
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Malam itu adalah tidur yang penuh dengan kegelisahan, dan ketika cahaya pagi bersinar redup melalui jendela Fairchild, aku telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa temanku telah terbangun, tapi tidak ada yang bicara padaku saat aku bangkit dan bersiap-siap untuk pergi.
Aku telah mengenakan pakaian untuk mendaki sebelum tidur. Di tubuhku melekat kemeja katun dan celana panjang wol. Celana itu adalah celana panjang wanita yang kutemukan di salah satu koper mungkin milik Liliana, tetapi setelah dua bulan di pegunungan, aku tidak kesulitan memasukkannya ke pinggangku yang kurus. Aku memakai tiga celana jins untuk melapisinya, dan tiga sweter untuk melapisi kemeja. Aku mengenakan empat pasang kaus kaki, dan kini aku melapisinya dengan kantong plastik supaya tetap kering.
memasukkan kakiku ke dalam sepasang sepatu rugby yang telah terkoyak dan dengan perlahan kukencangkan talinya, lalu menutup kepalaku dengan topi wol dan melapisinya dengan kerudung dan lapisan bahu yang kuambil dari jaket antelop milik Susy.
Semua yang kulakukan pagi itu terasa seperti sebuah upacara, sesuatu yang sangat penting. Pikiranku setajam pisau, tapi realitas terasa melumpuhkan dan seperti mimpi, dan aku memiliki perasaan aku sedang menyaksikan diriku dari kejauhan. Teman-temanku berdiri membisu, tidak tahu harus berkata apa. Aku pernah meninggalkan mereka sebelumnya, saat kami berjalan ke jalur timur, tapi aku tahu sejak awal bahwa perjalanan itu hanyalah latihan belaka. Pagi ini aku merasakan sebuah final dari keberangkatan ku, dan yang lain juga merasakan hal yang sama.
Setelah berminggu-minggu menjalin persahabatan dan berjuang bersama, tiba-tiba ada jarak di antara kami. Aku sudah akan meninggalkan mereka.
Aku memungut tiang aluminium yang akan ku gunakan sebagai tongkat, kemudian menurunkan tas ranselku dari bagasi di atas ku. Tas itu berisi daging untuk bekal dan beberapa benda aneh dan rusak yang mungkin berguna, beberapa potong kain untuk membungkus tanganku agar tetap hangat, lipstik untuk melindungi bibirku dari matahari dan angin. Aku telah menyiapkan barang-barang itu sebelum tidur, Aku ingin keberangkatanku cepat dan lancar, menunda perjalanan hanya akan mengurangi keberanianku.
__ADS_1
Roberto telah selesai berpakaian. Kami saling tatap lalu keluar. Udara dingin menyengat. Angin semilir dan langit berwarna biru. Hari yang sempurna untuk mendaki.
Fito dan sepupunya membawakan kami beberapa potong daging untuk makan pagi. Kami makan dengan cepat. Tidak banyak percakapan. Ketika tiba saatnya untuk pergi, kami berdiri untuk mengucapkan selamat tinggal. Carlitos mendekat dan kami berpelukan. Dia tersenyum bahagia, dan suaranya menguatkan tekad kami.
"Kalian akan berhasil!" dia berkata. "Tuhan akan melindungi kalian!" Aku melihat harapan di matanya.
Dia sangat kurus, sangat lemah, matanya cekung sampai ke tulang, dan kulit wajahnya berkeriput di sekitar tulang wajahnya. Hatiku hancur memikirkan bahwa aku adalah harapannya, dan perjalanan yang akan kami mulai adalah satu-satunya kesempatannya untuk bertahan hidup. Aku ingin mengguncang kan tubuhnya, membiarkan air mataku menetes, dan berteriak kepadanya, Apa yang kulakukan, Carlitos? Aku sangat takut! Aku tidak ingin mati!
