Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Terror Gunung Ciremai Part 3


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-----------------------------------------


Membentang didepanku bukan lagi tanjakan terjal melainkan tangga batu. Kabut tipis melayang dipuncak anak tangga. Sumber cahaya hanya berasal dari api obor di kanan kiriku. Gending gamelan tadi terdengar jelas sekarang, sumbernya ada diujung tangga ini. Tapi aku tak bisa melihat apapun, selain tangga batu ini, sekitarku hanyalah kabut kelabu.


Aku panik saat menyadari aku berdiri disini seorang diri. Orang itu tidak ada dimanapun. Tubuhku langsung bersimbah keringat dingin. Aku terjatuh diatas lututku, kakiku yang gemetar terlalu lemah untuk berdiri.


Dan bau bunga kantil itu datang lagi.


Dengan kedua tangan aku menyeret tubuhku kesamping, kakiku sudah benar-benar lemas. Tujuanku secepatnya bersembunyi dibalik tirai kabut sebelum pemilik wangi bunga kantil itu muncul.


Ternyata tertutup dalam kabut adalah hutan. Tubuhku beringsut dibalik pohon terdekat. Nafasku kembang kempis tak beraturan.


Wangi bunga kantil itu semakin pekat. Bulu kudukku meremang saat kuberanikan diri mengintip ke arah tangga batu itu. Sesuatu melayang dari tangga terbawah , berhenti sebentar di titik dimana tadi aku berdiri, lalu melayang keatas anak tangga dan hilang dibalik kabut. Itu adalah sosok nenek tua. auranya sedemikian mengerikan, hingga aku langsung menggigil hebat. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Dan rambutnya luar biasa panjang. Bahkan saat tubuhnya hilang dibalik kabut, rambutnya masih terlihat bergerak selama beberapa saat.


Aku benar-benar cemas dan luar biasa panik. Tidak tahu harus bagaimana dan kemana. Aku menyadari kebodohanku sekarang. Aku terlalu bergantung pada orang itu. Padahal sejak di Cibunar aku sudah bertekad akan melakukan ini sendiri.


Sekarang aku disini, sendiri. Tangga batu, obor, kabut kelabu, sepenuh hati aku sadar, aku tersesat di alam lain. Aku terus menerus mengingatkan diri sendiri, aku harus tenang, aku harus pulang, aku tidak boleh mati disini.


Ketenanganku cuma berhasil beberapa detik. Saat kabut sedikit menipis kulihat sesuatu yang nyaris membuatku histeris jika saja tidak ada tangan yang membekap mulutku. Orang itu sudah ada disampingku, tangannya masih membekap mulutku. Dia memberi aba-aba untuk tenang.


Baru kusadari, didepanku tergeletak banyak tubuh pendaki gunung. Satu tubuh malah tepat ada disampingku. Yang lain terserak tak beraturan. Mereka semua tertidur. Hanya saja kulitnya sepucat mayat


Orang itu menyuruhku berdiri dengan tenang. Aku diperintahkan mengikutinya. Dia berjalan menjauhi tangga batu, masuk menembus kegelapan hutan. Aku berjingkat-jingkat berusaha tidak mengeluarkan suara apapun.


Seekor gagak diatasku. Melompat dari dahan ke dahan seakan mengikuti.


"Abang dari mana tadi? I... Itu siapa bang? Me.. Mereka tadi? " Suaraku gemetar bertanya.


Tidak seperti biasanya, dia menjawab dengan berbisik, "ini bukan tempat lu lagi boy, jangan sampai ada yang tau kita disini."


Aku mengangguk pelan. Tapi masih tetap menunggu penjelasan.


"Itu pendaki yang.... Udahlah, ngga perlu tau. Pokoknya jangan sampe mereka bangun." Bisiknya lagi.


Kami berjalan semakin jauh masuk kedalam hutan. Aku tercengang melihat agak jauh di samping kananku, menjulang diantara hutan dan kabut sebuah bangunan besar. Ditengah malam seperti ini, bangunan besar dengan menara-menaranya yang tinggi tanpa penerangan sama sekali terlihat bagai raksasa. Rupanya dari sanalah sumber suara gending-gending itu.


Aku membuang muka, tidak ingin membayangkan mahkluk-mahkluk apa yang ada didalam sana dan kembali fokus melihat punggung orang itu yang berjalan didepanku. Suasana sekitar hening mencekam. Tidak ada satu pun bunyi suara binatang hutan. Kabut tipis melayang rendah diantara pohon-pohon cantigi.


