Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 28 (End)


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Setelah merayakan pertemuan kami, mereka membawakan kami sup panas, keju, dan cokelat. Saat tim medis memeriksa enam teman kami yang baru saja tiba, aku bertemu dengan komandan Garcia dan bertanya kapan teman-teman kami yang masih berada di gunung akan dijemput. Dia menjelaskan bahwa sangat berbahaya untuk terbang pada malam hari.


Penyelamatan harus menunggu keesokan harinya. Tetapi ia meyakinkanku dengan mengatakan bahwa tim medis dan tim penyelamat yang berada di gunung pasti akan merawat mereka dengan baik.


Setelah selesai makan, kami semua masuk ke dalam helikopter dan terbang menuju markas militer di dekat Kota San Fernando. Tim dokter dan paramedis telah berada di sana dengan mobil ambulance yang telah menunggu. Mobil-mobil ambulance itu dikawal oleh polisi-polisi bermotor, dan dalam waktu sepuluh menit kami telah sampai di Rumah Sakit St. John of God di San Fernando.


Para tenaga medis rumah sakit itu menyambut kami di tempat parkir dengan kursi dorong. Beberapa teman kami memang membutuhkannya, tapi aku l berkata kepada paramedis bahwa aku dapat berjalan sendiri. Setelah melintasi Andes, aku tidak akan membiarkan mereka membawaku untuk beberapa meter yang masih tersisa.


Mereka membawa kami menuju ke ruangan kecil yang bersih, kemudian melepaskan pakaian kotor dari tubuhku. Mereka melempar pakaian kotorku ke sudut ruangan dan aku hanya menatap sweter, celana jeans, dan pantalon yang selama ini telah menjadi kulit keduaku. Aku merasa lega telah melepaskan semua pakaianku, merasa meninggalkan mereka sebagai masa laluku.


Aku dibawa masuk ke kamar mandi dan di mandikan dengan air hangat. Aku merasakan tangan-tangan mencuci rambutku dan sebuah kain lembut m membersihkan tubuhku yang kotor.


Setelah selesai, mereka mengeringkan tubuhku dengan handuk yang lembut, kemudian aku melihat diriku di sebuah cermin besar dalam kamar mandi. Aku terpana saat aku melihat diriku. Sebelum kecelakaan pesawat, aku adalah seorang atlet yang terlatih, tetapi sekarang tidak tampak satu pun otot yang menonjol dari tubuhku. Tulang rusuk, pinggul, dan bahuku menonjol keluar dari permukaan kulit, lengan dan kakiku terlihat kurus sehingga tulang siku dan lutut menonjol keluar.


Perawat itu menarikku dari depan cermin dan memakaikanku pakaian bersih, lalu menuntunku ke tempat tidur dan mulai memeriksaku, tetapi aku meminta mereka untuk meninggalkanku sendiri untuk beberapa saat.


Setelah mereka semua keluar ruangan, aku merasa bahagia dalam kenyamanan, kebersihan, dan kedamaian ruangan kecil ini. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur, merasakan kehangatan dari kain seprei yang lembut. Aku membiarkan diriku tenggelam perlahan-lahan, aku selamat, aku akan pulang. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan sangat perlahan.


Bernapaslah sekali lagi, kami selalu mengatakannya saat berada di gunung, untuk saling memberi semangat saat merasa putus asa. Selama kamu bernapas, kamu masih hidup. Saat di gunung, setiap hembusan napas adalah perjuangan.


Selama tujuh puluh dua hari di Andes, setiap napas kami dipenuhi rasa takut. Kini, akhirnya, aku dapat bernapas dengan lega seperti biasa. Lagi dan lagi, aku memenuhi paru-paruku dengan udara, kemudian mengembuskannya dengan sangat perlahan, tidak terburu-buru, dan dalam setiap embusan napas aku berbisik kepada diriku sendiri dengan takjub. Aku masih hidup! Aku masih hidup!


