
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
------------------------------------------- Pertama kali memutuskan mau naik gunung lagi, saya sempat galau, antara Gunung Papandayan atau Gunung Lembu. Sudah sempat daftar open trip Gunung Lembu, tapi batal karena kurang peserta. Bolak-balik galau, akhirnya saya malah tidak milih keduanya. Setelah meneguhkan hati, saya pilih naik Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.
Sebelum naik, saya sudah browsing banyak banget soal Ciremai. Sempat tanya-tanya juga ke teman yang sudah pernah naik. Awalnya agak seram karena banyak cerita mistis dari gunung ini. Tapi terus saya mikir, semua tempat apalagi gunung pasti ada penghuninya, tinggal gimana kita aja waktu datang ke sana.
Ada beberapa cerita yang jadi patokan sebelum naik, cerita soal beberapa pendaki yang di sesatkan di Ciremai, lalu ada juga cerita dari Acen waktu mendaki via jalur Linggarjati, dan terakhir ada cerita Satya waktu mendaki via jalue Apuy.
Karena belum pernah plus tidak punya beberapa peralatan (tenda & alat masak), saya ikut open trip. Minusnya ikut open trip itu harganya lumayan mahal, tapi plusnya tidak perlu repot mikirin angkutan dan tidak berat bawa barang kelompok. Jadi, bawaan lebih ringan dan lebih santai.
Kemarin kami berangkat ke pos awal pendakian lewat Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Dari Terminal ini kami naik bus jurusan Kuningan. Harga tiketnya Rp. 80 ribu. Perjalanan makan waktu sekitar 6 jam, tergantung seberapa lama sopir ngetem sepanjang jalan.
__ADS_1
Untuk mencapai puncak Ciremai, kami memilih Jalur Palutungan. Jalur ini lumayan mudah didaki, tanjakannya ga begitu terjal. Jalur ini ada di di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Pos Palutungan bisa ditempuh dengan angkot dari titik perhentian bus. Ongkosnya rata-rata Rp 20ribu per orang, tapi bisa lebih mahal kalau jumlah penumpangnya dikit, pastikan nanya-nanya dan nawar dulu sebelum naik, ya.
Kami sampai di Desa Palutungan sekitar jam 4 pagi, masih ada waktu untuk istirahat dan makan. Selain kami ada beberapa grup lagi yang juga udah siap-siap mendaki pagi itu, jumlah peserta tiap grup bervariasi, ada grup kecil isi 2 orang, ada juga yang besar sampai 15 orang.
Pos Palutungan ini ada di ketinggian 1100 mdpl. Jarak vertikal dari pos ke puncak 1978 meter, dengan jarak tempuh 9,8 km dan waktu tempuh diperkirakan 10,5 jam. Pendaki biasanya mulai naik setelah matahari naik hingga sebelum matahari terbenam (sekitar 10 jam perjalanan), baru kemudian membuka tenda untuk istirahat.
Lokasi camp favorit pendaki di Ciremai ada di Gua Walet karena di lokasi ini tenda cukup terlindung dari angin dingin plus ada tetesan air gua yang bisa dipakai untuk minum dan masak-masak. Tapi, menurut petugas jaga, sekarang tidak disarankan lagi menginap di Gua Walet karena alasan kebersihan. Memang sih waktu kemarin mampir ke situ, banyak sampah peninggalan pendaki yang tidak dibawa turun. Sedih.
Kami mulai naik jam 7.30 pagi, di awal kami melewati rumah, sekolah, sawah, kandang sapi, dan banyak sekali kebun. Jalannya kecil, tapi diaspal rapi. Kurang lebih setengah jam jalan kaki, pendaki akan bertemu shelter yang terbuat kayu tanpa dinding. Shelter ini jadi penanda berakhirnya perkampungan dan dimulainya area Taman Nasional Gunung Ciremai.
Jalur palutungan lumayan landai hingga pos kedua, Pos Cigowong. Jalurnya memang terus menanjak, tapi masih aman dan nyaman. Karena model hutannya yang cukup tertutup, pendaki tidak begitu sering terpapar sinar matahari langsung. Sepanjang jalan kami ditemani lebah yang sok kenal sok deket, nempelnya di muka, di jidat, ngiung-ngiung di telinga. Tapi saya tidak berani usir, takut dientup.
__ADS_1
Oh iya, ini informasi yang lumayan penting. Jalur Palutungan minim sumber air, dari pos awal sampai ke puncak hanya ada 3 sumber air. Sumber air pertama dan kedua saling berdekatan, sumber air ke tiga di gua walet. Supaya aman, masing-masing pendaki wajib bawa minimal 2 x 1500 ml air dalam tas + 1 botol lagi untuk disimpan di luar dan diminum sepanjang perjalanan naik.
Pos Cigowong adalah tempat pertama dan terakhir pendaki ketemu warung untuk leha-leha. Di sini saya sempet jajan gorengan 10 biji, mizone, dan teh. Di warungnya juga ada banyak makanan lain seperti biskuit, popmie, aneka minuman ringan kemasan, dll. Harga makanannya lebih mahal ketimbang minimarket tentu saja.
Di Pos Cigowong ini banyak pendaki yang istirahat, beberapa gelar matras dan masak-masak. Kami cuma leha-leha ngelurusin kaki, nyemil, trus lanjut jalan lagi. Dari Pos Cigowong, perjalanan mulai menantang, lahir dan batin. Kalau sebelumnya jalurnya cukup landai, sekarang mulai menanjak dan bikin perih paha.
Jarak antar pos semakin pendek, dari Pos Cigowong ke Pos Pesanggrahan (tempat kami rencana buka tenda) sekitar 4 km, dengan elevasi 1000 meter. Jalurnya terus menanjak, sesekali ada bonus, tapi konsisten naik. Di sini saya mulai berubah jadi onta, dikit-dikit minum, sampai habis sebotol sendiri.
Pos yang lumayan saya ingat sepanjang perjalanan itu ada 2, Pertama Pos Arban. Konon pos Arban terkenal angker, sampai sampai ada papan peringatan Dilarang Bicara Sembarangan di sini. Saya sempet gemeter juga karena di pos ini tiba-tiba smartphone ga bisa dipakai buat foto-foto. Udah cabut batere, tetap aja fotonya ga muncul. Belakangan, waktu sampai di Jakarta, seminggu kemudian kira-kira, fotonya baru keliatan di hape.
Pos kedua yang juga berkesan adalah Pos Tanjakan Asoy. Pos ini ampuuunn, menuju dan meninggalkannya butuh keteguhan batin yang luar biasa. Jalurnya curam, saya yang tadinya masih berhitung kelipatan 30 langkah untuk istirahat akhirnya menyerah dan berhenti tiap 15 langkah. Sebelum nama posnya ditasbihkan, agaknya penemu sudah bermufakat kalau tanjakan di sini memang asooyyy…
Akhirnya, setelah 8 jam nanjak, Pos Pesanggrahannya ketemu saudara-saudaraaaa.. Duh gusti itu perasaan saya kaya baru dapet transferan, seneng banget bisa istirahat leyeh-leyeh, makan-makan, trus rebahan. Ini salah satu menu yang kami nikmati di camp, telur dadar, sayur asem, nasi putih, tambah saus sambal biar rasanya mantaps!
__ADS_1
-------------------------------------------
Teman-teman masih penasaran apa yang terjadi selanjutnya. Tongkrongin terus ya Jejak Pendakian... Jangan lupa Like, Comment, dan Share ke teman-teman lainnya... *B*yeeee.