
Netra Jasmine berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam ruangan yang sedang ditempatinya melalui celah-celah bangunan.
"Bukannya tadi aku di pantai? Kenapa jadi di sini? Dan ini seperti…?"
"Jasmine?" panggil seseorang.
Dia None yang masuk ke dalam ruangan asing yang ditempati Jasmine.
"Kamu ingat? Ini kamar kamu dulu waktu tinggal disini, walau hanya satu hari," ujar None.
Jasmine duduk dengan bersandar pada headboard ranjang dengan None yang juga duduk di sisi kanannya.
"Ohh, pantas saja aku merasa tidak asing."
Jasmine menatap ruangan yang ditempatinya, ruangan dengan atap tinggi dan jendela besar yang selalu mampu memikat hati Jasmine.
"Kenapa aku berada di sini? Bagaimana dengan grandpa ku?"
"Kamu akan memulainya di sini. Untuk masalah grandpa mu, tidak ada yang perlu kamu risaukan," ujar None.
"Ayo keluar, kamu tidak ingin melihat black rose?" lanjutnya.
"Bukankah ini sudah malam?"
"Memang sudah, tapi kamu pasti bisa melihatnya."
Jasmine mengangguk dan turun dari tempat tidurnya, pakaiannya masih sama seperti ketika dia pergi ke pantai bersama Orlando. Berbicara tentang Orlando, dimana dia sekarang?
"One?" panggil Jasmine dan None yang mendengar itu menatap kebelakang lagi.
"Aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket," ujar Jasmine dengan mencium ketiaknya.
"Hahaha, aku sampai lupa. Mandilah dan pakai pakaian yang menurutmu nyaman."
None keluar meninggalkan Jasmine di dalam sendirian yang berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi itu tersedia kolam kecil atau yang biasa di sebut jakuzi.
Jasmine mengambil aroma terapi yang berjajar rapi dengan aroma yang menurut Jasmine terasa menenangkan.
Pakaian sudah terhempas dari tubuhnya dan perlahan memasukkan kakinya ke dalam air yang sudah ditambah aroma terapi.
Kepala Jasmine di letakkan dipinggiran jakuzi dan tubuh yang diposisikan senyaman dan serileks mungkin.
"Sangat menenangkan," gumamnya.
*****
Di dalam sebuah ruangan dengan banyak buku-buku kuno berjajar rapi di kayu jati bersekat dan sudah ditatat sedemikian rupa juga terdapat meja dengan temapt duduknya.
__ADS_1
"Kenapa tidak membawanya ke kastilmu? Apa kamu tidak ingin mereka tahu tentang keberadaan Luna mereka?" tanya Permiro menatap serius ke arah Orlando.
"Bukan, aku tidak ingin mereka tahu tentang keberadaan Luna mereka. Tapi keadaan kastil tidak sebaik apa yang dapat mereka lihat, aku tidak ingin Jasmine dalam bahaya. Dan tolonglah, kedudukanku sangat tinggi maka panggil aku Alpha!"
"Apa yang tidak baik? Aku bisa menyelesaikannya!"
"Aku tidak butuh bantuanmu! Aku hanya ingin kamu menjaga Jasmine sebaik mungkin! Dan bantu dia mempelajari beberapa hal, hanya beberapa karena yang lain harus aku!"
"Kenapa tidak kamu saja yang melakukan semuanya? Repot sekali kamu!"
"Kamu yang minta agar dia ke sini, aku menurutinya maka jaga dia ketika dia disini! Sopan santunmu sangat buruk!"
"Kalau dia di sini sampai selama-lamanya bagaimana?"
"Tidak tahu diri!"
Orlando meninggalkan ruangan itu. Kastil milik Permiro memang tidak seluas milik Orlando, tapi disini lebih terasa nyaman dan tenang dari pada kastil milik Orlando.
Sebuah pintu yang terbuat dari kayu dengan tinggil sekitar tiga meter menjadi tujuan Orlando. Dengan sopan santu yang sepertinya perlahan tertempel, Orlando mengetuk pintu itu.
"Siapa??" teriak pemilik ruangan itu dari dalam.
Orlando yang mendengar itu tersenyum sebentar lalu mendorong pintu itu dan terlihat perempuan dengan gaun bagian bawah yang membentuk A-line sedang berdiri di depan kaca full body dengan tangan yang mencoba menarik resleting yang berada di pinggangnya.
