JASMINE : AM I A WEREWOLF?

JASMINE : AM I A WEREWOLF?
13. KEHERANAN JASMINE


__ADS_3

"Ini masih jauh lagi?" tanya Jasmine yang mulai kesal.


"Kenapa dari tadi kita belum sampai, perasaan kemarin dekat," lanjutnya.


Permiro dalam hatinya juga heran kenapa mereka tidak kunjung sampai?


"Kita kembali saja ke gubuk, kaki ku mulai lelah dan hutan ini hampir gelap sepenuhnya," ucap Jasmine lesu yang tentunya di setujui keduanya.


"Mau kakak gendong?" tawar Permiro yang seketika membuat Jasmine hampir tersedak ludahnya sendiri.


"Uhuk... ehem... nggak--nggak usah, kak," tolak Jasmine.


"Aduh... gendong aku aja gimana?" ledek None dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


Bugh


"Diamlah!"


None mendapat pukulan dari Permiro di perutnya yang membuatnya sedikit mundur.


"Ayo jalan sekarang," ajak Jasmine.


Mereka kembali berjalan memutar arah kembali ke gubuk.


Beberapa meter mereka berjalan dan berpindah dari posisi awal Jasmine hampir limbung apabila Permiro tidak menahannya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Permiro dengan nada khawatir.


"Kakak gendong saja, ya? Kamu tadi belum makan makanya tenaga mu habis," ucap Permiro.


"Nggak usah, kak," tolak Jasmine.


"Eh," kagetnya.


"Kakak tidak mau ambil resiko ketika kamu jatuh lagi, jadi kamu kakak gendong jangan menolaknya, oke?" tegas Permiro ketika Jasmine sudah berada di gendongannya.


"Ikuti saja apa kata Permiro, Jasmine. Dia dan tentu saja aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa," sahut None.


Jasmine yang mendengar ucapan keduanya akhirnya mengangguk, sejujurnya Jasmine memang kelelahan dan tubuhnya seperti sudah tidak memiliki otot.


Ketiganya berjalan, maksudnya None dan Permiro yang berjalan sedangkan Jasmine berada di gendongan Permiro.

__ADS_1


"Dia landak mu?" tanya None tiba-tiba ketika mereka melewati seorang perempuan berambut panjang yang sedang menunduk dengan landak di sisi kakinya.


Perempuan itu mendongak dan melihat ke arah None, lalu berdiri.


"Ya, kenapa?" tanya perempuan itu.


"Aish, apakah dia tuli?" gumam None dengan suara yang hanya dapat di dengar dirinya saja.


"Itu landak mu? Kalau iya, tolong jaga baik-baik," terang None.


"Iya, ini landak ku. Memangnya kenapa? Aku biasa membebaskan dia pergi kemanapun," jawab perempuan itu dengan menunjuk landak di sisi kakinya ketika mengucapkan kata 'dia'.


"Landak itu hampir mencelakai seseorang dengan duri tajamnya itu," ucap None mulai kesal.


"None, ayo lanjutkan jalanmu!" titah Permiro.


Permiro dengan membawa Jasmine di gendongannya berjalan meninggalkan None sendiri hingga membuat None terpaksa mengikuti mereka, padahal dia masih ingin 'menasihati' perempuan tadi.


"Kenapa kamu mengajakku cepat-cepat, kan aku masih ingin menasihati perempuan itu," ucap None kesal.


"Kamu tidak tahu hari hampir gelap sepenuhnya dan Jasmine butuh istirahat, kalau kamu masih ingin menasihati perempuan itu silahkan kembali sendirian karena aku dan Jasmine akan kembali ke gubuk."


None diam dan berjalan dengan langkah kesalnya. Kalau Jasmine, dia tertidur di gendongan Permiro.


"Kamu jaga dia, aku akan pergi ke sungai tadi untuk mengambil ikan agar Jasmine bisa mengisi perutnya," pesan Permiro pada None yang duduk di kursi kayu yang tampak usang.


"Hem."


"Jawab yang benar, kau ini!" kesal Permiro dan tanpa menunggu jawaban None dirinya langsung pergi menuju sungai.


Seperginya Permiro, None hanya duduk dan menatap ke tempat tidur Jasmine.


"Pertemuan pertama dengan dia, Permiro tidak dapat menyentuh," gumam None.


"Tapi selanjutnya, Permiro bisa menyentuhnya dan aku juga bisa bahkan tadi sampai menggendongnya. Sebenarnya, siapa dia?"


"Harusnya, untuk sampai ke perbatasan tadi sangat dekat... tapi kenapa tadi tak kunjung sampai dan aku menyadari kalau tadi aku hanya berputar-putar."


*****


Tengah malam tiba-tiba Jasmine terbangun dan menatap sekitar tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


Jasmine berjalan keluar dan dia mendapati Permiro yang ada di sana sedang menatap sekitar dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Kak!" panggil Jasmine halus.


"Eh, sudah bangun," kaget Permiro lalu berbalik mendapati Jasmine sedang menatapnya.


"Sudah."


"Mau makan?" tawar Permiro.


Jasmine diam sebentar dan berpikir, Ini sudah malam, apa iya ada makanan? Sedangkan ini di hutan bukan kota dengan restoran 24 jam.


"Em... nggak."


"Loh kenapa? Emangnya nggak lapar?" heran Permiro.


"Nggak kok," ucap Jasmine menyakinkan. Namun, sayang itu semua hancur ketika perutnya berbunyi.


"Itu perutnya bunyi, ayo ke dalam tadi aku mengambil ikannya di sungai yang belum di bakar dan None sedang membakarnya di belakang," ajak Permiro dengan mendorong tubuh Jasmine agar berjalan masuk ke dalam lagi.


"Kalian aku cari juga! Aku kira Jasmine hilang," ucap None kesal ketika melihat Jasmine dan Permiro yang baru memasuki gubuk.


"Maaf One, tadi aku hanya kepikiran untuk melihat ke depan dari pada ke belakang," ringis Jasmine.


"Tidak apa-apa, ayo makan ikannya sudah matang," ajak None.


Ketiganya telah duduk di tikar lusuh yang terbuat dari rotan yang dianyam.


"Ini, kamu makan yang banyak," ujar None dengan memberikan satu ekor ikan.


"Kalian?" tanya Jasmine ketika melihat hanya ada satu ekor ikan dan itu berada di atas daun jati miliknya yang menjadi alas makan.


"Kita sudah tadi," ucap Permiro yang sepenuhnya bohong, karena ikan hasil tangkapannya tinggal satu yang belum di bakar tadi.


"Iya, kamu makan saja nanti pingsan lagi," ucap None dengan ejekan di akhirnya.


Ya, seperti biasa Jasmine menuruti ucapan keduanya. Selesai makan dan setelah Jasmine mencuci tangan di sumur di belakang gubuk dengan di temani None kini mereka telah berkumpul lagi.


TBC


Note :

__ADS_1


Bantu tandain apabila ada kata yang belum sesuai ya <3


Tinggalkan jempol kalian👍


__ADS_2