Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 1


__ADS_3

Pernah denger tragedi Andes? Kisah bertahan hidup di gunung salju selama 72 hari.


Pada satu titik, survivor akhirnya terpaksa makan daging temen-temennya yang udah meninggal.


Ada yang penasaran, simak ceritanya!!!


-------------------------------------------


Dimanakah batas antara hidup dan mati?


Melalui layar mesin ultrasonografi, aku mempelajari detak jantung seorang bayi yang akan lahir. Kuhabiskan waktuku memperhatikan tangan dan kaki kecil itu dimonitor. Entah bagaimana tapi aku merasakan semacam komunikasi walau hanya lewat layar. Aku sangat bersemangat karena sebuah kehidupan sebentar lagi akan hadir diantara kami—semuanya tergantung kemampuan jantung kecil ini untuk bertahan hidup.


Sesaat aku menatap layar ultrasonografi, saat berikutnya aku seakan menatap ke jendela pesawat yang buram, memperhatikan cakrawala untuk melihat apakah teman-temanku akan kembali dalam keadaan hidup saat percobaan mendaki gunung salju untuk mencari pertolongan. Setelah berhasil selamat dari kecelakaan pesawat yang jatuh di pegunungan Andes pada 22 desember 1972, setelah dinyatakan hilang selama dua bulan, aku selalu mempertanyakan pada diri sendiri berbagai pertanyaan. Salahsatu pertanyaan yang kerap kali muncul: apa yang harus kulakukan ketika semua peluang untuk selamat nyaris nol?


Aku menoleh ke seorang ibu hamil, yang sedang berbaring di kereta dorong di lantai dua rumah sakit Italiano di Montevideo, Uruguay. Bagaimana cara terbaik mengatakan padanya bahwa anak yang sedang berkembang dalam rahimnya tumbuh dengan kelainan pada jantungnya? Hingga beberapa tahun lalu, anak yang baru lahir dengan kelainan jantung seperti ini, tidak akan berumur panjang. Kehadirannya yang singkat di dunia hanya menyisakan trauma pada keluarga yang ditinggalkan. Tapi ibu muda ini beruntung, dunia kedokteran mengalami banyak perkembangan beberapa tahun belakangan. Dan ibu ini, Azucena, memiliki sedikit harapan. Namun akan ada perjalanan yang panjang dan berat bagi ibu dan anak ini, juga untuk suaminya dan dua anak lainnya. Sebuah perjalanan yang berbahaya dan belum dipetakan, seperti perjalanan yang aku lalui di Andes.


Aku dan teman-temanku cukup beruntung ketika akhirnya keluar dari pegunungan itu dan mencapai lembah hijau Los Maitenes. Disitulah aku mencoba memimpin mereka menuju lembah hijau mereka sendiri, meskipun aku mengetahui bahwa tidak semua dari mereka akan selamat dalam perjalanan.


Itu juga dilemaku sebagai dokter. Aku menemukan diriku terombang-ambing antara hidup dan mati saat aku melihat bayi ini, yang diberi nama oleh ibunya, Maria del Rosario. Dia hidup tenang sekarang, tersambung pada placenta ibunya didalam rahim, tapi bagaimana nanti? Apakah aku harus melakukan operasi marathon yang panjang hingga dia punya kesempatan hidup? Dan apakah itu setara dengan resiko juga biayanya? Aku kadang selalu merasa kewalahan dengan banyaknya kemiripan dengan kisahku.


Ketika kami akhirnya meninggalkan badan pesawat untuk melakukan perjalanan melintasi puncak dan jurang menuju lembah itu di Chili, kami menjumpai tanah tak bertuan yang sangat luas. Ketika memikirkannya lagi, rasanya mustahil untuk tetap bertahan hidup dalam cuaca yang sedemikian ekstrem, minus tiga puluh derajat Celsius, tanpa peralatan apapun dan tubuh yang telah kehilangan berat hampir tujuh puluh pound. Semua orang mengatakan tidak mungkin untuk melakukan perjalanan lebih dari lima puluh mil dari timur ke barat menyeberangi Andes, karena ringkihnya tubuh kita tidak dirancang untuk kerasnya medan Andes.

__ADS_1


Kami bisa saja memilh tetap berada didalam badan pesawat itu, aman, sampai tiba saatnya kami kehabisan bahan makanan, dan satu-satunya sumber makanan yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh tak bernyawa teman-teman kami. Sama seperti bayi yang mendapatkan makanan dari ibunya, kami pun bisa melaluinya berkat teman-teman kami.


Haruskah kita diam atau haruskah kita pergi? Tetap meringkuk atau maju? Satu-satunya peralatan yang kami miliki hanyalah kantong tidur yang terbuat dari sisa-sisa sistem pemanas pesawat, yang kami jahit dengan kawat tembaga.