Lalu mendadak kita sampai ditepi hutan. Orang itu berhenti. Dia memberiku aba-aba untuk mundur beberapa langkah dan bersembunyi dibalik semak.


Didepan kami menghampar tanah lapang yang luas. Aku tak tahu seberapa luasnya karena tertutup kegelapan dan tirai kabut.


"Boy, kita udah sampe. Mulai dari sini lu jalan sendiri. Inget untuk apa lu jauh-jauh ke sini kan?" Orang itu membuka pembicaraan.


"Iya bang. Ngambil pembalut yang dibuang Ayu." Kataku.


"Jalan lurus aja. Jangan bikin keributan. Jangan narik perhatian. Jangan sampe Nyi Linggi tau keberadaan lu."


Aku mengangguk mengerti, "Tapi bukannya Nyi Linggi baik bang, kan dia yang nolong waktu ada Kalong Wewe.. " tanyaku.


"Gua jelasin ya. Nyi Linggi yang kasih syarat untuk ambil lagi sampah sialan tadi. Dia yang bikin lu sampe naik kesini boy." Jawab orang itu, "ada maksudnya kenapa dia nolong lu tadi. Dia mau lu sampe istananya tanpa luka apa-apa."


"Gimana maksudnya bang." Tanyaku masih tidak mengerti.


"Syarat itu cuma akal-akalan aja boy. Nyi Linggi itu mau ngunduh mantu. Ngerti ga lu? Dia itu mau ngawinin?"bisiknya.


"Siapa yang mau dikawinin bang?" Aku masih tidak paham arah pembicaraanya.


"Elu boy."


Bagai tersambar petir aku mendengar jawabannya. Jadi aku dengan lugu masuk perangkap. Tubuhku sontak menggigil.


Orang itu mengeluarkan rokok dari kantongnya, menjepit dimulut lalu membakarnya. Asap tipis mengepul dari bibirnya. Aku terpana, dalam keadaan begini bisa-bisanya dia merokok dengan tenang.


Lalu kesadaran menghantamku. Aku beranikan diri bertanya padanya. "Jadi abang nganter saya kesini biar saya bisa dikorbanin bang?" Tanyaku.


Dia dengan kurangajar menghembuskan asap rokoknya ke wajahku. "Gua ada disini untuk mastiin lu naik dengan selamat untuk ngambil sampah sialan itu biar temen lu bisa ketolong. Dan mastiin lu turun dengan selamat." jawabnya dengan tenang, "Cuma lu yang bisa nolong temen lu. Dan cuma gua yang bisa nolong lu."


"I.. Iya, maaf bang." Aku menyesali keraguanku.

__ADS_1


"Sekarang lu jalan. Lurus aja kedepan. Kalo udah ketemu, sampahnya lu bungkus kain putih yang lu bawa. Langsung balik kesini." Perintahnya.


Aku mengangguk mengerti. Lalu dengan mengendap-endap aku melangkah maju menuju tanah lapang ini.


Kabut bagaikan punya nyawa sendiri, bergerak-gerak pelan tanpa ada angin. Semakin jauh ku melangkah kabut kelabu ini semakin tebal. Sementara dikejauhan tampak siluet hutan dan bayangan gelap bangunan istana Nyi Linggi.


Aku terkesiap saat mataku melihat sesuatu dibalik kabut didepanku. Dalam diam aku berhenti lalu berjongkok sambil mataku tetap memandang siluet didalam kabut itu.


Pelan aku menyeret kakiku bergerak mendekat. Keringat menetes didahiku. Semakin dekat, bayangan itu mulai terlihat semakin jelas. Nampak seperti gundukan sesuatu.


Saat akhirnya kabut tersibak, aku terkejut mendapati apa yang kulihat. Itu adalah kuburan baru. Nampak dari tanahnya yang masih merah dan gembur. Diatasnya tergeletak begitu saja tampaknya adalah pembalut yang kemarin dibuang Ayu. Dari pembalut itu merembes darah segar berbau anyir. Lelehan darah itu mengalir kebawah hingga akhirnya membuat genangan darah dibatas kabut.


Tubuhku mengejang membaca nama yang tertulis di nisan kuburan itu. Nama Ayu tertulis jelas disana, lengkap dengan tanggal lahirnya. Bulu kuduk ku berdiri melihat tanggal kematiannya adalah tanggal hari ini.


