
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Hari berikutnya, hari kesembilan menempuh perjalanan. Setelah memakan beberapa potong daging, kami berangkat lebih awal dari biasanya dan langsung menemukan jalan yang bagus untuk dilalui di sepanjang tepi sungai. Jalanan itu rata, mungkin karena sering dilalui kawanan sapi. Roberto berharap sewaktu-waktu dapat menemukan pondok petani, tapi lagi-lagi hanya harapan kosong. Seiring perjalanan, tidak tampak lagi tanda-tanda kehidupan.
Menjelang siang, perjalanan kami terhalang oleh sebuah batu sebesar rumah bertingkat.
"Kita harus mendaki batu itu." Kataku.
Roberto mengamati batu raksasa itu. Dia memutuskan untuk memutarinya setelah melihat ada celah sempit diatas pusaran sungai. Dia lalu berjalan membungkuk melalui celah itu sampai ia hilang dari pandanganku, lalu aku mulai mendaki. Roberto belum ada ketika aku telah sampai diseberang batu. Saat itu aku menunggunya dengan tidak sabar. Ketika ia akhirnya muncul, ia berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi perutnya. Wajahnya pucat.
"Isi perutku meledak. Diare. Sangat sakit." Katanya lemah,
"Apakah kamu bisa berjalan?" aku bertanya padanya.
Roberto menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa," Dia jatuh ke tanah dengan wajah meringis kesakitan.
"Ayolah Roberto. Sedikit lagi."
"Jangan sekarang. Biarkan aku istirahat dulu." Dia memohon.
Aku menatap cakrawala. Lembah ini menuju ke dataran tinggi yang luas. Jika kami bisa mencari jalan menuju puncak dataran tinggi itu, kami akan bisa melihat ke segala arah untuk mencari rumah atau pertanian.
"Aku akan membawakan ransel mu." Kataku. "Tetapi kita harus tetap berjalan. Kita harus berjalan menuju puncak dataran tinggi itu, lalu kita beristirahat di sana."
Sebelum Roberto menjawab, aku mengemasi barang-barangnya dan menyiapkan perjalanan kami, tidak memberikan Roberto pilihan apa pun selain mengikuti langkahku. Dia tertinggal jauh dari ku, tetapi aku selalu mengawasinya. Dia berjalan terhuyung, pincang, dan terlihat menderita dalam setiap langkahnya.
"Jangan menyerah, Muscle," Aku berbisik pada diriku sendiri, dan aku tahu, ia takkan pernah menyerah. Kini ia memaksakan tubuh nya supaya tetap berjalan dengan tekadnya yang semakin menipis. Ketika aku melihatnya, aku tahu bahwa aku telah tepat memilihnya sebagai rekan perjalananku.
Kami tiba di dataran tinggi menjelang senja, saling bergantian mengangkat tubuh menaiki lereng yang curam menuju puncak. Kami memandang ke arah padang rumput dibawah kami.
__ADS_1
Banyak pepohonan dan bunga liar, dan jauh di sebelah kiri kami terdapat dinding batu seperti pagar. Sekarang, kami berada jauh di atas ngarai sebuah sungai yang curam, dan daratan jauh berada di bawah tepi sungai. Lereng curam lainnya jauh berada di seberang sungai, lebarnya sekitar tiga puluh meter dan mengalir dengan sangat deras.
Roberto hampir tidak dapat berjalan, kemudian aku membantunya menyeberangi padang rumput menuju ke gerumbul pepohonan di mana kami memutuskan untuk bermalam.
"Beristirahatlah," Aku berkata kepada Roberto. "Aku akan pergi sebentar untuk berkeliling. Mungkin ada permukiman petani dekat sini."
Roberto menganggukkan kepala. Dia hampir tidak memiliki tenaga untuk berbicara, saat ia membaringkan tubuhnya di atas rumput yang lembut, aku tahu ia tidak ingin berjalan lebih jauh lagi. Aku tidak ingın memikirkan apa yang akan terjadi jika aku meninggalkan Roberto di sini.