"You look gorgeous," bisik Orlando dengan membantu Jasmine menarik resletingnya.
"Mau kemana?" tanya Orlando berbisik di pundak Jasmine.
"Lihat black rose."
Tangan Orlando menyusup di antara pinggang dan tangan Jasmine dan berakhir memeluk pinggang Jasmine dari belakang.
"Hm? Black rose dimalam hari? Itu tidak akan kelihatan, Luna."
"Kata None, bisa kok, bisa kelihatan," ujar Jasmine dan tak lupa menggunakan nama asli.
"Dia membohongimu." Orlando menghirup aroma Jasmine yang menguar dengan hidung yang menempel di leher samping Jasmine.
"Jangan seperti ini," ujar Jasmine yang merasa terganggu dan geli atas tindakan Orlando.
"Berarti harus seperti ini?" Orlando tiba-tiba membalikkan tubuh Jasmine agar menghadapnya dengan tangan yang masih setia dipinggang ramping milik Jasmine.
Orlando mencium bibir Jasmine tidak hanya ciuman Orlando juga melakukan gerakan dengan bibirnya.
"Mau mencoba sesuatu?" tanya Orlando ketika ciuman mereka telah berhenti tapi posisi wajah Orlando dan Jasmine sangat dekat.
"Apa?"
__ADS_1
"Mendatangkan Hera, wolf-mu kemari, mau?"
"Apa yang akan terjadi padaku nantinya? Apa aku masih bisa kembali?"
"Kamu akan merasa tertidur di bagian terdalam tubuhmu, tidak ada hal serius yang akan terjadi dan tentunya kamu bisa kembali nantinya. Bagaimana? Mau?" Jasmine mengangguk.
Mata Orlando berkilat kuning keemasan dan menyorot tepat di pupil Jasmine membuat Jasmine tidak dapat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tatap mataku dan fokuskan pikiranmu hanya padaku," ucap Orlando dengan berbisik.
Jasmine menatap pupil mata Orlando yang mulai terlihat berbeda dari yang biasa Jasmine lihat dan itu adalah warna kuning keemasan, mata yang khas dimiliki oleh seorang werewolf.
Tangan Jasmine meremat bahu Orlando. Di dalam tubuhnya seakan ada yang ditarik untuk keluar dan itu menimbulkan rasa sakit untuk Jasmine.
"Tetap fokus, lampiaskan padaku. Kalau kamu sudah tidak bisa kedipkan matamu," bisik Orlando.
Ini tidak mudah. Hera berada dibagian terdalam tubuh Jasmine dan Hera seakan sudah terpenjara di sana. Hanya di waktu-waktu yang sudah ditentukan Hera dapat muncul, dan itu akan terjadi selama Jasmine bum tahu kebenarannya.
Tapi sekarang Jasmine sudah mengetahuinya dan sangat penting untuk wolf-nya keluar agar dapat membantunya di saat-saat yang genting nanti.
Jasmine masih berusaha memfokuskan matanya menatap mata Orlando. Remasan tangan Jasmine di bahu Orlando melemah dan sekana menyadari itu, Orlando langsung mengedipkan matanya.
"Kamu baik-baik saja? Jangan terlalu memaksakan karena ini memang tidak bisa hanya sekali."
Orlando mengusap peluh yang keluar di dahi Jasmine hingga membuat anak rambut yang ada disana menjadi basah.
"Rasanya rambutku ditarik dengan sangat keras hingga kulit kepalaku juga ingin ikut lepas," adu Jasmine menggambarkan rasa sakit yang dirasakannya.
"Kita coba lain kali. Mau keluar? Biasanya ada kunang-kunang di malam hari," ajak Orlando yang langsung diangguki Jasmine.
Mereka adalah pasangan alpha dan luna yang menjadi penguasa Wolfsmond pack, berjalan dengan langkah pasti menuju lantai bawah.
"Kalian mau kemana? Dan Jasmine… aku tadi mengajakmu pergi eknapa sekarang kamu bersama dia?" tanya None dengan merajuk.
"Kamu pergi sana! Jangan mengganggu!" usir Orlando.
"Kamu curang!" marah None dengan menunjuk Orlando tepat diwajahnya.
*****
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍
__ADS_1
Instagram : @kahorlenis._