Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 5


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


"Entahlah," ia berbisik, "Entahlah..."


"Kita tidak bisa mendaki gunung itu," gerutu Numa Malam itu, suasana suram melingkupi kami.


Empat orang yang telah mendaki adalah yang terkuat dan paling sehat di antara kami, dan gunung itu telah mengalahkan mereka. Aku bisa melihat ke dalam wajah-wajah mereka dan dari cara mereka saling berpandangan, pendakian itu membuat mereka tahu: kami tidak akan bisa pergi dari tempat ini, kami semua akan mati.


Malahan, aku berkata pada diriku sendiri bahwa mereka lembek, mereka takut, mereka begitu mudah menyerah. Menurutku, gunung itu tidak terlalu berbahaya.


Aku yakin jika kami memilih jalur dan waktu yang tepat, dan tidak menyerah pada hawa dingin dan kelelahan, kami pasti mampu mencapai puncaknya. Aku berpegang teguh pada keyakinan ini seperti halnya orang-orang yang tetap berharap datangnya pertolongan.


Apakah aku memiliki pilihan lain? Bagiku, ini


sepertinya sederhana tetapi mengerikan: Untuk bertahan jelas tidak mungkin. Aku harus bergerak menuju ke arah di mana ada kehidupan. Aku harus menuju ke barat, ke Cile. Pikiranku penuh dengan keraguan dan kegundahan bahwa aku yakin pada


sesuatu yang aku yakini adalah benar: Ke arah barat adalah Cile. Ke arah barat adalah Cile. Aku membiarkan kata-kata itu menggema dalam kepalaku seperti mantra. Aku tahu bahwa suatu hari aku akan mendaki.


Setelah beberapa hari menjalani cobaan berat itu, aku lebih sering berada di dekat Susy. Aku menghabiskan semua waktuku dengannya, menggosok-gosok kakinya yang membeku, memberinya beberapa seruput air yang kucairkan, menyuapinya dengan sepotong kecil cokelat pemberian Marcelo.


Aku selalu berusaha menenangkan dan menghangatkannya. Aku tidak pernah yakin bahwa ia menyadari kehadiranku. Ia hanya setengah sadar. Sering kali ia merintih. Alisnya selalu berkerut penuh kekhawatiran dan kebingungan. Kesedihan seialu terpancar dari matanya. Kadang-kadang ia berdoa, atau menyanyikan lagu-lagu sebelum tidur.


Beberapa kali ia memanggil Ibu. Aku selalu


menenangkan dan berbisik di telinganya. Setiap saat bersamanya begitu berharga, meskipun di tempat yang mengerikan ıni, kelembutan dari napasnya yang hangat di pipiku adalah kedamaian yang luar biasa bagiku.

__ADS_1


Saat menjelang senja pada hari kedelapan, aku sedang berbaring dengan kedua lenganku memeluknya ketika tiba-tiba aku merasakan perubahan pada dirinya. Kekhawatiran terlihat memudar dari wajahnya. Ketegangan menghilang dari tubuhnya. Napasnya mulai melemah dan pelan, dan aku merasa nyawanya terenggut dari lenganku, tapi aku tidak bisa berbuat apa pun untuk menghentikannya. Lalu napasnya berhenti, dan ia tidak bergerak.


"Susy?" aku menangis. "Oh, Tuhan, Susy, tidak!"


Aku berlutut, menelentangkan tubuhnya, dan mulai memberi pernapasan buatan. Aku bahkan tidak yakın bagaimana melakukan hal ini, tapi aku berusaha menyelamatkannya dengan putus asa.


"Ayolah, Susy, kumohon, aku menangis. Jangan tinggalkan aku!"


Aku terus melakukannya sampai aku terjatuh, kelelahan, ke lantai. Roberto menggantikanku, tanpa hasil. Lalu Carlitos mencoba, tapi sia-sia. Yang lain berkumpul disekitarku dalam keheningan.


Roberto mendekat ke sebelahku.


"Maaf, Nando ia telah meninggal," Roberto berbisik. "Temani ia malam ini. Kami akan menguburkannya besok pagi.''


Aku mengangguk dan memeluk Susy dalam dekapanku. Kini pada akhirnya aku bisa memeluknya dengan sekuat tenaga, tanpa merasa takut melukainya.


memeluknya, merasakan tubuhnya, bau rambutnya, saat aku merasa telah kehilangan, duka cita melanda diriku, dan tubuhku terguncang oleh isak tangis.


Tapi saat kesedihan meliputi diriku, aku mendengar, sekali lagi, suara dingin tanpa tubuh berbisik di telingaku.


Air mata menyia-nyiakan garam.


Aku berbaring terjaga sepanjang malam dengannya, dadaku naik-turun menahan rasa kehilangan, tapi aku tidak mengizinkan diriku menangis.


