
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Aku hampir pingsan ketika mendadak sesuatu melintas disampingku. Dari sebelah kiriku berjalan dengan tertatih sosok bungkuk seorang perempuan tua. Aku hampir tak mempercayai mataku, itu adalah ibu tua dari Cibunar. Apakah dia naik sejauh ini untuk menyusulku?
Ibu tua itu melangkah pelan sekali dengan kaki diseret. Kedua tangannya memegangi tongkat kayu untuk membantu jalan. Dia lewat begitu saja tanpa menoleh kearahku.
Dengan lembut dia menyentuh pundak orang itu yang masih menggeram dan tampak memintanya untuk tenang. Orang itu yang sekejap lalu seakan berubah liar perlahan kembali seperti sediakala. Geramannya tak terdengar lagi. Pelan dia mundur ke arahku.
Dari sebelah kananku, berjalan melewati ku, seorang kakek berbaju serba putih. Dikepalanya terlilit sorban yang juga berwarna putih. Kakek ini juga menyentuh pundak orang itu dengan lembut. Kali ini orang itu bahkan langsung mencium tangan kakek itu dengan khidmat.
Nyi Linggi tampak melayang sejengkal dari tanah. Wajahnya yang pucat tampak semakin pucat. Bola matanya bergerak-gerak liar. Sebuah suara terdengar marah.
"Kalian."
Ibu tua itu menatap Nyi Linggi, lalu dengan tenang memperhatikan sekeliling. Kakek putih itu sekarang berdiri di samping si ibu tua. Jubah putihnya tampak bergerak-gerak pelan tertiup angin yang tiba-tiba berhembus pelan.
"Linggi." Ucap si Kakek putih lembut, "Ada apa ini Linggi... "
Tanpa membuka mulutnya Nyi Linggi berteriak marah, "jangan ikut campur! Bukan urusan kalian! " Matanya melotot, tapi dia bergerak mundur dengan perlahan, "Anak-anak ini harus mati! "
Aku menggigil mendengarnya. Ancaman itu ditujukan untuk aku dan Ayu. Tatapannya menancap dingin kearahku.
"Linggi, barang siapa membunuh seorang manusia itu sama dengan membunuh seluruh manusia... " Kakek putih itu berkata dengan lembut sambil memutar-mutar tasbih ditangannya.
Sekali lagi suara dingin Nyi Linggi menggelegar, "Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” Nyi Linggi tertawa-tawa mengerikan dan disusul sebuah bisikan, "Al-maidah, ayat tiga puluh duaaa... "
Perlahan jarinya yang putih pucat terangkat dan menunjuk tepat kearahku, "anak ini telah berbuat kerusakan." Bisiknya pelan, namun suaranya terdengar jelas, "mati jadi keharusan."
Aku semakin menggigil ketakutan. Sementara Nyi Linggi tertawa-tawa semakin kencang dan terus menerus meneriakkan satu kata : Mati..... Mati..... Mati.....
Kedua orang tua itu kudengar mengulang-ulang istighfar sambil tak henti memutar tasbih.
"Manusia tempatnya salah Linggi. Memaafkan akan membuatmu lebih mulia. Maafkanlah kekhilafannya Linggi." Kakek itu berucap pelan.
"Jangan ikut campur!" Bentak Nyi Linggi lagi. Tangannya tiba-tiba menunjuk ke arah kegelapan tempat Kalong wewe menggantung sejak tadi.
Mataku membelalak lebar, tiba-tiba saja wajah Kalong wewe tadi sudah ada didepanku. Tangan kanannya dengan cepat mencekik leher orang itu sementara lidahnya menjilat wajahku. Aku menjerit ngeri melihat belatung begerak-gerak didalam mulutnya.
Secepat kemunculannya, secepat itu juga hilangnya. Sabetan tasbih ibu tua hanya memukul ruang kosong. Kalong wewe itu sudah hilang diiringi suara cekikikan yang membahana dalam kegelapan.
