
Pagi telah tiba dan Jasmine saat ini telah bangun dari tidurnya.
"Badanku lengket semua!" keluh Jasmine dengan mengangkat kedua tangannya.
Jasmine beranjak dari duduknya dan berjalan keluar untuk mencari udara yang selalu segar terutama di pagi hari.
"Kak! Ke sungai yuk," ajak Jasmine pada Permiro yang sedang menyenderkan tubuhnya di salah satu pohon dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Mau ngapain ke sungai pagi-pagi?" tanya Permiro yang telah menegapkan tubuhnya dan menatap ke arah Jasmine.
"Mandi," jawab Jasmine dengan di akhiri senyuman yang menunjukkan giginya.
"Badanku lengket semua, nggak nyaman," keluhnya.
"Emang ada baju ganti? Mandi kan bajunya di lepas semua, nggak malu?" tanya Permiro.
"Kalau baju ganti nggak ada, ya mandinya pakai baju semua aja gitu nanti biar kering sendiri kena angin."
"Nanti kamu sakit, terus kalau badanku gatal-gatal gimana?"
"Bilang aja kalau nggak boleh!" ketus Jasmine.
Permiro menghela napas tak lama kemudian None datang dengan membawa singkong.
"Kenapa dia?" tanya None setelah meletakkan singkongnya.
"Ngajak ke sungai, mau mandi."
"Lah, kan di sini nggak ada baju gimana mau mandi? Mandi di sungai juga."
"Tapi, badan aku lengket semua, One!"
None sedikit kasihan melihat Jasmine, selama di sini Jasmine belum mandi dan berdasarkan ceritanya kemarin Jasmine tersesat ketika pemotretan yang pastinya badannya lelah dan lengket.
"Kita ajak aja ke sana," bisik None pada Permiro sembari melihat ke arah Jasmine yang sudah menekuk wajahnya.
"Kasihan dia, badannya pasti gatal-gatal," lanjutnya masih berbisik.
"Nggak bisa, None," jawab Permiro ikut berbisik.
"Kenapa? Lagian di sana nggak ada siapa-siapa."
"Nggak ada siapa-siapa, tapi di sana bahaya!"
"Ngapain bisik-bisik gitu!?" sinis Jasmine
"Ya udahlah ayok antar aku pulang!"
"Makan singkong dulu, aku rebusin, ya?" tanya None.
"Nggak usah, masih kenyang. Kan tadi pagi banget habis makan."
None menghela napas lalu berujar, "Ayo."
None dan Jasmine telah berjalan bersisian, sedangkan Permiro masih diam di tempatnya.
"IRO! KAU IKUT TIDAK?" teriak None dari kejauhan.
"YA!" jawab Permiro ikut berteriak.
Akhirnya Permiro menyusul dengan langkah santai walaup sudah tertinggal jauh.
"Kalau aku pulang nanti, pasti aku akan merindukanmu," ujar Jasmine tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalau merindukanku, tidak usah pulang, di sini saja."
"Siapa yang rindu?"
"Apaansih!" jawab Jasmine kesal pada Permiro yang bertanya tiba-tiba.
"Kesal?" tanya Permiro.
"Dih, siapa kamu? Mau banget."
"Ketus banget...." balas Permiro dengan nada menirukan Jasmine dan mengapit hidung kecil Jasmine dengan jari telunjuk dan tengahnya.
"Sakit tau!" kesal Jasmine dengan mengusap-usap hidung kecilnya setelah Permiro melepas jepitannya.
"Maaf-maaf," sesal Permiro dengan ikut mengusap-usap hidung Jasmine.
Suasana di sekitar mereka sunyi dengan Permiro yang masih mengusap-usap Jasmine begitupun Jasmine sendiri, sedangkan None dia menyenderkan tubuhnya di salah satu pohon dan menjadi penonton setia sejak pertemuan mereka.
"Masih sakit?" tanya Permiro dengan diakhiri kecupan kecil di titik tertinggi hidung Jasmine.
Jasmine yang mendapat perlakuan seperti itu terdiam membeku. Sedangkan, None bibirnya terbuka lebar siap dimasuki serangga.
"Iro sialan!" kesal None tiba-tiba setelah sadar dari bengongnya.
Jasmine akhirnya tersadar ketika seekor kupu-kupu hinggap di hidungnya.
"IRO! SIALAN KAU!" teriak Jasmine dengan memukul bahu lebar Permiro.
"Eh, aduh!" keluh Permiro, bukannya dia lemah tapi pukulan bertubi-tubi itu membuatnya kualahan.
"Jasmine!" sebut Permiro dengan nada penekanan dan tangan yang sudah menggapai kedua pergelangan tangan Jasmine.
Jasmine diam dan tak lama mendengus kesal serta melepas kedua tangannya dari genggaman Permiro kasar.
"Itu, si Jasmine katanya kalau dia pulang nanti dia akan merindukanku dan aku bilang nggak usah pulang, di sini saja," jelas None.
"Jasmine merindukanmu?" tanya Permiro dengan nada yang terdengar mengejek di telinga None.