Tiba-tiba ketenanganku terganggu oleh suara ribut dari luar kamarku, dan terdengar seperti suara kepanikan.


"Tenanglah!" Gertak beberapa lelaki. "Tidak ada yang boleh masuk ruangan ini."


Terdengar suara wanita menyahut. "Adikku ada di sini ia berteriak. "Aku harus menemuinya! Kumohon!"


Lalu, aku melangkah keluar menuju lorong dan melihat kakakku, Graciela yang sedang mendorong beberapa petugas rumah sakit. Aku memanggilnya, dan ia langsung menangis saat melihatku.


Kemudian, kami saling berpelukan, hatiku dipenuhi dengan rasa cinta saat aku memeluknya. Dia datang bersama suaminya, Juan, matanya berlinang air mata, dan sesaat kami bertiga hanya berpelukan, tanpa berkata apa pun.


Di ujung lorong, dalam cahaya remang-remang, aku melihat sosok Ayah. Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya, kemudian aku mengangkat tubuhnya.


"Papa, lihatlah," Aku berbisik ke telinganya saat kembali menurunkan tubuhnya, "Aku masih kuat mengangkatmu."


Dia mempererat pelukannya, menyentuhku,


meyakinkan dirinya bahwa aku masih hidup. Aku memeluknya sangat lama, merasakan tubuhnya bergetar lembut saat ia menangis. untuk beberapa saat kamu hanya membisu. kemudian dengan kepalanya menempel didadaku, ia berbisik, "Mami? Suzy?"


Aku menjawabnya dengan diam, dan ia sedikit lunglai saat ia mengerti.


Kemudian, Graciela mendekati kami berdua dan mengajak kami kembali masuk ke ruanganku. Mereka berkumpul di sekeliling tempat tidurku, aku menceritakan kisah hidupku selama di pegunungan. Aku menceritakan sewaktu pesawat terjatuh, tentang udara dingin, tentang rasa takutku, tentang perjalanan panjang yang aku tempuh bersama Roberto.

__ADS_1


Aku menceritakan bagaimana Ibu meninggal, dan bahwa aku telah berusaha menghangatkan Susy sebelum akhirnya ia meninggal. Ayah mengernyit saat aku bercerita tentang Susy, lalu aku menceritakan dengan jelas semua penderitaannya, ia tidak akan pernah merasa sendiri dan ia meninggal dalam pelukanku.


Graciela terisak pelan saat aku bercerita. Dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Ayah duduk di samping tempat tidurku, terdiam, mendengarkan, menganggukkan kepala, dengan senyum penuh kesedihan.


Setelah aku selesai bercerita, semua terdiam hingga Ayah memberanikan diri untuk berkata.


"Bagaimana kamu bisa bertahan, Nando?" Ia bertanya, "Berminggu-minggu hidup tanpa makanan"


Aku jujur padanya dan mengatakan bahwa kami bertahan hidup dengan makan daging para korban yang meninggal. Tetapi raut wajahnya tidak berubah.


"Kamu telah melakukan apa yang harus kamu lakukan." Kata Ayah dengan suara yang terbata-bata. "Aku bahagia, akhirnya kamu pulang.


Banyak yang ingin aku katakan padanya, bahwa aku selalu memikirkannya setiap saat, bahwa kasih sayangnya menjadi penuntun jalanku. Tetapi pasti masih banyak waktu untuk menceritakannya. Sekarang aku ingin merasakan kenikmatan berkumpul kembali bersama mereka, perasaan yang bercampur aduk.


Saat kali pertama, aku sulit memercayai bahwa saat ini, momen yang selalu aku impikan menjadi kenyataan. Pikiranku bergerak pelan, dan perasaanku datar. Aku tidak merasakan kegembiraan maupun kemenangan, hanya merasakan kenyamanan dan kedamaian. Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaanku, jadi aku hanya duduk terdiam.