Orang itu terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang sekarang tampak menghitam. Sementara tubuhku gemetar tak terkendali.
Nyi Linggi melayang mendekat, lalu hilang. Sosoknya muncul dibalik pohon tua itu. Sebentar kemudian hilang. Sosoknya muncul lagi diatas dahan. Hilang. Tapi dia tak pernah muncul terlalu dekat untuk mampu menjamahku. Aku dengan panik mencari-cari setiap dia hilang dan menatap dengan was-was setiap dia muncul. Tapi dimanapun dia muncul, matanya selalu terpaku menatapku tanpa ekspresi.
Suara-suara berbisik dari segala arah menghujani telingaku dengan kata-kata: Mati.. Mati.. Mati. Mati....
Semakin erat kututup telingaku, suara-suara itu justru semakin jelas. Aku yang kalut berteriak-teriak histeris berusaha mengenyahkan suara-suara itu dari kepalaku. Orang itu dengan kasar menarik tanganku yang membekap erat telingaku sambil membentak, "Istighfar! Inget Tuhan! Lu orang Islam bukan?!! "
Mataku membelalak menatap orang itu. Mulutku dengan reflek mengulang-ulang istighfar. Tapi suara-suara di kepalaku justru semakin keras. Aku memukul-mukul kepalaku dengan panik berharap suara itu segera lenyap.
Orang itu kembali membentakku, "Istighfar!"
Suaraku bergetar lirih, "Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. "
"Lebih keras!!"
"Astaghfirullah!! Astaghfirullah!!"
Orang itu menampar pipiku dengan kencang sambil berteriak, "LEBIH KERAS!!!"
"ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!!! LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADZIM!!!! " Aku menjerit sejadi-jadinya sambil menangis. Dadaku turun naik, nafasku tak beraturan.
Orang itu dengan lembut menyentuh bahuku. Dia tersenyum. "Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung."
Air mataku mengalir deras tak mampu kubendung. Bibirku bergetar pelan. Dalam isakku, istighfar terucap secara reflek. Seluruh tubuhku gemetar dengan hebat. Tapi suara-suara itu sudah hilang.
__ADS_1
Orang itu menampar pipiku dengan pelan. Senyumnya tersungging menghina,
"Dasar bocah... "
Kakek putih itu maju selangkah mendekati Nyi Linggi yang kini melayang beberapa meter didepannya
"Lepaskan anak ini. Pergilah Linggi, " Suara lembut kakek itu pelan tapi terdengar wibawa. Tangannya tak henti-hentinya memutar tasbih.
Nyi Linggi memiringkan kepalanya memandangi kakek itu dengan tajam, seakan tak mendengar. Dia tersenyum dan terus menerus berkata datar: Mati.. Matii.. Mati...
Aku kembali meremas telingaku ketika tiba-tiba terdengar suara lengkingan yang memekakkan. Sosok menjijikkan Kalong wewe berdiri tak bergerak tepat didepan ibu tua. Tangannya yang penuh borok dan berkuku tajam tergantung diudara. Didepannya dengan mata terpejam, ibu tua tampak berkomat-kamit tanpa suara. Semakin cepat ibu tua itu memutar tasbihnya, makhluk itu menjerit semakin keras. Ketika akhirnya ibu tua itu membuka mata, diiringi jeritan kesakitan makhluk itu terbakar habis menjadi abu.
Nyi Linggi melihat kejadian itu dengan diam. Kemarahan nampak dari tangannya yang bergetar. Aura murkanya meledak dalam keheningan. Perlahan bibirnya yang selama itu tertutup kini pelan-pelan terbuka. Sebuah kalimat yang dia katakan berikutnya langsung membuat kakek putih itu waspada.
"Nyawa bayar nyawa."