Dengan tangan gemetar kukeluarkan kain putih dari kantong celanaku. Kuangkat pembalut yang masih terus meneteskan darah itu dan segera kubungkus dengan kain tadi.


Seiring kabut yang semakin menipis, sudut mataku menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak. Aku berteriak histeris dan jatuh terduduk saat kabut menyibakkan tirainya.


Nampak sesosok makhluk yang sedang menjilati darah ditempat genangan tadi. Wajahnya penuh darah. Lidahnya panjang terjulur. Tangan dan kakinya menekuk seperti kucing. Rambut panjangnya lepek dan matanya menatap lurus kearahku.


Dengan kaki gemetar aku beringsut mundur dengan perlahan. Sebisa mungkin tidak membuat gerakan mendadak. Mata makhluk itu terus saja menatapku yang dengan pelan bergerak mundur. Tapi dia tetap disana. Lidahnya sudah berhenti menjilat darah. Tapi dia tetap disana.


Lalu kurasakan sesuatu yang lembut tersentuh punggungku. Aku langsung berhenti dan dengan tegang menengok ke belakang. Tubuhku membeku. Berdiri tepat dibelakangku dengan rambut terurai panjang hingga ketanah.


"Nyi Linggi."


Tubuhku menggigil tak terkendali. Tidak sedikitpun aku mampu bergeser. Makhluk itu terus menatapku, wajahnya yang penuh darah nampak berkilat saat tertimpa cahaya bulan.


Dibelakangku, jubah hitam Nyi Linggi nampak bergoyang tertiup angin. Dari sudut mataku, kulihat tangannya bergerak hendak meraihku. Tak mampu bergerak, mataku membelalak dengan ngeri saat jari-jari pucatnya menyentuh pundakku. Dengan kalut aku mencoba mengingat doa apa saja, tapi pikiranku yang panik tak mampu mengingat satu doa pun.


Aku mampu menguasai lagi tubuhku saat kudengar bunyi kepakan sayap lewat ditelingaku. Seekor gagak hitam terbang diantara aku dan Nyi Linggi lalu hinggap diatas nisan kuburan Ayu.


Kepala burung itu bergerak-gerak. Matanya yang hitam seakan melihat padaku. Lalu tiba-tiba dia berkaok dengan kencang dan terbang kearahku. Aku berteriak ketakutan sambil menutupi wajah dengan tangan mencoba menghindari cakaran burung hitam itu. Tapi dia lewat begitu saja, dan disaat yang bersamaan terlepas juga kuku Nyi Linggi yang menancap dipundakku. Sadar, aku segera beringsut ke samping dengan cepat menghindari gapaian tangan Nyi Linggi, lalu dengan kaki gemetar aku berbalik arah dan berlari secepat yang aku mampu.


Aku berlari tak tentu arah. Kabut kelabu menghalangi pandanganku. Yang kupikirkan hanyalah bergerak terus sejauh mungkin. Membayangkan tangan pucat Nyi Linggi menggapai punggungku membuat seluruh tubuhku gemetar.


Sebuah siluet hitam muncul mendadak didepanku, tak mampu menghindari, aku terjatuh berguling-guling ditanah. Aku langsung bangkit, waspada. Mataku nyalang melihat sekeliling berusaha mencari sosok Nyi Linggi dan Mahkluk darah tadi. Mereka tidak terlihat di mana-mana, sekelilingku hanya kabut tebal. Tidak juga terdengar suara apapun.


Dengan pelan aku bergeser mendekat. Aku bersembunyi dibalik batu nisan. Dari baliknya, dengan ketakutan aku mencari-cari sosok yang mendekat, tapi yang nampak hanya kabut.


Kesempatan ini kugunakan untuk mengatur nafas dan menenangkan riuh detak jantungku. Dengan pelan kusentuh kantong celanaku, khawatir jika pembalut itu jatuh, tapi benda itu masih disana.


Kepakan sayap terdengar lagi, dan tiba-tiba dari balik kabut Gagak hitam itu muncul dan langsung mendarat dibatu nisan diatas kepalaku. Aku kaget setengah mati, menghindar berguling menjauh. Gagak itu diam disana seakan tak peduli. Dia mengembangkan sayap hitamnya dan mulai mematuk-matuki sayap itu. Aku masih mengawasinya waspada. Berbagai kejadian malam ini mengajarkanku, apa pun bisa terjadi. Leherku kaku, tapi aku tak ingin mengalihkan pandangan dari burung ini. Aku meyakinkan diri agar siap jika burung itu berubah menjadi Kuntilanak atau setan apapun. Tapi burung itu sama sekali tidak mempedulikanku. Dia mengepakkan sayapnya lalu turun ke atas pusara kuburan itu. Paruhnya mematuki lumut yang tumbuh subur menutupi nisan.


