
Jasmine didudukkan di ranjang yang ada di sana.
"Tetap di sini, jangan keluar dan jangan menguping," ujar Orlando sebelum akhirnya meninggalkan Jasmine sendirian yang masih terdiam.
Pintu di kunci oleh Orlando dari luar kemudian menuju lantai bawah menemui 2 orang yang berani datang ke apartmentnya.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Orlando. Itu hanya basa-basi karena Orlando sudah pasti tahu apa tujuan mereka.
"Tentu saja mengambil Jasmine kembali," jawab None.
"Owh, kau.
"Sudah sembuh ternyata, bagaimana? Apa kau ingin merasakannya lagi? Atau kalian berdua ingin beradu denganku?" Tantang Orlando.
Orlando yang berhadapan dengan None dan Permiro dengan kedua tangan Orlando yang bersedekap dada menatap tanpa takut pada kedua Rogue itu. Heh, dia seorang alpha.
"Kami tidak akan meminta agar kau mengembalikan Jasmine pada kami-."
"Berguna juga otakmu."
Ucapan penuh ejekan Orlando berhasil memantik api amarah di benak kedua Rogue itu.
"Sialan! Jaga mulutmu!" bentak Permiro.
"Wo, wo, wo, takut…."
"Kau berharap aku berujar seperti itu? Sayang sekali itu adalah salah satu hal mustahil.
"Jadi, silahkan kalian pergi sebelum aku paksa."
"Tidak sebelum Jasmine ikut dengan kami!" ujar None tidak terima.
"Bangunlah, None. Mimpimu terlalu indah ternyata."
None adalah tipe orang yang nekat dan bertindak tanpa berpikir panjang. Seperti saat ini, None dengan kemampuannya berlari cepat menuju lantai dua. Orlando yang melihat itu menyusul dan langsung mendorong mundur None dengan kuat hingga menghantam dinding.
Brak
"Ah," jerit None.
Leher belakang None mengeluarkan darah akibat Orlando yang mencekram leher None dengan kuku khas serigala yang tajam sebelum melemparkannya.
"Keberanianmu cukup baik, tapi aku tidak akan menghargai kebaikanmu itu."
"Sialan kau!!!" teriak Permiro.
Permiro menghantamkan kepalan tangannya ke rahang kanan Orlando.
Bugh
Orlando tidak menghindar, bukan tidak bisa menghindar tapi dia sengaja diam.
"Shh, lumayan," ujarnya dengan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Biar ku ajarkan cara memukul yang benar." Orlando membalas pukulan itu lebih keras dan darah seketika menyembur dari bibir Permiro.
Bugh
__ADS_1
"Itu baru pukulan."
"Kalian pergilah, aku cukup baik hati hari ini, tinggalkan tempatku dan biarkan aku bermesraan dengan Jasmine atau membuat penerus ku."
Orlando berbalik meninggalkan mereka. Dari kamar yang ditempati Jasmine, Jasmine mendengar suara-suara itu tapi dia tidak berani untuk keluar lagi pula kamarnya dikunci.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," ujar Jasmine.
Seperti tingkah pengecut yang menyerang dari belakang seperti itulah yang saat ini sedang Permiro lakukan. Permiro cukup kuat untuk melawan Orlando daripada None.
"Ups…." Orlando menghindar sebelum kaki panjang itu berhasil mendorong punggungnya.
"Apakah kalian pengecut? Apakah sekarang Rogue selalu menyerang ketika lawan tidak siap?"
"Mari kita bertarung," ajak Permiro.
"Dengan senang hati aku terima, sekalian untuk melemaskan otot-otot ku yang tegang."
Orlando memasang raut serius kali ini, tidak ada ampun untuk kali ini.
Pertarungan mereka cukup imbang sampai saat ini, keduanya sudah memiliki luka di beberapa bagian tapi belum ada yang berhasil ditumbangkan. Sedangkan, None yang seperti dilupakan keberadaannya perlahan berjalan menuju lantai atas dengan langkah yang sangat pelan.
Permiro yang melihat pergerakan None berusaha untuk membuat Orlando sibuk dengan segala serangannya.
"Kau tidak pantas untuk Jasmine," ujar Permiro dengan memukul salah satu pipi Orlando.
"Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain karena Jasmine milikku selamanya akan menjadi milikku!"