Keesokan paginya, kamı mengikatkan tali pengikat bagasi yang terbuat dari nilon pada tubuh Susy dan menariknya keluar dari pesawat menuju salju. Aku melihat saat mereka menyeretnya ke tempat pemakaman. Sungguh kasar memperlakukan Susy dengan cara seperti itu, tapi orang-orang di sini telah belajar dari pengalaman bahwa tubuh tak bernyawa terasa berat, sangat sulit untuk menanganinya, jadi aku menerimanya secara wajar.


Kami menarık tubuh Susy menuju sebuah tempat di salju sebelah kiri pesawat, di mana semua penumpang yang meninggal dikuburkan.


Mayat-mayat yang membeku terlihat sangat

__ADS_1


jelas, wajah mereka hanya terhalang oleh es dan salju setebal beberapa inci.


Aku berdiri di atas salah satu makam, dan dengan mudah melihat bentuk samar dari gaun biru ibuku. Aku menggali kuburan yang dangkal untuk Susy di sebelahnya.


Aku membaringkan Susy dan mengusap rambutnya ke belakang. Kemudian aku menimbunnya perlahan dengan genggaman-genggaman salju yang mengkristal, membiarkan wajahnya tetap terbuka sampai selesai. Ia terlihat sangat damai, seperti ia sedang tidur di bawah selimut bulu domba yang tebal. Aku memandangnya untuk yang terakhir kali, adikku yang cantik, lalu dengan perlahan aku menaburkan genggaman-genggaman salju di seputar pipinya sampai wajahnya tenggelam di bawah kristal-kristal yang berkilau.


Setelah kami selesai, yang lain berjalan kembali memasuki pesawat. Aku berputar dan memandang lereng sungai es, ke punggung pegunungan yang menghalangi jalur kami ke arah barat. Aku masih melihat jejak yang lebar, jejak Fairchild yang


terhempas ke dalam salju saat ia meluncur menuruni lereng setelah memotong punggung pegunungan. Mataku menelusuri jejak ini naik ke gunung menuju titik tempat kami jatuh dari angkasa ke dalam kegilaan yang kini menjadi satu-satunya realitas yang kami tahu.


Bagaimana bisa ini terjadi? Kami adalah


Lelaki-lelaki muda dalam perjalanan untuk bertanding! Tiba-tiba aku diserang oleh kekosongan yang memuakkan. Sejak saat pertamaku di gunung ini, aku telah menghabiskan semua waktu dan energiku untuk merawat Susy. Hal itu memberiku tujuan, mengalihkanku dari rasa sakit dan takut.


Kini aku benar-benar sendiri, tidak ada yang memisahkanku dari perasaan ngeri yang mengurungku. Ibuku telah meninggal. Adikku juga meninggal. Teman-teman terbaikku jatuh terlontar keluar dalam kecelakaan pesawat, atau terkubur di sini, di bawah salju.


Kami terluka, lapar, dan membeku. Lebih dari seminggu telah berlalu, dan tetap saja para penyelamat belum menemukan kami. Aku merasa kekuatan kejam pegunungan ini berkumpul menaungi diriku. Saat aku mengerti seberapa jauh kami dari rumah, aku tenggelam dalam keputusasaan, dan untuk kali pertamanya aku benar-benar yakin bahwa aku akan mati.


Nyatanya, aku memang sudah mati. Hidupku telah direnggut. Masa depan yang kuimpikan tidak akan terjadi. Wanita yang akan kunikahi tidak akan pernah mengenalku. Anak-anakku tidak akan lahir. Aku tidak akan pernah lagi menikmati Sorot mata nenek yang penuh kasih sayang, atau merasakan pelukan hangat dari kakakku, Graciela. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Ayah. Ayah kembali muncul dalam pikiranku, menderita, dan aku merasa ia akan menjalani cobaan berat yang


panjang dan itu hampir membuatku jatuh berlutut. Aku menahan amarah yang tercekat dalam kerongkonganku. Aku merasa kalah dan terjebak sehingga untuk beberapa saat kupikir aku akan menjadi gila. Kemudian aku melihat ayahku di sungai di Argentina. Ia tersisih, dikalahkan dan diambang keputusasaan. Lalu kuingat kata-katanya, "Aku tidak akan berhenti. Aku memutuskan akan menderita sedikit lebih lama lagi."


Itu adalah kisah favoritku , tapi kini aku menyadari bahwa kisah itu lebih dari sebuah cerita: pertanda dari ayahku, sebuah kebijaksanaan dan kekuatan yang diberikan padaku.


Untuk sesaat aku merasa ia bersamaku. Ketenangan yang menakutkan bersemayam melingkupi diriku. Aku menatap pegunungan itu ke arah barat, dan membayangkan sebuah jalur melintasinya dan kembali pulang ke rumah. Aku merasa rasa cinta kepada Ayah menyeretku seperti tali penyelamat, menarikku melewati lereng-lereng tandus.


Menatap ke arah barat, aku membisu mengucap janji untuk ayahku. Aku akan berjuang. Aku akan pulang. Aku tidak akan membiarkan ikatan di antara kita putus. Aku berjanji padamu, aku tidak akan mati di sini! Aku tidak akan mati di sini!


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2