Sesuatu melintas dipikiranku. Pelan kudekati batu nisan berlumut itu. Dengan tangan gemetar kucabut perlahan lumut-lumut yang nampaknya sudah tumbuh di batu nisan ini bertahun-tahun tanpa pernah dibersihkan. Ketika kutarik, akar-akar serabutnya juga menarik lepas serpihan semen. Batu nisan ini sudah sedemikian rapuhnya. Cahaya bulan terlalu lemah untuk membantuku melihat apa yang terpahat di nisan ini, jadi aku menempelkan jariku, berusaha membacanya dengan tangan.


Huruf pertama yang terbaca adalah huruf M, berikutnya tanpa susah payah aku mengenali huruf O. Aku kesulitan mengenali huruf berikutnya, pahatannya sudah aus, guratan hurufnya agak samar, apakah huruf..... K


Sebuah tangan tiba-tiba muncul dari belakang dan menarik tanganku. Aku langsung histeris. Kaki dan sebelah tanganku yang bebas dengan panik memukul dan menendang-nendang berusaha melepaskan diri dari cengkraman mahkluk apapun itu.


Lalu sebuah suara yang kukenal dan terdengar agak kesal, "Hormatin orang yang udah mati boy."


Aku membuka mataku. Orang itu berdiri tegak dibelakangku "Ayo gerak. Waktu lu ngga lama lagi." kata orang itu lagi sambil berjalan menjauh.


...........


Aku terseok-seok mengikuti langkahnya yang tampak terburu-buru. Kabut tebal kelabu masih mengelilingi kami, tapi orang itu nampaknya mengerti arah langkahnya.


Sebentar-sebentar aku menoleh ke belakang. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang mengikuti, tapi tiap kali kutoleh yang ada hanya kekosongan.


Kabut semakin menipis, tapi perasaan mencekam malah kian terasa. Intensitasku menoleh ke belakang semakin sering. Tiap kali aku melonjak kaget, merasakan tangan dingin menyentuh tengkukku. Aku tak mampu lagi membedakan yang mana halusinasi atau kenyataan. Apakah hanya perasaanku atau memang benar sebuah tangan.


Menipisnya kabut sama sekali tidak membantu. Bayangan-bayangan gelap pohon cantigi yang kurus dan bercabang dimataku bagaikan sosok hantu yang berdiri diam.


Berkali-kali aku terjatuh, tapi orang itu menengok pun tidak. Dia masih terus berjalan. Hanya sesekali dia melirik jam ditangannya atau menyalakan rokoknya. Semua dilakukan sambil berjalan.


Sosok-sosok Kuntilanak muncul sesekali dari balik pohon. Kali ini aku sudah tak peduli. Tak ku pedulikan juga sosok yang terbang dari dahan ke dahan.


Nyaliku kembali teruji ketika terdengar suara perempuan tua menyanyikan tembang Jawa. Suaranya terdengar pelan namun jelas. Orang itu mendadak berhenti dan mengeluarkan parangnya.


Alih-alih terus jalan mengikuti jalur, orang itu malah menerobos semak disebelah kiriku. Parang tadi ia gunakan untuk membuka jalan. Kami menerobos ilalang setinggi pinggang. Di beberapa tempat ilalang itu bahkan melebihi tinggi tubuhku.


Sebuah tangan menjulur dari balik semak, tapi dengan entengnya orang itu mengayunkan parangnya dengan cepat. Tangan itu putus dan berubah menjadi kabut. Seiring jalan, juluran tangan itu semakin banyak. Mereka tidak hanya muncul dari balik semak, tapi juga dari bawah tanah.

__ADS_1


Orang itu kembali berhenti. Kali ini dia mengajakku berbalik arah menyusuri jalur semula. Aku gelisah melihat wajahnya tidak lagi setenang biasa. Parangnya kembali diayunkan ke kanan kiri. Tiba-tiba saja kami keluar di Pos Kuburan Kuda.


Kemunculan mendadak kami rupanya mengalihkan perhatian hantu-hantu orang desa yang tampak sedang merubung ditenda pendaki. Puluhan pasang mata menatap kami tanpa berkedip. Tanpa ada komando tiba-tiba mereka bergerak pelan ke arah kami. Aku histeris ketika hantu yang terdekat memeluk pahaku. Aku meronta-ronta hingga terjatuh. Tangan itu baru lepas ketika orang itu menarikku. Sementara suara perempuan tua yang menyanyikan tembang Jawa terdengar semakin mendekat.