"Ya, emangnya salah? Aku kan orangnya menyenangkan," jawab None songong.
"Orang?" tanya Permiro.
"Kamu hanya merindukan dia Jasmine, kamu tidak merindukan kakakmu ini?" tanya Permiro dengan nada yang dibuat-buat.
"Kamu ini kenapa kak?, tiba-tiba bersikap yang tidak sepertimu," tanya Jasmine heran.
"Ah, sudahlah lupakan," ucap Permiro yang melenceng jauh dari topik mereka.
"Jadi, bagaimana kalau tidak usah pulang? Kan kamu di sana merindukan kami, jadi lebih baik kamu di sini agar kamu tidak merindukan kami," ucap Permiro panjang lebar.
"Mana bisa gitu? Aku juga merindukan kakekku, Fanny juga walaupun mereka sedikit cerewet."
"Lalu nanti kamu akan melupakan kami?" tanya Permiro.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak."
"Kok gitu?" sahut None bertanya.
"Aku kan di sana pasti akan kembali sibuk jadi, aku mungkin hanya punya sedikit waktu untuk memikirkan hal itu dan juga aku sedikit pelupa," jelas Jasmine dengan diakhiri cengengesan.
"Jawabanmu membuat hatiku menangis," ujar None dengan memegangi dadanya dramatis.
"Udahlah nggak usah bahas itu lagi, nanti kalian ikut aku saja pulang agar aku tidak merindukan kalian dan kalian tidak aku lupakan. Aku punya banyak kamar di rumah."
__ADS_1
"Ayo kita jalan lagi," ajak Jasmine.
Mereka terus berjalan menyusuri hutan hingga matahari mulai memunculkan semburat jingganya.
"Sepertinya kita tadi hanya berjalan berputar-putar, aku sudah lelah," ujar Jasmine dengan peluh membasahi tubuhnya.
"Kita duduk dulu," ajak Permiro.
Mereka duduk dengan Jasmine menyenderkan tubuhnya di pohon.
"Kamu tinggal dengan kami dulu ya, hutan ini sangat lebat dan semua terlihat sama. Dan sekarang hari mulai sore, jadi lebih baik kita kembali," jelas Permiro dengan tangan yang memijat betis Jasmine begitupun dengan None.
Mata Jasmine mulai berkaca-kaca bersiap membuat sungai kecil di sana yang akan mengalir membentuk air terjun alami versi kecil.
"Aku merindukan kakekku," ujar Jasmine dengan isakan yang masih bisa di tahan.
"Iya, tapi hari sudah mau petang dan kita tidak mungkin berjalan di tengah hutan yang gelap tanpa penerangan," ujar Permiro.
"Bisa saja nanti ada hewan liar yang bisa menyerang kita," lanjutnya.
"Kita pulang, ya? Kamu kakak gendong," ajak Permiro dan bersiap mengangkat tubuh Jasmine.
Jasmine yang memang lemas karena tadi hanya memakan buah berry yang ada di hutan menurut saja.
Mereka pergi dengan Jasmine yang berada di gendongan Permiro untuk kedua kalinya.
Hutan sudah gelap bersamaan dengan sampainya mereka di rumah gubuk itu.
"Kamu makan ini ya, untuk mengganjal perutmu. Besok kita cari ikan yang banyak, oke?" ujar None dengan memberikan berry yang cukup banyak pada Jasmine yang duduk di kasur kayu.
"Hm, terima kasih," jawab Jasmine dengan menerima berry itu.
"Setelah makan kamu tidur, aku dan iro di luar," ucap None dengan mengusap puncak kepala Jasmine dan berlalu keluar setelah Jasmine mengangguk.
None keluar menemui Permiro yang sedang berdiri menatap hutan yang gelap.
"Aku merasa, kita akan kedatangan 'tamu' malam ini," ujar Permiro tiba-tiba ketika merasakan kedatangan None.
"Tamu?"
"Ya, dan aku juga merasa kalau 'tamu' itu akan membawa sesuatu yang sepertinya akan mengejutkan kita."
"Semoga bukan hal buruk," harap None yang diangguki Permiro.
Tiba-tiba angin kencang menggoyangkan semua pohon disana hingga terasa seakan angin itu akan tumbang. Rumah gubuk mereka juga terasa bergerak seakan akan tertarik angin itu.
"Lihat Jasmine di dalam dan pastikan dia sudah tidur!" titah Permiro yang langsung di segerakan oleh None.
"Permiro!" panggil suara itu yang terdengar diantara pohon.
"Aku ada perintah untukmu," lanjut 'seseorang'
Orang itu muncul dengan wajah yang sangat-sangat cantik dan tubuh yang sangat proporsional dengan segala kesempurnaan dan segala keistimewaan yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun.
"Moon goddess," gumam None ketika baru keluar dari pintu dan langsung menyentuhkan salah satu lututnya di tanah dan kepala yang ditundukkan.
Tak jauh berbeda dengan Permiro yang juga memposisikan dirinya seperti None ketika orang itu menampakkan dirinya diantara pohon.
TBC
Note :
Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3
__ADS_1
Tinggalkan jempol kalian👍