat mereka terdapat lampu merah yang berwarna merah.
Cittt
"F*ck!" umpat None dan tiba-tiba None membuka seatbelt membuat Permiro yang ada di sampingnya menatap heran.
"Uhuk… lep-pas!"
None tiba-tiba mencekik leher Permiro dengan kedua tangannya juga kekuatan penuh.
"Jangan mengajakku mati! Aku belum mau mati!" ujar None dengan tangan yang masih mencekik leher Permiro yang mulai mengeluarkan urat.
"Lepas!" Cekikan itu lepas ketika Permiro dengan kasar menghempaskan tangan itu.
"Kamu tidak akan mati hanya karena hal ini! Kamu akan mati jika peluru perak menembus tubuhmu!"
"Ya-."
Tin
Tin
__ADS_1
Permiro melihat lampu lalu lintas sejenak yang ternyata sudah beberapa detik yang lalu berwarna hijau. Permiro kembali menginjak gas tapi lebih santai dari yang tadi.
Gedung dengan tulisan Luxury apartment yang didalamnya tentu sesuai dengan nama gedung itu, semua mewah bahkan yang memakai.
Keduanya langsung menaiki lift dari basement menuju presidential suite room. Mereka telah mencari keberadaan Jasmine dan berhasil menemukannya tapi mereka tidak langsung mendatangi Jasmine.
Bel yang berada di depan pintu di tekan beberapa kali hingga membuat seseorang yang berada di dalam merasa terganggu.
"Siapa ya? Kalau Orlan tidak mungkin." Dia Jasmine yang sedang menonton televisi untuk urusan kantor Jasmine tidak memegang untuk beberapa saat dan itu semua atas perintah Orlando.
Jasmine berdiri dari duduknya, kaos oversize dengan celana pendek 5 cm di atas lutut Jasmine berjalan membuka pintu. Sebelumnya, Jasmine melihat seseorang itu melalui door phone.
"Bukannya itu yang kemarin di taman?" tanya Jasmine melalui door phone.
"Iya itu kami, bisa tolong buka pintunya? Kami hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu dan kami tidak ada niat jahat apapun," ujar Permiro.
Jasmine yang merasa tidak ada yang perlu di curigai dari keduanya lantas membuka pintu itu.
"Hi, Jasmine," sapa None.
Wajah None kembali berseri-seri karena bertemu teman lamanya.
"Ehm, h-hai," sapa balik Jasmine dengan canggung.
"Masuklah," lanjutnya mempersilahkan keduanya.
Keduanya digiring Jasmine menuju ruang tamu dan Jasmine izin sebentar untuk mengambilkan mereka minum.
Jasmine kembali duduk dengan sedikit canggung.
"Langsung saja… kamu benar-benar tidak ingat apapun tentang kami? Kamu tidak ingat dengan mawar hitam? Kastil? Ruang melukis? Dan novel yang kamu ambil dari perpustakaan?"
Permiro tidak memberi jeda dan langsung memberondong Jasmine dengan berbagai pertanyaannya.
Jasmine menggeleng dengan sedikit ragu.
"Jasmine… coba ingat-ingat lagi, kita pernah mencari ikan di sungai kamu juga pernah tinggal di rumah gubuk yang ada di hutan… kamu memanggilku One dan dia dengan panggilan Iro," lanjut None.
Jasmine berpikir dengan keras, gambaran-gambaran buram mulai tergambar di otaknya. Gambaran tentang dia yang mengelilingi pantai yang sepi kemudian masuk kehutan dan wajah salah satu dari mereka terlihat.
"Ah."
"Jasmine," ujar None seketika, ketika melihat Jasmine yang sedikit kesakitan. None berpindah duduk menjadi di samping Jasmine.
"Golden berry?" gumam Jasmine.
"Ya… itu salah satunya, kamu ingat? Kita pernah mencari buah itu beberapa kali," sahut None bersemangat.
Jasmine mencoba mengingat-ingat lagi dan hampir semua ingatan itu kembali.
__ADS_1
"Kalian… kalian yang menemaniku di hutan waktu itu?" Mata Jasmine berkaca-kaca entah ada apa dengan dirinya.
"Ya… kamu sudah mengingatnya?" tanya Permiro memastikan.
"Ya! Aku ingat."
Jawaban Jasmine seketika membuat keduanya bernapas lega.
Akhirnya Jasmine mengingat mereka, batin keduanya.
"One kamu sudah sembuh? Lukamu?" tanya Jasmine khawatir.
"Ya, aku sudah sembuh. Peluk aku."
Jasmine memeluk None dengan erat.
"Ah, aku senang mendengarnya. Kalian ke sini, apa ada urusan? Bukankah habitat kalian di hutan?"
"Habitat? Kamu pikir kami hewan?" tanya None kesal.
Permiro hanya diam menatap keduanya.
"Ya… kan kalian tinggal di hutan hehe."
None kembali memeluk Jasmine gemas tapi pelukan itu dipaksa lepas oleh pwrmiro dan tubuhnya kini digantikan oleh Permiro.
"Aku merindukanmu," bisiknya.
Brak
Pintu terbuka dengan kasar memperlihatkan laki-laki dengan ke-otoriterannya yang tinggi. Pakaian kantor masih melekat di tubuh atletisnya dan raut marah sangat jelas tergambar di wajah itu.
"Jasmine!" teriaknya.
Sial! Dia kecolongan. Tanpa Jasmine ketahui semua gerak-geriknya dapat diketahui oleh Orlando dengan mudah, tapi tadi ketika dua orang yang sangat amat dia tidak suka berada di dekat Jasmine datang, Orlando mencak-mencak dan pergi meninggalkan meeting Jasmine yang diganti olehnya.
Tidak peduli seberapa besar kerugian dari meetung itu, Orlando mampu menggantinya. Naas, di perjalanan ada kecelakaan yang membuat mobilnya terjebak. Pergi dengan menggunakan kekuatannya, itu sama saja dengan menunjukkan diri dia sebenarnya yang dapat membuat para pemburu kaumnya bermunculan.
Pelukan Jasmine dan permiro terlepas begitu Orlando menarik paksa tubuh Jasmine dan menggendongnya menuju kamar.
Semua yang ada di sana tidak ada yang berkutik barang sejengkal karena aura yang dikeluarkan Orlando sangat kuat dan menekan mereka.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍
__ADS_1
Instagram : @kahorlenis._