Kemudian, kami mendengar suara-suara sukacita dari lorong rumah sakit, suara dari keluarga teman-teman kami saat mereka bertemu kembali dengan anak-anak mereka. Kemudian Graciela bangkit dan menutup pintu kamarku, dan dalam ruangan yang tertutup, aku berbagi sebuah keajaiban, berkumpul kembali dengan keluargaku.


Hari berikutnya, 23 Desember, delapan orang teman kami yang masih berada di pegunungan diterbangkan ke Santiago, mereka dirawat di sebuah rumah sakit bernama Posta Centrale. Para dokter memutuskan untuk merawat Javier dan


Roy mereka lebih fokus pada Roy yang memiliki kelainan dalam kandungan darah nya sehingga dapat membahayakan jantung nya tetapi teman-teman yang lain tidak perlu dirawat, mereka di pindahkan ke Hotel Sheraton San Cristóbal dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka.


Sore itu, delapan orang yang berada di Rumah Sakit St. John dipindahkan ke Santiago. Alvaro dan Coche, dua orang yang kondisinya paling lemah, dirawat di Posta Centrale, sementara yang lain dibawa ke Hotel Sheraton. Disini akhirnya kami semua berkumpul lagi dalam keadaan hidup.


.........


Empat puluh tahun telah berlalu. Setiap 22 Desember, kami berkumpul untuk mengenang hari dimana kami di selamatkan.


Gustavo menjalankan perusahaan besar yang bergerak di bidang kimia, ia juga menjabat sebagai Presiden Uruguay Chemical association. Ia telah bercerai dan memiliki empat anak laki-laki.


CARLITOS PAEZ


Tingkahnya masih kurang sopan, tapi penuh kasih sayang. Carlitos bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang bergerak dalam hubungan masyarakat di Montevideo. Kesenangan barunya adalah bermain dengan cucunya masih bayi, Justine.


ALVARO MANGINO


Salah satu yang termuda diantara kami. Sekarang ia telah menjadi ayah dari empat orang anak. Ia pernah tinggal beberapa tahun di Brazil, tapi tahun ini ia kembali berkumpul bersama kami di Montevideo.


COCHE INCIARTE


Coche sekarang adalah pengusaha ternak dan menjadi pemasok susu, mentega dan keju terbesar di Uruguay. Dari pernikahan nya dengan teman masa kecilnya, Soledad, ia memiliki tiga orang anak.


EDUARDO STRAUCH


Di Andes, ia dan sepupunya memegang kepemimpinan setelah Marcelo meninggal. Ia kini masih sama dengan dirinya yang dulu, pendiam dan tenang, tapi perkataan nya selalu berharga untuk didengar. Eduardo dan istrinya memiliki empat anak. Ia adalah seorang arsitek yang sukses.


DANIEL FERNANDEZ


Sekarang Daniel menjalankan perusahaan di bidang komputer dan teknologi. Ia juga bergabung dengan partai politik Banco. Tiap kali bertemu Roberto, yang fanatik pada partai Colorado, mereka akan berdebat hebat dan saling menyerang. Tapi akhir perdebatan selalu diakhiri dengan pelukan hangat.

__ADS_1


PEDRO ALGORTA


Ia tinggal di Argentina dan bekerja sebagai manager di perusahaan pengolah bir dan minuman. Ia dan istrinya mempunyai tiga orang anak.


BOBBY FRANCOIS


Di Andes, dia adalah yang paling pasrah. Jika kita mati, ya matilah, katanya seringkali. Sekarang Bobby adalah pemilik peternakan. Ia mempunyai lima orang anak.


JAVIER METHOL


Setelah berduka atas kematian Liliana selama bertahun-tahun, Javier akhirnya bertemu dan menikahi istri keduanya, Ana Maria. Ia sekarang sudah pensiun dari pekerjaan terakhirnya sebagai eksekutif di perusahaan tembakau.