Tapi aku tahu jika aku terus membiarkan perasaan ini, sisa-sisa keberanian yang kumiliki akan hilang. Lalu, aku memberikan kepadanya satu dari sepasang sepatu mungil warna merah yang dibeli lbu di Mendoza untuk Keponakanku. Sepatu mungil itu terasa ajaib bagiku karena Ibu membelinya dengan penuh cinta untuk cucu laki-lakinya, dan menyimpannya dengan baik di pesawat.
Semua yang lain mengucapkan selamat tinggal dengan berpelukan dan saling menatap memberi kekuatan. Wajah mereka menampakkan begitu banyak harapan dan begitu banyak ketakutan, sangat berat bagiku untuk menatap mata mereka.
Bagaimanapun, aku yang telah merencanakan pendakian ini, Aku yang memaksa mereka untuk percaya bahwa Cile bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Aku melihat semua orang menganggap tindakanku sebaga bentuk kepercayaan diri dan optimisme, dan ini mungkin memberi harapan bagi mereka.
Tetapi itu sebenarnya bukanlah sebuah optimisme. Itu adalah kepanikan. Teror. Dorongan yang menggerakkanku berjalan ke barat sama dengan dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melompat dari puncak gedung yang terbakar. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana seseorang dapat berpikir dalam waktu sesingkat itu, berdiri di ketinggian, menunggu saat yang tepat untuk mati.
Bagaimana bisa menentukan pilihan seperti itu? Apa logika yang memberi tahumu saatnya tiba untuk melangkah ke udara yang tipis? Pagi ini aku menemukan jawabannya. Aku tersenyum kepada Carlitos, lalu membalikkan tubuhku sebelum ia melihat kesedihan di mataku. Tatapanku tertuju pada gundukan salju yang menandai makam Ibu dan adikku. Sejak kematian mereka, aku tidak membiarkan diriku bersikap sentimental tentang mereka. Tapi kini aku terkenang lagi saat aku membaringkan Susy di liang kuburnya dan menimbunnya dengan salju yang berkilau. Dua bulan telah berlalu sejak hari itu, tapi aku masih dapat membayangkan wajahnya dengan jelas saat kristal-kristal putih itu jatuh perlahan di pipi dan keningnya. Kalau aku mati, pikirku, Ayah tidak akan pernah tahu bahwa aku telah membuatnya nyaman dan hangat, dan betapa damainya ia di dalam makan putihnya.
__ADS_1
"Nando, kamu siap?" Roberto menungguku.
Gunung itu berada di belakangnya, lereng putihnya berkilauan oleh sinar matahari pagi. Aku mengingatkan diriku bahwa puncak-puncak itulah yang menghalangiku dari rumah, dan saatnya telah tiba untuk memulai perjalanan panjang, tapi semua pikiran ini tidak memberiku keberanian. Aku hampir panik. Semua ketakutan yang menyiksaku sejak aku tersadar dari koma berkumpul menjadi satu, dan aku menggigil seperti akan menemui ajalku di tiang gantungan. Jika aku sendirian, mungkin aku akan menangis seperti bayi.
Selama berbulan-bulan, aku terus-menerus memikirkan pelarianku, tapi sekarang, di ambang pelarianku, aku sangat ingin tinggal bersama teman-teman. Aku ingin berkumpul bersama mereka di pesawat malam ini, membicarakan rumah dan keluarga kami, ditenangkan dengan doa-doa dan kehangatan tubuh mereka.
Tempat ini sebenarnya sangat mengerikan, basah oleh air kencing, bau busuk kematian, kotor oleh potongan tulang-belulang manusia, tetapi tiba-tiba bagiku tempat ini terasa nyaman, hangat, dan akrab. Betapa inginnya aku tetap di sini.
"Nando," kata Roberto, "Saatnya pergi."
Aku menatap makam itu sekali lagi, lalu berpaling ke Carlitos.
"Jika kamu kehabisan makanan. Aku ingin kamu memanfaatkan daging adik dan ibuku."
Carlitos terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Hanya jika sangat terpaksa." ia berkata pelan.
(Bersambung)
__ADS_1