
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
MENUJU SUMMIT, Puncak Majakuning, Ciremai, 3.078 mdpl
Sebenarnya, paling oke untuk summit ke puncak itu waktu matahari terbit. Tapi apa daya, badan kok males gerak banget, mana pas sore dan malamnya hujan, jadinya niat bangun jam 3 pagi buat muncak cuma tinggal niat aja. Bangun-bangun dan sadar udah jam 6, sempat sarapan sebentar, trus beres-beres camp baru naik.
Normalnya, perjalanan menuju puncak butuh waktu 3 jam. Tapi karena saya jalannya lumayan lelet (padahal sudah tidak bawa carrier), jadinya waktunya memanjang sampai 4 jam. Sepanjang perjalanan saya sempat foto-foto juga sedikit. Omong-omong, jalurnya cantik banget kak, curam!
Dari persimpangan Jalur Palutungan sampai Jalur Apuy ini, sebenarnya puncak sudah ga begitu jauh, kurang lebih 45 menit. Tapi jalurnya lebih pedes daripada cubitan emak.
Nah, dari Pos Gua Walet ini tinggal 300 meter lagi ke puncak. Tapi karena ngebayanginnya aja kaki udah gentar, kami duduk-duduk dulu, nyemil dulu, minum dulu, poto dulu. Hahahah, ya gimana dong, gemetar liat jalurnya kak. Oh iya, ini jalurnya gabungan batu dan pasir, rawan terpeleset kalau kurang hati-hati.
Memang rezeki, setelah nyeri-nyeri di betis, di paha, dan di dada, kami berempat sukses sampai Puncak Majakuning Gunung Ciremai! Takbirrr! Itu pas sampai atas, segala-segala yang udah dilewatin sepanjang jalan berkelebat cepat di kepala. Maunya sih nangis kenceng, tapi maluuu, jadi diem aja trus rapatkan gigi kuat-kuat.
Boleh kan ya ngerasa bangga ke diri sendiri? Saya sudah sempat ngerasa ga mampu, sempat punya niat untuk mundur, beberapa kali terlintas. Saya sempat mau bilang “udah naik aja bertiga, biar aku yang jagain tenda”, tapi trus omongan itu saya telan sebelum sempat ke luar dari mulut. Saya memutuskan jalan terus, geret kaki, meneguhkan hati. Nangis. Hooh, saya pemimpi banget memang. Saya bilang ke diri sendiri kalau saya bisa, tidak inget berat badan, tidak ingat umur. lanjut nangis.
__ADS_1
Kami tidak lama-lama banget di puncak, sekitar setengah jam aja karena udah tengah hari dan rencananya mau ngejar bus menuju Jakarta malam ini. Jadi, setelah foto-foto, kami jalan turun menuju Pos Pesanggrahan lagi. Kalau perjalanan naik makan waktu 4 jam, turunnya cuma perlu 2 jam.
Di camp kami beres-beres dan makan siang. Cuaca mulai tidak enak, beberapa kali hujan kecil, hujan sedang, setelah mulai reda, sekitar jam 4 sore, kami mulai jalan turun. Waktu kami sampai ke Pos Pangguyungan Badak, hari mulai gelap. Saya pakai headlamp untuk bantu liat jalan.
Entah kenapa pas mulai gelap itu saya kok rasanya kelelahan banget. Sudah bolak-balik minum, bolak-balik berhenti untuk istirahat, tapi badan tidak enak, kayak demam. Saya terus berusaha jalan, tapi tenaga rasanya abis banget, kayak disedot. Sampai di Kuta, saya udah lemes dan bilang tidak kuat. Tapi karena tempatnya tidak memungkin kan buat istirahat, saya di minta jalan terus sampai ke Cigowong.
Dari Kuta ke Cigowong ini saya udah kaya orang linglung sih, sempat dua kali jatuh terpeleset, pandangan juga mulai berkunang-kunang. Sekitar 200 meter sebelum Pos Cigowong, carrier saya diambil alih paksa oleh teman saya dan dibawakan ke pos.
Di Pos Cigowong, cerita horor kedua (setelah kasus foto di Arban) terjadi. Waktu itu hujan deras, saya menggigil. Saya sudah bilang ke teman lain untuk ninggalin saya di pos, saya akan susul ke bawah besok pagi, tapi mereka tidak mau dan ngotot nemenin. Di sini saya sempat mikir macem-macem, ngerasa bersalah karena udah memperlambat perjalanan, ngerasa bersalah karena gara-gara saya teman-teman tidak bisa pulang ke Jakarta malam ini, merasa gagal karena tidak bisa sampai target.
Tapi pas pikiran-pikiran itu mulai jalan-jalan di kepala, saya terus pakai prinsip biarin aja. Biarin aja perjalanannya nambah sehari karena nambah istirahat, daripada saya maksa terus jalan lalu cedera dan malah bikin susah banyak orang.
Segala-gala doa sudah dibaca, saya udah bayangin yang lain, sempet goyang-goyangin badan orang sebelah, tapi tidak mau hilang, sampai sekitar jam 3 sampai jam 4 pagi akhirnya baru bisa tertidur. Rasanya lelah, tapi ga tau mau kesal ke siapa.
Jam 5 pagi, Pos Cigowong udah terang. Pas bangun, teman saya sempat cerita kalau saya demam dan beberapa kali mengigau. Dia kuatir, tapi syukurnya saya masih selamat ga kenapa-kenapa. Jam 6, setelah beres-beres, kami langsung tancap gas turun ke bawah. Saya sudah seger, pas turun kami hampir tidak istirahat, jalan cepet banget.
Di bawah, kami disambut sama petugas Pos Palutungan yang nyampein pesan telepon. Mas Lasso, pemilik open trip yang kami beli ternyata sudah beberapa kali telepon dan lumayan khawatir karena kami berempat tidak ada yang bisa dihubungi. Padahal menurut jadwal malam itu kami harusnya sudah sampai Jakarta.
Untungnya, masih ada untungnya, kami terhambat pulang bukan karena kesasar atau cedera. Kami cuma terjebak hujan dan saya butuh istirahat karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Ada beberapa catatan yang menurut saya penting selama perjalanan, semoga berguna buat teman-teman yang punya rencana mendaki:
Bawa baju ganti cadangan kalau badan mudah berkeringat. Semua baju saya basah kemarin, saya sampai pinjam baju untuk pulang.
Bawa uang lebih untuk jaga-jaga.
Istirahat kalau lelah. Memaksakan diri boleh saja, tapi dengarkan juga kondisi badan.
Cek perlengkapan sebelum berangkat, pastikan perlengkapan penting seperti matras, sleeping bag, headlamp, jas hujan, baju & celana, sepatu, kaus kaki, kaus tangan sudah lengkap.
Saya pakai bantuan treking pole selama pendakian, lumayan bantu membagi beban badan.
Pastikan latihan fisik sebelum naik. Faktor umur itu ngaruh banget.
Jangan ganggu binatang yang ada sepanjang jalan, bawa turun sampah, ikuti jalur yang ada, dan tetap konsentrasi sepanjang perjalanan.
Walaupun ada drama sedikit, ya macam pemanis perjalanan, saya menikmati sekali perjalanan naik-turunnya.
Terima kasih sudah boleh mampir, Gunung Ciremai.
__ADS_1
Terima kasih, dan sampai jumpa lagi.