JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
47. SESUATU


__ADS_3

None dan Permiro sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa yang tidak jauh dari ruangan Jasmine.


Jasmine telah bangun ketika mentari kembali muncul dan memancarkan cahayanya. Di ruangannya tidak ada siapa-siapa tapi tak lama Ners datang dan memeriksa keadaannya.


"Keadaan Nona sudah membaik, siang ini Nona bisa pulang," ujar Ners itu.


"Terima kasih, Ners."


Jasmine adalah salah satu orang yang tidak suka dengan rumah sakit apalagi bau obat yang bisa membuatnya mual, karena tidak ingin berlama-lama diruangan itu Jasmine memilih untuk pergi ke taman rumah sakit dan menikmati udara pagi yang masih segar.


"Infus dilepas tidak masalah, bukan?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri.


Jasmine akhirnya melepas infus itu dan menutup bekas infus dengan hansaplast yang terdapat di laci nakas.


Jasmine berjalan keluar dengan menggunakan sandal rumah sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena dia hanya mendapatkan lebam di pipinya.


Seperti dugaan Jasmine dan yang pasti diketahui semua orang, udara pagi sangat menyejukkan dengan embun yang jatuh dari helaian daun.


Jasmine duduk di rerumputan dan melepas alas kakinya.


"Sejuk."


Tanpa Jasmine ketahui Matthew yang baru kembali dari kantin sehabis membeli makanan untuk sarapan Jasmine karena Jasmine tidak suka dengan makanan yang hambar.


"Jasmine? Jasmine kamu dimana?"


Matthew kebingungan mencari Jasmine, di pikirannya langsung tertuju pada Orlando dan bisa-bisa dia di buat sekarat seperti dua orang yang sedang terbaring.


Matthew sendirian tidak ada Jo yang membantunya karena sedang menggantikan Orlando untuk meeting.


"Ini infus?" tanyanya heran ketika infus itu lepas.


Matthew mendekat ke arah kamar mandi dan mencoba mengetuk pintu itu.


Tok, tok, tok


"Jasmine… kamu di dalam?"


Beberapa kali ketukan tidak mendapat jawaban akhirnya matthew memilih membuka pintu itu dan ternyata kosong.


"Astaga… mati aku kalai sampai Orlando tahu."


Matthew segera keluar dan meminta agar 2 bodyguard yang baru datang untuk mencari keberadaan Jasmine.


"Dari mana kalian?!" tanya Matthew dengan marah.


Bagaiman dua orang dengan badan besar bisa kecolongan seperti ini.


"Tuan… selamat pagi. Kami dari kantin untuk sarapan."


"Sarapan?! Bagaimana bisa kalian meninggalkan Jasmine sendirian tanpa penjagaan?!"


"Tadi sebelum kami pergi kami mengecek bahwa Nona Jasmine sedang tidur jadi saya pikir aman-aman saja meninggalkannya seorang diri."

__ADS_1


"Aman-aman?! Mana?! Dia hilang! Cari segera! Sampai Orlando datang dan kalian belum menemukan Jasmine ku penggal kepala kalian!" ancam Matthew.


Kedua pengawal itu segera berpencar mencari nona mereka yang menjadi penentu apakah kepala mereka masih bisa menempel dengan leher atau harus dilepas dengan paksa?


Di tempat Jasmine saat ini dia sedang memakan es krim yang diberi seseorang untuknya.


"Enak?"


"Enak… dingin apalagi ini masih pagi."


Laki-laki itu menatap Jasmine penuh damba. Mata itu memancar penuh kehangatan untuk Jasmine yang sedang memakan es krimnya.


"Credere, ah tidak maksudku kak Dere."


"Hem? Kenapa? Panggilanmu lucu sekali."


"Benarkah? Aku berpikir kalau aku memanggil kakak dengan nama tidak mungkin karena kakak lebih tua dari aku juga kalau panggil kak Cred kan tidak cocok."


"Tua? Apa aku terlihat sangat tua? Tapi kenapa banyak wanita mendekati aku? Lihat banyak orang yang melirikku."


"Ah, tidak tua lebih apa ya?? Pokoknya kakak kan lahir lebih dulu dari aku."


Dari kejauhan terlihat Orlando yang berjalan mendekat.


"Credere? Kenapa kamu di sini?" tanya Orlando begitu Samapi di sana.


"Ah, alpha Or-, eh apa aku???" tanya Credere ragu dengan menatap ke arah Jasmine.


"Kenapa kamu keluar sendiri? Kenapa tidak menunggu aku datang?"


"Aku bosan, kamu tahu bau di sana sangat tidak enak dan hampir membuatku mual."


"Kenapa tidak ada pengawal bersamamu? Matthew dimana dia?"


"Tidak sopan! Panggil grandpa Matthew bukan Matthew!"


"Itu sudah lebih baik, Luna. Lagi pula Matthew tidak ada masalah dengan hal itu"


"Tapi tidak sopan!" Orlando hanya diam tidak menyahuti.


"Orlan?"


"Hem? Kenapa?"


"Kamu tahu… aku selalu merasa aneh ketika kamu menyebut kata itu."


"Tentu saja, kata itu sangat keramat. Sejujurnya aku tidak bisa memanggilmu seperti itu karena ada akibat yang sangat mengenakkan yang tidak bisa ku jalankan saat ini, tapi aku ingin menggodamu jadi tahan dirimu."


"Terserah apa katamu, aku tidak paham."


Keduanya diam dan tetap berjalan dengan pinggang Jasmine yang dirangkul Orlando.


"Orlan… bagaimana keadaan One dan kak Iro?"

__ADS_1


Orlando menggeram kesal. "Aku sudah bilang panggil nama aslinya tidak perlu dengan panggilan seperti itu!"


"Aku sudah terbiasa."


Orlando tiba-tiba merapatkan tubuh Jasmine ke tubuhnya ketika sesuatu tak terlihat hendak menyerang Jasmine.


"Sialan! Siapa mereka?!"


Jasmine yang mendengar gumaman Orlando bertanya dan heran karena dia tidak merasakan apapun.


"Orlan, ada apa? Kenapa kmu mengumpat?"


"Ada sesuatu yang ingin menyerangmu."


Mereka kembali berjalan dengan Orlando yang meningkatkan kewaspadaannya.


"Sesuatu? Apa itu? Bahkan aku tidak melihat ada peluru yang ditembakkan atau yang lewat ditubuhku, anak panah dan sejenisnya."


"Bukan hal seperti itu, kalau seperti itu semua orang pasti teriak."


"Lalu apa?"


"Sihir."


"Hah? Sihir? Itu ada?"


"Ya, tentu saja ada."


Mereka telah sampai di ruangan Jasmine.


"Kamu melepas infusmu?" tanya Orlando ketika melihat tiang infus di sana.


"Iya, aku merasa tubuhku baik-baik saja dan tidak membutuhkan cairan itu. Lagi pula kenapa baru sadar?"


"Apa terluka? Darah?" Orlando mengecek tubuh Jasmine.


"Sedikit. Memangnya kenapa? Itu hal biasa bukan?"


"Tidak biasa lagi ketika kamu telah mengetahui siapa diri kamu sesungguhnya dan ketika Hera sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuhmu."


"Rumit."


"Kamu akan memahaminya."


TBC


Note :


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍


Instagram : @kahorlenis._

__ADS_1


__ADS_2