Kakek putih itu tampak mengatakan sesuatu kepada ibu tua. Dengan khidmat ibu tua itu mendengarkan, disusul dengan anggukan. Perlahan dia menoleh pada orang itu yang sedang memegangi lehernya yang menghitam. Tanpa mengatakan apapun dia hanya mengangguk, tapi nampaknya orang itu pun mengerti. Dia memapahku untuk berdiri.
Rupanya kami diminta untuk segera turun dan meninggalkan Kakek putih itu dengan Nyi Linggi.
Sebelum pergi kulihat Ibu tua itu mencium tangan si Kakek. Dengan lembut kakek putih itu menepuk pundaknya. Disusul orang itu yang tidak hanya mencium tangan, tapi juga bersimpuh andai saja tidak ditahan oleh si Kakek. Dan seperti juga kepada Ibu tua, Kakek ini pun menepuk pundak orang itu.
Tinggal aku yang tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pun mengikuti keduanya, mencium tangan Kakek Putih itu. Tangannya begitu lembut dan harum. Dengan hanya menciumnya membuatku merasa aman.
Sambil membelai rambutku, kudengar dia berbicara pelan, "Kamu pulang. Jadikan ini sebagai pelajaran. Jaga tingkah laku dan tutur kata dimanapun kamu berada."
Aku mengangguk pelan. Mendengar kata pulang, tanpa sadar air mataku mengalir. Dia menepuk-nepuk pundakku dan mempersilahkanku untuk pergi.
Terlalu segan untuk menatap wajahnya, dengan menunduk aku menjauh dan mengucapkan salam.
Dengan tertatih aku mengikuti orang itu dan si Ibu tua menuju jalur turun, meninggalkan Kakek dengan Nyi Linggi.
Tidak ada satu pun yang berbicara diantara kami. Dalam gelapnya jalur Ciremai kami melangkah dengan diam.
Aku meraba kantong celanaku, benda pembawa petaka itu masih disana, terbungkus kain putih. Kenapa harus kain putih? Aku bertanya dalam hati. Apa pembalut kotor itu jadi semacam benda gaib atau sejenisnya? Karena yang sekilas kutahu, benda-benda mistis seperti keris, tombak dan sejenisnya biasanya dibungkus dengan kain putih juga.
Tapi apapun itu nanti, yang jelas aku gembira bisa berhasil membawanya turun. Benda ini kunci kesembuhan Ayu.
Lalu orang itu. Langkahnya yang biasanya lincah, sekarang berjalan pelan mengikuti langkah ibu tua. Tanpa dia, aku jelas tidak mungkin selamat melewati malam ini. Diluar senyumnya yang menyebalkan dan kata-katanya yang ketus, dia orang baik. Penampilannya yang kumal khas pendaki gunung menyembunyikan ketaatannya beragama. Berkali-kali, malam ini dia selalu mengingatkanku berdoa, beristighfar dan mengingat Allah. Setelah ini selesai, aku janji akan membalas kebaikannya.
Tapi lalu aku menyadari sesuatu yang janggal. Aku naik lagi untuk mengambil kotoran sial itu sebagai syarat kesembuhan Ayu. Kenapa makhluk-mahkluk itu malah menghalangiku? Bukankah seharusnya mereka justru senang. Kenapa mereka malah menerorku sepanjang perjalanan? Bukan hanya teror biasa, mereka berniat mencelakakanku.
Seribu pertanyaan tiba-tiba menyeruak dikepalaku. Malam ini benar-benar tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku.
Orang itu melirikku, senyumnya tampak jail. "Kapok ya naik Ciremai boy?"
Aku cuma bisa tersenyum ditanya begitu. Kapok? Jelas banget. Bukan cuma Ciremai, sepertinya setelah ini aku pensiun naik gunung
"Jangan lemah boy. Kejadian ini ambil pelajarannya." Katanya lagi. Orang itu seakan bisa membaca pikiranku.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Bang, terimakasih banyak udah nolongin saya bang." Kataku kali ini, "Kalo ngga ada abang, ngga tau gimana nasib saya."
