
Di salah satu kamar di rumah sakit terdapat dua orang yang telah bersiap untuk pergi dan hanya tinggal menunggu seseorang yang akan menjemput mereka.
"Kamu dimana!?" sentak Fanny ketika sambungan telepon sudah terhubung.
"..."
"Bisa tidak menjemput kami? Kalau tidak bisa kita pulang sendiri!"
"..."
Tut
Sambungan dimatikan Fanny begitu saja, amarahnya membumbung tinggi ketika orang yang di teleponnya masih ada di jalan.
"Kita naik taksi saja, ya," ujar Fanny pada Jasmine.
"Boleh, ayo!"
Keduanya berjalan keluar dengan Jasmine yang dituntun Fanny, takut-takut nanti terjatuh.
Mereka sampai di lobi dan sudah ada taksi yang di pesan Fanny tadi. Keduanya langsung masuk dan mobil bergerak menuju alamat pesanan.
Di pertigaan taksi mereka mengerem mendadak hampir menabrak sebuah mobil yang tiba-tiba menghadang.
"Fanny! Pindah ke mobilku!" titah seorang laki-laki dengan berteriak ke sisi kanan mobil.
"Kamu pulang saja sendiri! Kita naik taksi!" kekeh Fanny.
"Cepatlah pindah! Kamu tidak melihat banyak mobil yang mengantri di belakang!"
Suara klakson memang memekakkan telinga akhirnya Fanny memutuskan untuk pindah ke mobil laki-laki itu yang tak lain Austin bersama Jasmine juga.
__ADS_1
Sebelumnya, Fanny sudah membayar taksi tersebut.
"Kenapa kamu tidak langsung pulang saja! Dari pada membuat keributan seperti tadi!" omel Fanny ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan melaju menuju rumah Jasmine.
"Kan sudah aku bilang, kalian pulang aku jemput! Kenapa malah pesan taksi!"
"Salah kamu lama!"
"Tadi aku pesan untuk tunggu sebentar!"
"Nyenyenyenyenye."
Perdebatan berhenti ketika Austin tidak menyahuti lagi, sedang seseorang yang berada di antara mereka hanya diam menatap dua kursi di depannya.
Mobil mereka berhenti di rumah berwarna putih dua tingkat dengan halaman yang luas.
"Nona Jasmine!" pekik laki-laki berpakaian formal ketika melihat Jasmine turun dari mobil Austin.
"Tuan Matthew merindukan anda, Nona. Dan saat ini beliau sedang sakit."
"Grandpa sakit? Dia pasti kelelahan!" Jasmine bergegas melangkah masuk kedalam rumahnya dan menuju kamar grandpa-nya.
"Grandpa! Kenapa Grandpa sampai sakit? Aku kan sudah bilang jangan terlalu sibuk dengan kertas-kertas itu!" oceh Jasmine ketika pintu kamar Matthew sudah dibuka.
"Ah, cucu cerewetku akhirnya pulang," sahut Matthew dengan melepas kacamata bacanya.
"Paman Jo bilang Grandpa sakit? Kenapa masih mengurusi kertas-kertas itu!?"
Jasmine menyingkirkan kertas-kertas yang ada disalah satu sisi Matthew juga mengambil yang di pegang Grandpa-nya.
"Grandpa hanya kelelahan biasa, lagi pula umur Grandpa sudah banyak jadi hal seperti ini sudah biasa," ucap Matthew mencoba mengelak.
__ADS_1
"Grandpa itu kebiasaan! Kenapa tidak dirumah saja biarkan pekerjaan Grandpa paman Jo yang mengurus," ucap Jasmine dengan mengambil duduk disisi tempat tidur.
"Kenapa tidak kamu saja? Kamu kan cucu Grandpa satu-satunya dan yang akan meneruskan perusahaan itu kamu."
"Grandpa!"
"Kenapa, Jasmine? Sudah seharusnya bukan kamu yang meneruskan perusahaan itu, bukan Jo."
"Tapi Grandpa… aku masih ingin menjadi model."
"Pikirkan baik-baik, Jasmine. Kamu satu-satunya dan mau tidak mau kamu akan meneruskan perusahaan itu."
"Aku ke kamar," ucap Jasmine dan berlalu pergi ke kamarnya.
Kamar dengan warna yang tenang menyambut kedatangan Jasmine. Jasmine memasuki kamarnya dan membersihkan tubuh di kamar mandi kamarnya.
Jasmine keluar dengan baju rumahannya dan mendudukkan tubuhnya di kursi kamarnya.
"Apa aku harus berhenti menjadi model?"
"Tapi kontrak kerjaku masih satu bulan."
Jasmine bingung, dia ingin membantu kakeknya agar tidak kelelahan. Tapi dia sedikit sulit untuk melepas karir modelnya.
Di sela-sela kebingungannya, mata Jasmine menangkap buku dengan warna yang sudah menguning yang ada di tumpukan majalahnya.
"Behind the world? Romance?" gumam Jasmine dengan membolak-balikkan buku tersebut.
"Ini kayak… yang di mimpi."
"Jasmine! Ayo kita keluar," ajak Fanny tiba-tiba.
__ADS_1