Anak ini, yang masih janin, masih terhubung dengan sumber makanannya, dapat bertahan hidup lebih lama, sama seperti yang kami lakukan di badan pesawat. Tapi suatu saat, seperti halnya kami, kabelnya akan dipotong jika dia ingin terus hidup, dan mulailah perlombaan dengan waktu. Aku orang terakhir yang memutuskan untuk akhirnya keluar, dan karena itulah gambaran-gambaran itu kerap kali datang, intens dan menghantui.


Kapan kita harus memotong kabelnya? Kapan kita harus meyakinkan diri untuk akhirnya melintasi medan pegunungan yang berat itu? Aku tahu bahwa keputusan yang dibuat tergesa-gesa untuk melintasi pegunungan akan membawa resiko besar, sama seperti persalinan prematur anak dengan kelainan jantung bawaan ini. Ada banyak pertimbangan sebelum aku harus memutuskan. Terlalu banyak faktor, tapi aku sadar kami mulai kehabisan waktu. Nando Parrado mengerti keraguanku karena dia pun merasakan hal yang sama. Bedanya dia tidak mengatakannya demi menjaga semangat teman-teman yang lain yang hampir menyerah.


Setiap ada yang mati, ikut mati juga sebagian kecil dari diriku. Hingga tiba saatnya ketika Gustavo Zerbino mengabarkan, salah satu yang terkuat diantara kami, Numa Turcatti meninggal. Itulah saat dimana aku memutuskan aku harus bergerak. Itulah saatnya untuk meninggalkan bangkai badan pesawat yang ‘nyaman’ ini, untuk terlahir ke dunia dengan jantung yang cacat. Salah seorang temanku, Arturo Nogueirra, yang kedua kakinya patah pada saat pesawat jatuh dan pada akhirnya nanti juga ikut meninggal, mengatakan padaku, “kau sangat beruntung Roberto, kau berjalan untuk kita semua.”


Aku baru berusia Sembilan belas tahun, ditahun kedua sekolah kedokteran, seorang pemain rugby, kekasihku bernama Lauri Surraco, pada saat pesawat kami jatuh di pegunungan Andes 13 oktober 1972. Tujuh puluh hari di gunung itu benar-benar merupakan ujian kilat tentang bencana, pengobatannya serta cara-cara bertahan hidup. Disana bagaikan laboratorium yang brutal, dimana kamilah yang menjadi bahan percobaannya. Di neraka salju itu, aku mendapatkan perspektif baru, jika bisa disembuhkan berarti bisa diselamatkan.


Dirumah sakit tempatku bekerja, banyak rekanku yang mengkritikku di belakang atau bahkan terang-terang didepanku, bahwa aku sok mendominasi, terburu nafsu, melanggar aturan dan melakukan perilaku yang tidak pantas—sebuah kritik yang juga dilemparkan teman-temanku di gunung kala itu. Tetapi, begitupun pasien disini, mereka tidak peduli dengan aturan rumah sakit, mereka datang, berobat lalu pulang. Menolak tunduk pada aturan njlimet rumah sakit. Caraku adalah cara gunung. Keras, berusaha tangguh, keras kepala. Bagiku hanya ada satu hal yang penting, berjuang untuk tetap hidup.


Saat ku memejamkan mata, seringkali anganku menembus ruang dan waktu, dan menemukan diriku kembali di lembah neraka itu. Hari dimana pesawat kami jatuh di Pegunungan Andes. Hingga saat itu, aku dan teman-temanku hidup didunia yang mudah diprediksi, lalu tiba-tiba airmata menggenang seiring hadirnya bencana dan kami dibiarkan terombang-ambing dalam limbo abadi dimana waktu tidak dimulai dan tidak berakhir.


Saat itu 13 oktober 1972 jam 3.29. Saat kumemandang keluar jendela pesawat, aku terkejut melihat puncak-puncak bersalju pegunungan Andes nampak dekat sekali dengan sayap pesawat kami, Fairchild FH-227D. Tim rugby kami, dari sekolah Stella Maris Christian Brothers, telah menyewa sebuah pesawat turboprop berkapasitas empat puluh lima penumpang dari angkatan udara Uruguay, untuk mengangkut para pemain, alumni, keluarga dan penggemar pertandingan rugby di Chili.


Tiba-tiba aku merasakan pesawat bergetar hebat lalu terasa jatuh dalam turbulensi, naik lagi kemudian jatuh lagi. Tampaknya pilot berusaha mengangkat hidung pesawat. Sesaat kemudian suara mendenging kencang, suara logam remuk dan lalu muncul ledakan. Kami terombang-ambing dengan kasar bagai berada ditengah badai. Aku yang merasa pusing, mencengkeram erat kursi pesawat, sementara pesawat terus meluncur turun semakin cepat diantara sisi-sisi tebing.


