Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 3


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Pertengahan Oktober itu adalah waktu untuk badai-badai besar Andes mengamuk, yang terkadang membuat kami tetap dalam kabin selama 24 jam penuh. Di waktu-waktu ini teman-teman kami satu persatu tewas. Korban berjatuhan setiap beberapa hari sekali, kami yang masih bertahan hidup mulai berpikir kematian akan jauh lebih mudah daripada harus bertahan di puing-puing pesawat beku ini.

__ADS_1


Tapi orang-orang yang tersisa mulai berubah menjadi satu organisme, termasuk yang nyaris tidak mampu bergerak karena cedera serius. Kami akan serius mendengarkan setiap ada ide yang bagus, seperti layaknya manusia di awal-awal keadaan ketika terpaksa harus bertahan hidup. Setiap dari kita berkontribusi dengan caranya masing-masing. Dengan sadar kami mengesampingkan ego.


Situasi ini mirip pertandingan rugby tanpa pemain cadangan. Saat seorang pemain terluka, teman yang lain akan memaksakan diri memainkan banyak posisi untuk menutup celah. Segala sifat kami didunia luar keegoisan, kesombongan, ketidakjujuran dilupakan di dunia yang beku ini.


Nando Parrado menderita cerebral edema yang hampir saja merenggut nyawanya, tapi pengobatan untung-untungan secara ajaib justru menyelamatkannya: dalam keadaan koma, kami membiarkan kepalanya semalaman di salju. Dan es, ternyata obat terbaik untuk edema dan penghilang rasa sakit yang penggunaannya dalam bidang kedokteran akan secara luas digunakan dua puluh tahun dari hari itu.


Satu hal yang sangat krusial dan mengganggu di hari-hari awal itu adalah rasa haus. Walaupun kami dikelilingi salju, tanpa pengetahuan apapun kami tak mampu mengolahnya. Memakan es langsung malah membuat lidah kami iritasi dan sakit ditenggorokan. Lalu Fito Strauch punya ide sederhana. Dia meletakkan es tipis diatas selembar alumunium yang didapatkan dari bagian belakang kursi, memelintirnya menjadi corong dan membiarkan es yang mencair mengalir kedalam botol.

__ADS_1


Barang-barang lain pun berubah fungsinya. Parfum wanita menjadi disinfektan, pisau cukur jadi pisau operasi, kaos rugby menjadi perban.


Fito yang khawatir kalau pantulan sinar matahari di salju bisa menyebabkan kebutaan, lalu membuat beberapa pasang kacamata hitam dari sunshield yang dia temukan di kokpit. Dan karena tidak mungkin berjalan di salju setelah tengah hari tanpa menenggelamkan kaki di salju, Fito mengikatkan sepasang bantalan kursi ke kakinya lalu diikat dengan sabuk pengaman untuk digunakan sebagai sepatu salju darurat.


Kami juga mengatur pembagian jatah tidur ditempat yang paling nyaman dipesawat. Dalam kondisi saat itu, tempat paling nyaman itu adalah jaminan hidup. Diluar itu kematian dapat memilih kami secara acak.


Tanpa perintah khusus, kami bagaikan mengerti tugas masing-masing. Gustavo Nicolich dan Fito Strauch setiap pagi menegakkan kembali salib yang selalu rubuh setiap malam, Alvaro Mangino dan Arturo Nogueira menjalankan produksi air, aku sendiri merawat Vasco Echavarren, Daniel Fernandez selalu memijat kaki Bobby Francois agar tidak membeku, Roy Harley mengatur bagian dalam pesawat agar tetap layak huni, Carlitos Paez dan Gustavo Zerbino mengumpulkan barang-barang pribadi milik teman kami yang sudah meninggal seperti dokumen, medali, jam tangan dan mengumpulkannya didalam satu koper kecil.

__ADS_1


Setelah kapten rugby kami, Marcelo, meninggal akibat longsoran salju, kepemimpinan diambil alih oleh tiga bersaudara: Fito Strauch, Eduardo Strauch dan Daniel Fernandez. Mereka memimpin yang tersisa dari kami dengan baik. Mereka selalu mendengarkan ide-ide apapun.


(Bersambung)


__ADS_2