
Pukul 1 dini hari mata berwarna hazel itu mengerjap dan indera penglihatannya menangkap atap berwarna putih bersih. Kepalanya bergerak ke samping kanan dan mendapati 2 orang berbeda jenis sedang tidur dengan posisi yang saling bersandar.
Dia adalah Jasmine, Jasmine yang merasa haus berniat mengambil segelas air yang ada di atas nakas. Jari-jemari Jasmine sudah menggenggam gelas itu dan berniat akan mengangkatnya, hampir saja gelas itu jatuh karena tangannya yang masih lemas.
"Untung saja," ucap Austin yang tiba-tiba terbangun dan menahan gelas Jasmine dari bawah.
"Aku bantu," lanjut Austin.
Jasmine telah selesai minum dengan bantuan Austin.
"Kak?" panggil Fanny dengan mata yang mengerjap.
Entah mengapa tidurnya terganggu akibat Austin yang memindahkan kepalanya di sisi kursi yang lain.
Mata Fanny terbuka sempurna melihat pemandangan di depannya.
"Jasmine! Akhirnya kamu sadar!" pekik Fanny girang dan berlari untuk memeluk Jasmine.
"Jasmine masih sakit, Fanny. Pelukannya nanti saja, ya?" tahan Austin dengan memposisikan tubuhnya di hadapan Fanny yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Ganggu saja!" kesal Fanny.
"Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja? Atau ada yang sakit? Kepalanya? Pusing?" lanjut Fanny menyerobot Jasmine dengan banyak pertanyaan.
Sebelumnya, Fanny telah berhasil menyingkirkan tubuh Austin yang menghalanginya tadi.
"I'm fine," jawab Jasmine dengan nada yang pelan namun, masih bisa ditangkap oleh telinga Fanny.
"Mau makan? Atau tidur lagi? Ini masih gelap," tanya Fanny lagi.
"..."
"Ah, aku panggilkan Ners dulu untuk mengecek tubuhmu," sela Fanny sebelum Jasmine berhasil mengutarakan keinginannya.
Fanny berbalik menghadap ke arah Austin yang sedang duduk bersantai dan memainkan ponsel pintarnya.
"Kak Austin, panggilkan Ners untuk mengecek tubuh Jasmine barangkali ada yang salah," perintah Fanny seenaknya.
Austin menurunkan Pons pintarnya lalu menatap kearah Fanny dan berkata, "Kenapa kamu tiba-tiba bodoh? Di samping brankar kan ada Nurse Call."
__ADS_1
Fanny tertawa bodoh dan menepuk dahinya walaupun sedikit dongkol karena di Katai bodoh lalu menekan tombol itu tak lama Ners datang.
"Bagaimana?" tanya Fanny setelah Ners itu selesai mengecek tubuh Jasmine.
"Semuanya baik-baik saja, besok pasien sudah bisa pulang," jelas Ners itu.
Setelah Fanny mengucap terima kasih, Ners itu berlalu pergi dengan membawa papan dadanya.
"Sekarang kamu tidur, besok kita pulang," ujar Fanny dengan menata selimut Jasmine agar menutupi tubuh Jasmine hingga dadanya.
Jasmine telah tidur dan Fanny kembali duduk di samping Austin.
"Aku pergi dulu, kamu di sini sendiri berani?" tanya Austin.
"Kenapa jam segini pergi? Ini masih dini hari," timpal Fanny dengan pertanyaan lagi.
"Aku ada urusan penting, aku janji ketika kalian bangun esok aku sudah di sini," janji Austin.
Kenapa aku melarangnya!?, batin Fanny kesal.
"Pergilah, tidak perlu buru-buru besok aku bisa memesan taxi untuk mengantarkan kami pulang."
"Lebih baik aku tidur," gumam Fanny setelah Austin menutup pintu.
*****
"Ada apa Ibunda mencariku?" tanya Orlando ketika menemui ibunya yang ada di dalam kamar pribadinya.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan Mate-mu?"
Orlando menghela napas. "Belum Ibunda, dia sepertinya suka bersembunyi dari ku."
"Bersembunyi? Maksudnya?" tanya Elen tidak paham.
"Iya, bersembunyi. Aku beberapa kali hampir akan mendapatkannya namun, itu hanya kata hampir karena dia tidak ada."
"Begitu, jangan khawatir, dia pasti akan datang."
"Ibunda hanya ingin bertanya itu saja?"
__ADS_1
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku kira hal penting apa, baiklah aku keluar."
Orlando keluar dari kamar itu dan berjalan menuju kamarnya.
"Tiga hari sebelum bulan sabit tiba," gumam Orlando ketika melihat gulungan undangan dari Loupnoir pack.
Orlando mendudukkan dirinya di salah satu kursi di kamarnya.
"Kenapa aku bisa pingsan? Padahal aku merasa sudah sangat dekat dengannya."
"Sangat susah mendapatkanmu."
"Ketika nanti aku sudah mendapatkanmu, aku tidak akan melepaskanmu dengan alasan apapun!"
*****
"Di mana dia?"
"Kenapa tidak juga kembali?"
Permiro berdiri di dekat jendela yang menampilkan halaman depan kastilnya, menunggu kedatangan Jasmine yang tak kunjung pulang.
Perasaannya sangat tidak nyaman dan resah menyelimuti hatinya.
"Apa dia kembali?"
"Apa dia meninggalkanku sendiri?"
"Jasmine… dimana kamu?"
Semua orang resah dengan menghilangnya Jasmine, namun di balik itu ada seseorang yang tersenyum senang. Hal ini yang dia tunggu.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