Orang itu tertawa-tawa menyebalkan, tapi aku malah gembira melihat tawanya.
"Lu selamat bukan cuma karena gua boy. Lu juga harus terima kasih ke banyak orang yang nolong lu. Ada Mak Ncep, orang-orang di Cibunar, orangtua lu yang ngga putus do'ain lu dirumah, Ayu, termasuk juga Nyi Linggi. Dan tingkatin ibadah lu sebagai wujud syukur sama yang Maha Besar" Jawab orang itu. Kemudian dia melanjutkan "Ada maksud dari setiap kejadian boy."
"Maksudnya bang?' tanyaku tak mengerti.
"Jangan jadiin ini pelajaran pribadi lu. Ceritain ke temen lu, ceritain ke banyak orang, kalian manusia ngga hidup sendiri. Ada makhluk lain yang berbagi dunia dengan kalian. Berhentilah melakukan kerusakan di bumi."
"Iya bang," Balasku singkat. Kata-katanya barusan terasa meresap di hatiku.
"Oiya bang, tadi Kakek itu siapa bang?" Tanyaku.
Orang itu cuma tersenyum. Tampaknya keingintahuanku tidak akan terjawab dengan mudah.
"Kalong wewe tadi gimana nasibnya bang?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Mati." Jawabnya singkat.
"Bang tadi waktu kita pamitan sama Kakek kenapa Nyi Linggi diem aja, ngga nyerang atau ngapain gitu bang?" Lagi-lagi aku bertanya.
"Bawel lu ya." Jawabnya ketus. Tapi dia tetap menjawab, "mengambil kesempatan disaat orang lengah bukan perbuatan terpuji boy. Emang lu pikir siapa Nyi Linggi? Manusia?"
Aku mengamini jawabannya sekaligus merasa malu. Bahkan makhluk gaib pun punya tatakrama dan sopan santun.
Jalur yang kami lalui mulai terbuka agak lebar dan cenderung datar. Kabut tipis melayang diantara semak dan pepohonan. Aku agak merasa aneh melihat kabut dan kegelapan tanpa kemunculan hantu apapun. Apakah aku jadi terbiasa? Mungkin itulah mengapa orang itu terlihat biasa melihat penampakan segala setan di gunung ini.
Tanpa terasa kami sudah sampai di Condong Amis, tempat pertama kali aku bertemu orang itu. Ibu tua itu berjalan kearah pondokan kosong. Mungkin dia ingin beristirahat sebentar. Kami mengikuti dibelakangnya.
Saat baru saja melepas lelah di pondokan ini tiba-tiba leher dan pipiku bekas cekikan Kalong wewe tadi kembali berdenyut-denyut. Aku mengusap pelan leherku, terasa perih. Tapi rasa sakit itu semakin tak tertahankan.
Orang itu membaringkanku dilantai pondokan. Disampingku ibu tua itu memijit telapak tangan kananku sambil mulutnya berkomat-kamit. Kepalaku mendadak terasa sangat berat.
Kudengar orang itu berbicara padaku. Tak seperti biasanya, suaranya terdengar lembut "...Boy, sering-sering tengokin gua disini ya..."
Kulihat orang itu melepas pin dari carriernya dan meletakkannya ditangan kiriku. Aku hanya bisa menggenggamnya tanpa bisa melihat. Pandanganku mulai kabur. Hal terakhir yang kuingat adalah gema adzan shubuh.
...........
Berkas cahaya matahari tampak menembus jendela saat aku membuka mata. Aku terbangun diatas tempat tidur yang empuk. Disebelahku, dibalik tirai berwarna biru tampak kasur yang kosong. Selang infus tertancap di tubuhku yang terhubung dengan plastik berisi cairan yang menetes pelan ditiang disamping tempatku berbaring. Aku berada di rumah sakit.
Pintu terbuka, dan kulihat wajah Ayu lagi. Rasanya sudah bertahun-tahun.