Orang itu berbisik pelan di telingaku, "Lari boy." Lalu dia menambahkan, "Jangan sekali-kali nengok ke belakang."


Bersamaan dengan terciumnya anyir darah, orang itu berlari sambil menyeretku. Aku berlari zigzag menghindari tangan-tangan hantu orang desa yang berusaha menggapai kakiku.


Lepas dari kepungan hantu orang desa, aku memohon orang itu berhenti untuk istirahat. Kedua kakiku hampir mati rasa. Tapi dia terus menarikku. Aku berlari dengan terpincang-pincang dan menahan nyeri di telapak kaki, hingga akhirnya aku rubuh karena pahaku keram. Rasanya seluruh tenagaku dikuras habis.


Didepanku, dibalik semak nampak pohon tua yang sangat besar. Kulit kayunya berwarna putih. Sulur-sulur panjang mirip rambut jatuh disana-sini dari dahan-dahan raksasanya. Yang pertama kulihat adalah pocong yang muncul dari balik pohon itu. Jantungku berdesir pelan. Tapi aku pasrah, menyadari aku tak bisa lari dengan kaki seperti ini.


Berikutnya adalah kuntilanak. Ada yang duduk sambil menggoyangkan kaki, ada yang menggantung dengan kepala dibawah. Ada dua atau tiga kuntilanak yang berwarna merah darah, yang lainnya berwarna putih. Itu adalah pemandangan paling tak biasa yang kutemui dalam pendakian, pohon itu bagaikan berbuah Kuntilanak.


Dan sulur-sulur seperti rambut. Aku salah. Nyatanya itu memang rambut.


Mataku mengikuti arah pandang orang itu. Dipucuk pohon tua tadi, berdiri, adalah Nyi Linggi.


Tidak ada angin yang berhembus. Tidak juga bunyi-bunyian hutan. Sekitarku seakan membeku. Aura kemarahan kurasakan sangat menekan. Seluruh persendianku kaku. Aku bahkan tak mampu menoleh sama sekali. Mataku terpaku tanpa mampu berkedip melihat Nyi Linggi melayang turun.


Orang itu masih berdiri ditempatnya, tapi kini dia agak mundur dan bergeser menghalangi pandanganku pada Nyi Linggi. Aura mistis kurasakan semakin menjadi-jadi. Tubuhku menggigil hebat. Bukan hanya aku, tangan orang itu pun kulihat mulai gemetar.


Aku langsung diserang panik. Bagaimana kalau orang itu memilih kabur dan meninggalkanku dengan kaki yang tak mampu digerakkan? Aku merinding. Untuk pasrah pun aku tak mampu. Aku tidak ingin mati ditempat ini.


Kabut tipis terlihat bergerak turun dari tanjakan terjal disebelah kananku, sementara dikiriku entah jalur turun atau jurang, aku tak mampu lagi mengingat aku ada dimana. Arah itu bagai terputus begitu saja ditelan kegelapan rimbunan pohon dan ranting yang saling menyilang.


Sesuatu tergantung terbalik di dahan ranting itu. Kepala dan tangannya terkulai kebawah, wajahnya tertutup rambut, tapi aku merasa matanya menatap lekat ke arahku.


Aku bahkan sudah tak mampu lagi untuk bereaksi. Saat bau pandan tercium semakin kuat, aku sudah nyaris tidak peduli. Mungkin memang hidupku sudah tidak lama lagi.


Tapi mengingat Ayu, aku merasa bersalah karena hampir menyerah. Andai waktu itu aku tak mengajaknya mendaki Ciremai..


Dadaku kembali hangat. Ada setitik semangat yang muncul. Aku sudah sejauh ini. Aku mesti berhasil. Kami berdua harus kembali ke Jakarta, kembali kekehidupan normal kami yang biasa.


Seiring ketenangan yang muncul, kakiku kembali mampu bergerak walau lemah. Perlahan kucoba berdiri. Rupanya itu hanya ketenangan palsu. Kembali aku terjatuh, kakiku terlalu lemah untuk berdiri.


Dengan tangannya yang gemetar, orang itu memberikanku aba-aba untuk diam.