Bug
Permiro kembali memuntahkan darah, tingkat Rogue sudah pasti di bawah alpha. Pukulan Orlando tidak main-main bahkan Permiro merasa tubuhnya sudah melemah.
None telah sampai di lantai atas yang hanya terdapat satu pintu. None mencoba membuka pintu itu tapi tidak bisa karena terkunci, tidak kehabisan akal None menggerakkan knop pintu dengan kasar hingga terlepas.
"Jasmine?" panggilnya kala tak menemukan Jasmine di dalam sana.
"Ya?" sahut Jasmine yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ome? Astaga, kamu kenapa?" tanya Jasmine khawatir ketika melihat luka di leher None dan langkah kaki yang mendekat.
"Jangan mempermasalahkan hal ini, sekarang kita harus cepat-cepat pergi."
"Ah, oh, eh, sebentar-sebentar. Kalian berkelahi?"
"Nanti akan aku jelaskan sekarang kita pergi."
Di bawah Permiro berhasil Orlando lumpuhkan walau beberapa luka haru didapatnya. Orlando menatap sekitar dan menemukan kejanggalan dan benar ketika kepalanya mendongak Orlando langsung berlari ke atas.
Dah
"Aaaa," teriak Jasmine.
Didepan matanya dia menatap laki-laki dengan beberapa luka menghempaskan langkah kakinya ke dada None dengan keras.
None mundur akibat tendangan itu sesak napas langsung dirasakannya dengan batuk yang mengeluarkan darah.
"One," panggil jasmine dengan bergumam. Tangan Jasmine menutup bibirnya melihat pemandangan yang bahkan hanya pernah dirinya lihat di film-film action.
__ADS_1
Jasmine mendekat berniat menolong None.
"Jangan mendekat atau dia akan mendapatkan lebih dari hal ini," ancam Orlando.
Jasmine tidak menggubris, rasa kemanusiaannya timbul tidak mungkin dia membiarkan kekerasan terjadi di hadapannya.
"One, kamu baik-baik saja? Ayo kita harus pergi secepatnya seperti apa katamu," ujar Jasmine ketika berhasil menjangkau None.
Orlando mendekat berusaha menjauhkan Jasmine tapi Jasmine menahan posisinya agar tidak berubah dengan memeluk None yang sedikit mengeluarkan rintihan.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Pembunuh!"
"Aku tidak sesabar itu Jasmine." Orlando mendorong keras tubuh Jasmine hingga Jasmine terhempas.
"Karena tingkahmu dia harus menerima akibatnya!"
Orlando menarik kerah baju None dan menghantamkan banyak pukulan di wajah itu.
Jasmine berlari mendekat berusaha menghentikan tingkah Orlando.
"Stop! Aku bilang stop, Orlan!" ujar Jasmine dengan menarik tangan Orlando.
Merasa tidak akan membuahkan hasil Jasmine berganti mendorong keberadaan None yang sudah melemas hingga wajah mulus Jasmine terkena satu hantaman dari Orlando.
Bugh
"Awh," rintih Jasmine.
Seketika dunia Orlando terasa berhenti. Tangannya melemas bahkan matanya menatap nanar perempuan di depannya yang memegangi pipinya dengan rambut yang menutupi wajahnya.
"Jasmine… ma-maaf a-aku tidak berniat sungguh." Orlando mendudukkan tubuhnya menyamakan tingginya dengan Jasmine.
"Maaf," ujarnya lagi dengan mengusap pipi yang seketika meninggalkan lebam dan juga ternyata sudut bibir Jasmine juga mengeluarkan sedikit darah.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" tolak Jasmine.
"Jasmine… aku tidak bermaksud." Orlando berusaha menjelaskan tapi semua tidak akan mengubah segalanya.
Tangannya, tangannya menyakiti Jasmine-nya. Jasmine terluka karenanya.
Arghhh
Orlando mengerang frustasi dan kini berganti kepalan tangannya memukul tembok terdekat hingga berdarah.
"Sialan!!! Ini salahmu!!" teriaknya marah entah pada siapa.
"Sialan, sialan, sialan!!!!"
Tangan itu terus menghantam benda yang terbuat dari campuran pasir serta semen. Buku-buku Orlando mulai mengeluarkan darah karena kulitnya yang mulai terkelupas.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
Tinggalkan jempol kalian👍
__ADS_1
Instagram : @kahorlenis._