Sore telah berlalu, aku berjalan mengikuti jalan sepanjang ngarai untuk melihat apa yang berada di depanku. Aku melihat beberapa ekor sapi sedang merumput di padang rumput, tapi setelah berjalan sekitar tiga ratus meter, aku melihat dengan jelas apa yang aku takutkan, sungai besar lain yang airnya mengalir dengan deras dari sebelah kiri dan menyatu dengan sungai yang telah kami ikuti sebelumnya. Perjalanan kami terhalang oleh pertemuan dua sungai besar ini. Sepertinya mustahil kami dapat menyeberanginya.
Lalu aku menceritakan yang aku lihat pada Roberto, tentang sungai besar dan sapi-sapi.
Kami berdua sangat lapar. Setidaknya sepotong daging dapat menghangatkan tubuh kami, aku mempertimbangkan untuk membunuh dan memotong salah satu dari sapi itu.
"Kau dungu. Bagaimana caramu membunuh hewan sebesar itu? " Roberto mengomel mendengar ideku untuk membunuh sapi.
"Aku akan menimpa kepalanya dengan batu besar. " Jawabku.
"Kau bantu memegangi lehernya." Kataku.
"Carajo! Sapi itu lebih kuat dari kita berdua. Kau benar-benar dungu."
Aku tak pernah melihat sapi seumur hidupku. Roberto ada benarnya juga.
"Aku tahu, aku akan naik ke pohon membawa batu. Lalu menunggunya lewat. " Kataku lagi.
"Bagaimana jika dia sama sekali tidak lewat? " Tanya Roberto.
"Kau menghalaunya supaya dia berjalan tepat dibawahku." Jawabku.
"Mierda! Carajo! Berjalan pun aku tak bisa! Kau benar-benar dungu, Nando!"
Roberto juga khawatir jika kami membunuh salah satu sapinya, petani itu tak kan mau menolong kami. Selain itu, kami juga tidak memiliki kekuatan untuk menangkap dan memotong hewan sebesar itu. Dalam sekejap kami mengabaikan gagasan itu.
__ADS_1
Kini kegelapan mulai menyelimuti dan hawa dingin mulai menusuk tubuh kami.
"Aku akan pergi mencari kayu bakar," Aku berkata, tapi saat aku berjalan beberapa meter dari padang rumput, aku mendengar Roberto berteriak lantang.
"Nando! Ada seseorang menunggang kuda! Lihatlah! Seorang penunggang kuda!" Roberto menunjuk sebuah lereng jauh di seberang ngarai sungai.
Aku memicingkan mataku berusaha melihat dalam kegelapan.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Cepat! Lari" Roberto berteriak dengan keras. "Turun ke sungai!"
Dengan membabi buta, aku menuruni lereng menuju aliran air dengan Roberto memandu arahku "Belok kanan, bukan ke situ, aku bilang ke kanan! Tidak, terlalu jauh! Belok ke kiri!"
Aku berbelok-belok menuruni lereng sungai, mengikuti teriakan Roberto, tapi aku tidak melihat seorang penunggang kuda.
Aku menengok ke belakang melihat Roberto yang berlari sempoyongan menuruni lereng di belakangku.
"Aku berani sumpah, aku melihat sesuatu," kata Roberto.
"Di sebelah sana sangat gelap," aku menyahut. "Mungkin hanya bayangan batu."
Aku memegang tangan Roberto dan membantunya kembali menaiki lereng menuju ke atas, ketika kami mendengar suara yang lebih keras dari pada gemuruh sungai, suara manusia!!.
Kami memutar pandangan, dan kali ini Aku juga melihatnya, seorang penunggang kuda. la meneriaki kami, tapi suara gemuruh sungai membuat kami tidak mampu mendengar kata-katanya. Kemudian ia memutar kudanya dan menghilang di balik kegelapan.
"Apakah kamu mendengarnya? Roberto berteriak. "Apa yang ia katakan??"
"Aku hanya mendengar satu kata," aku menjawab. "Aku mendengarnya berkata: tunggu"
"Kita selamat, Nando" kata Roberto hampir menangis.
(Bersambung)
__ADS_1