Dengan wajah pucatnya, Nyi Linggi berdiri disana, hanya terpisahkan oleh jalur. Diam mematung. Diatasnya, didahan-dahan pohon kuntilanak-kuntilanak bergerak-gerak dengan ganjil.


Ditengah ketegangan yang memuncak, telingaku mendengar sesuatu. Suaranya berasal dari arah jalur bawah. Mataku membelalak ketika sesuatu itu akhirnya muncul. Itu adalah suara rombongan beberapa pendaki yang naik malam.


Orang yang terdepan nampak membawa carrier ukuran besar, membuat jalannya membungkuk. Dibelakangnya mengekor dua orang lain, jalannya terseok dan tampak kepayahan. Aku tegang menyaksikan mereka melintas pelan diantara orang itu dan Nyi Linggi. Tapi seperti pendaki sebelumnya, mereka pun nampaknya tak melihat kami. Semua mata menatap para pendaki itu. Bola mata Nyi Linggi bergerak mengikuti langkah pendaki terakhir yang tiba-tiba berhenti.


Jantungku mencelos mendengar pendaki itu berteriak memanggil dua temannya, "Oii setan, istirahat dulu sebentar. Cape banget gua ini, anjing!"


Dengan takut-takut kuberanikan diri melihat Nyi Linggi. Aku ngeri membayangkan reaksinya mendengar ocehan tidak sopan barusan.


Dengan pelan dan terpatah-patah kulihat wajah Nyi Linggi menoleh ke pendaki itu. Matanya merah dan jelas nampak marah.


Aku komat-kamit berdoa supaya pendaki itu segera pergi. Tapi dia masih diam disana, tangannya bertumpu pada trekking pole. Dia kelihatannya sedang mengatur nafasnya yang kembang kempis.


Dua temannya berdiri menunggu tidak jauh diatasnya. Salah seorang berteriak, "Tanggung sedikit lagi. Nanti ngecamp di Tanjakan Seruni aja."


Seorang yang lain menambahkan, "Udah gw bilang, lebih enak lewat Palutungan kalo naik. Turunnya baru lewat Linggarjati. Lu ngeyel kalo dibilangin."


Pendaki terakhir itu tertawa-tawa kurang ajar sambil berkata, "Sama ajalah lewat mana aja. Ini emang gunung ngga bener! Semua jalurnya nyusahin! Gunung brengsek!! "


Dalam sekejap suasana berubah. Udara seakan sedingin es.Tangan pucat Nyi Linggi bergerak, tampak mengancam dengan kuku-kukunya yang runcing dan hitam. Sesosok bayangan hitam bergerak cepat dan menabrak pendaki itu yang sama sekali tidak menyadari situasi. Aku menunggu dengan tegang yang akan terjadi. Tapi sosok hitam yang masuk ketubuhnya rupanya tidak langsung menampakkan efeknya, dia masih tertawa-tawa dengan kurangajar.


Dengan jari-jarinya yang panjang, tangan Nyi Linggi terulur sambil dia melangkah ke arah pendaki itu. Aku yang tak mampu bersuara hanya bisa menutup mulutku dengan tangan. Mataku membelalak lebar.


Orang itu yang sejak tadi berdiri didepanku juga bergerak. Kulihat dadanya naik turun dengan cepat, lalu tiba-tiba dia menggeram keras disusul suara auman harimau. Aku berteriak histeris sambil menutup telinga. Suaranya menggelegar bergaung-gaung menembus hutan. Beberapa sosok Kuntilanak terlihat langsung menghilang. Ketiga pendaki itu jelas ikut mendengar auman itu kali ini. Ketiganya dengan panik berlari tunggang-langgang.


Langkah Nyi Linggi terhenti mendengar auman barusan. Tanpa membalikkan tubuhnya, wajahnya berputar menghadap orang itu. Matanya mendelik menakutkan. Sekarang dia bergerak ke arah kami.


Orang itu tiba-tiba menjatuhkan diri. Badannya sekarang merangkak, jari tangannya menancap ketanah. Kembali terdengar geraman-geraman kecil dari mulutnya.


Aku yang ketakutan semakin merapatkan diri ke pohon dibelakangku. Tanganku gemetaran hebat sambil menutup telinga. Sementara didepanku, orang itu dan Nyi Linggi saling menatap.


Bola mata Nyi Linggi bergerak berpindah-pindah dengan cepat pada orang itu dan aku. Lalu tanpa membuka mulutnya dia mengeluarkan suara yang kering dan dingin...


"Kumakan kalian semua...... ''

__ADS_1


__ADS_2