ANTONIO 'TINTIN' VIZINTIN


Yang dengan berani mendaki gunung denganku dan Roberto, telah menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya. Pernikahan pertamanya berakhir dengan perceraian, istri keduanya meninggal secara tragis. Ia bekerja sebagai importir bahan kimia. Tintin masih tinggal di Carrasco, tapi ia seorang penyendiri, dan akhir-akhir ini kami jarang bertemu dengannya.


ROY HARLEY


Saat ini Roy menjadi insinyur di sebuah perusahaan cat. Ia tinggal di Montevideo dengan istri dan tiga anaknya.


PANCHO DELGADO


Sekarang dia adalah pengacara terkenal. Ia menikahi Susana, yang melahirkan empat orang anak.


MONCHO SABELLA


Ia tidak pernah menikah. Moncho bekerja sebagai pengembang real estate dan bersama Fito Strauch bekerja sama mengembangbiak kan burung unta.


FITO STRAUCH


Fito tinggal diluar kota dimana ia memiliki dan mengelola sebuah peternakan yang sukses. Ia memiliki tiga anak bersama istrinya, Paula.


SERGIO CATALAN


Sergio Catalan, seorang petani Cile yang kali pertama melihatku dan Roberto di pegunungan, yang kecepatan dan ketangkasan nya membuat kami tertolong dan menyelamatkan nyawa empat belas orang pemuda lain, secara teknis bukanlah korban yang selamat. Tapi jelas ia adalah bagian dari keluarga kami, dan kami tetap berhubungan dengannya sepanjang tahun, mengunjungi di desanya di Cile, atau mengundangnya ke MonteVideo untuk mengunjungi kami. la tetap seseorang yang sederhana, sopan, dan sangat bermartabat yang menaiki kudanya selama sepuluh jam untuk memandu tim penyelamat menjemput kami di Los Maitenes. la menjalani hidup yang sederhana, menghabiskan berminggu-minggu di padang rumput pegunungan, dengan hanya ditemani anjingnya, menggembalakan sapi dan domba. Sergio dan istrinya memiliki sembilan orang anak.


Yang mengesankan adalah bahwa seorang gembala sesederhana itu telah berhasil mengirim sebagian besar anak-anak mereka ke bangku kuliah dan menyaksikan mereka semua mantap dalam pekerjaan dan pernikahan.


Pada Maret 2005, istri Sergio, Virginia, mengundangku untuk menghadiri ulang tahun pernikahan mereka yang kelima puluh. Akan menjadi kejutan bagi Sergio, katanya. la tidak akan mengatakan pada Sergio bahwa kami akan datang.


Kami setuju, dan sehari sebelum perayaan itu, Roberto, Gustavo, dan aku, bersama segenap keluarga kami berangkat menyusuri jalanan yang sempit berbatu menuju desa tempat tinggal Sergio. Kaki Pegunungan Andes yang membentang kering menjadi pemandangan saat kami mendaki perlahan, lalu terlihat sosok seseorang menunggang kuda. la mengenakan pakaian tradisional gembala Cile. Jaket, sepatu bot runcing, dan topi lebar.


"Itu Sergio!" Seseorang berseru.


Kami menepi. Aku, Roberto, dan Gustavo keluar dari mobil dan berjalan mendekati penunggang kuda itu. Awalnya ia mencurigai kami, mengira kami orang asing yang baru kali pertama bertemu, tapi ketika ia melihat aku dan Roberto, matanya membesar dan berlinang air mata. Kami berpelukan lagi setelah empat puluh tahun berlalu.


End.


Bagaimana teman-teman, berjuang di gunung es selama tujuh puluh dua hari dengan mengandalkan mayat teman-temannya yang sudah meninggal.

__ADS_1


Semoga cerita ini menjadi inspirasi buat kita, untuk selalu menyayangi keluarga kita. Karena keluarga adalah segalanya.


Author meminta maaf jika ada salah kata. Sampai jumpa di cerita pendakian lainnya. Bye!!!👋


__ADS_2