Aku tercekam oleh kesadaran, bahwa pesawat kami menabrak tebing pegunungan Andes, dan aku akan mati. Andai aku selamat pun, tak akan ada pertolongan ditempat terpencil ini. Sementara disekitarku baja, mesin, anggota-anggota tubuh saling melilit dan hancur. Aku terus berpegangan kencang hingga tanpa sadar eratnya cengkramanku merobek kain dan busa kursi pesawat. Sadar, aku menundukkan kepalaku, bersiap untuk tumbukan final yang mungkin akan membuatku tewas seketika.

__ADS_1


Seperti apa rasanya mati? Apakah aku akan megap-megap kehabisan udara? Apakah dunia kan jadi gelap? Seberapa besar rasa sakit yang mampu kutahan? Apakah aku akan melihat organ tubuhku terkoyak? Apakah aku akan terus sadar sampai saat akhirnya kematian menjemput? Kapan akhirnya aku akan kehilangan kesadaran?


Tiba-tiba saja pesawat berhenti mendadak. Kursiku—yang mana aku terikat disana—bagai terenggut dengan kasar dan begitu saja dihempaskan ke kursi didepanku. Sebuah reaksi berantai yang tidak berakhir hingga deretan kursi remuk menumbuk kokpit.


Tapi aku masih bernafas.


Aku mulai berpikir bahwa inilah kematian itu. Saat itu aku tak percaya kalau aku masih hidup. Yang belum kusadari adalah ternyata kematian mendatangi kami dalam dosis-sosis kecil, sedikit demi sedikit.


Aku pingsan yang terasa bagaikan cuma sedetik. Ketika sadar, aku tak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pandanganku berputar, kepalaku pusing dan kurasakan sakit yang luar biasa, hanya saja aku tak mampu merasakan bagian mana tubuhku yang sakit. Berikutnya telingaku mendengar erangan-erangan kesakitan juga mencium uap bahan bakar jet yang menyengat. Dibelakangku,kulihat tubuh pesawat sudah terbelah dua. Aku hampir tak mempercayai penglihatanku, tapi nyatanya benar badan pesawat tinggal setengah, bagian ekor pesawat hilang. Kemungkinan ekor pesawat jatuh diantara gunung-gunung yang mengelilingi kami.


Flaco Vasquez yang tadinya duduk diseberangku, menatapku dan meminta bantuan. Dia tampak sangat pucat, bingung dan syok. Sebuah suara berisik terdengar dibelakangku, seseorang sedang berusaha melepaskan diri dari kursi dan logam yang terpuntir, itu adalah Gustavo Zerbino. Dia menatapku dengan pandangan seolah-olah berkata: kau juga hidup! Tanpa berkata-kata, kami bertanya pada diri sendiri: sekarang bagaimana? Dari mana kita mulai? Tapi Carlitos Paez , teman yang lain, yang juga masih tampak syok, akhirnya berhasil berbicara,”Canessa ini bencana, bukan?”


Aku melihat ke sekelilingku, lalu menyadari kaki Flaco Vasquez terluka parah, kami harus secepatnya menghentikan pendarahannya. Naluriku segera bergerak. Bukannya tanpa keraguan sama sekali, hanya saja aku menyadari mereka tidak akan punya banyak waktu lagi jika tidak segera ditolong.


Ketika aku mulai bergerak, aku menemukan sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang; Alvaro Mangino, sedang terbaring dibawah kursinya, terjebak oleh besi yang bengkok. Gustavo mengangkat kursi dan aku menyeret Alvaro keluar. Kaki kanannya terjepit dibawah logam, ketika aku berhasil membebaskannya, dapat kulihat kakinya patah. Kukatakan pada Alvaro untuk berkonsentrasi memikirkan apapun. Baru saja dia mengangguk,aku dengan cepat mematahkan kakinya agar lepas dari jepitan logam. Air mata mengalir dipipi Alvaro, tapi dia tidak terlalu menggerutu. Kemudian kubungkus kakinya dengan kemeja sobek yang diberikan Gustavo padaku. Sementara hanya itu yang bisa kulakukan untuknya.


Kami melanjutkan pencarian diantara puing badan pesawat. Orang berikutnya yang kutemukan adalah Enrique Platero. Dia menunjukkan sepotong logam yang menusuk perutnya, seakan-akan itu perut orang lain. Seberapa dalamnya, kami tidak tahu. Gustavo menyuruhnya berbalik dan dengan cepat mencabut logam itu dari perutnya, sepotong daging merah tampak ikut tercabut keluar. Potongan daging itu kumasukkan lagi kedalam lukanya, lalu kubalut dengan jersey.


“Terima kasih.” Kata Platero.


Tiba-tiba kurasakan dingin yang terlalu. Disini aku menyadari, disekeliling kami hanyalah salju dan es.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2