Dia mendekat dan langsung memelukku sambil menangis. Kudengar dia meminta maaf berkali-kali sambil terus menangis. Aku ingin balas memeluknya, tapi tanganku terlalu lemah untuk digerakkan.
"Lu udah nggak apa-apa yu?" Tanyaku. Dia mengangguk sambil mengusap airmata.
"Maafin gua ya di. Gara-gara gua lu jadi begini." Dia meminta maaf lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk. ''Yang penting kita selamat." Kataku, "siapa yang bawa gua kesini yu?"
"Ngga tau juga di. Gua juga bangun-bangun udah disini" Jawab Ayu.
Aku teringat lagi sosok Ibu tua. Diam-diam aku sungguh berterimakasih. Juga orang itu. Pasti dia yang susah payah membawaku turun dari Condong Amis sampai Cibunar, lalu kesini.
Lalu aku teringat dia memberikanku sesuatu sebelum aku pingsan.
"Yu, liat pin yang gua pegang ga pas gw pingsan?" Tanyaku.
"Oh ada. Bentar ya." Katanya. Dia lalu membuka tutup kepala carrier, mengambil benda yang kutanyakan, lalu memberikannya padaku.
Aku menerimanya. Benar itu sebuah pin. Malam itu aku tak bisa melihat apa yang tercetak di pin ini saat pertama kali bertemu orang itu karena terlalu gelap.
Aku memperhatikan gambar yang tercetak disana. Tampaknya sebuah logo. Gambar cicak dan gunung, tulisan dibawahnya berwarna kuning sudah agak pudar tapi masih terbaca olehku: Edge Mountain.
Entah apa artinya. Tapi pin ini akan kujaga selamanya sebagai pengingat untuk malam yang penuh teror di Ciremai.
Aku teringat sesuatu. Kuraba kantong celanaku. Kosong. Benda sial itu rupanya sudah hilang. Aku membayangkan ritual-ritual gaib dilakukan pada benda kotor itu untuk menyembuhkan Ayu.
"Bekas pembalut lu yang didalam kain putih itu sekarang dimana yu?" Tanyaku karena tetap penasaran.
Ayu agak terkejut mendengar pertanyaanku.
"Ohh.. Udah dibuang ditempat sampah." jawabnya.
Sejujurnya aku sedikit kecewa mendengarnya. Tapi memang itu hal yang paling logis. Tempat buat kotoran memang hanya tempat sampah.
Raut terkejut masih terbaca di wajah Ayu. Dia lalu bertanya, "Kok lu bisa tau tentang pembalut di kain putih di? Kan selama ini lu pingsan."
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Teringat berapa horrornya perjalanan malam itu demi mengambil lagi benda sialan tadi. Ada rasa bangga dan sedikit merasa jadi pahlawan karena bagaimanapun aku berhasil menyelamatkan Ayu.
Lalu pertanyaan Ayu yang buatku terdengar agak konyol dan lucu, kok gua bisa tau tentang pembalut di kain putih? Ingin rasanya menepuk dada dan menceritakan semuanya.
Wajah terkejut Ayu masih belum hilang, dan matanya tampak penasaran. Lalu sebuah senyum mengembang diwajahnya, dia lalu berkata, "Padahal selama ini lu pingsan di. Tapi ya sudahlah, setelah malam itu kayaknya gua ngga bakal kaget kalo denger hal-hal aneh lagi."
Dan dia meneruskan, "Nanti deh gua ceritain perjalanan gua ngambil pembalut itu malem-malem di Ciremai. Nanti gua ceritain tentang Nyi Linggi, Kalong wewe, abang Moka. Eh nanti kapan-kapan kita kesini lagi ya. Mak Ncep terus-terusan ngerawat dan ngejaga lu selama lu pingsan dan kesurupan. Kita banyak utang budi sama dia"
__ADS_1
Sekarang giliran aku yang terkejut......
(End)