Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Teror Di Gunung Dempo Part 2


__ADS_3

Dan tanpa komando lagi, kami semua berlarian dengan panik semampu yang kami bisa. Petir- petir terus menyambar di belakang kami, semakin mendekat. Tiap kali suaranyabmenggelegar jantungku seakan berhenti berdetak.


Dalam kepanikan itu sesekali aku dengar isak tangis Yuni yang ketakutan. Lalu sebuah tiang cahaya putih raksasa menghunjam beberapa meter di depan kami. Aku pasrah. Petir sedekat ini, aku tak mungkin selamat. Tapi itu bukan petir.


Di depan kami, hanya beberapa meter jauhnya, adalah seorang perempuan cantik bergaun putih. Matanya menatap kami penuh kebencian. Mimik wajahnya terlihat sangat marah.


Seluruh tubuhku gemetar, tapi aku tak mampu bergerak walau hanya untuk menunduk. Yang bisa kami lakukan hanya terpaku menatap senyum sinisnya. Kedua tangannya terlihat sedang memainkan sesuatu. Dan jantungku berdesir, menyadari yang ada ditangannya adalah kartu remi bergambar porno milik Bang Idan.


Seiring senyumnya yang menghilang, tangannya terangkat pelan dan terlihat mengancam. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah Yuni. Lalu sebuah suara terdengar, lembut tapi mengerikan.


"Kamu punya saya..." Sebuah petir menyambar lagi, seketika perempuan bergaun putih itu hilang tak berbekas diiringi suara cekikikan yang menggema diantara pohon-pohon cantigi Puncak Dempo.


Aku ketakutan setengah mati. Kakiku mendadak lemas dan mataku mulai panas. Yuni lebih parah. Aku lihat tubuhnya gemetar tak terkendali. Bang Idan yang paling duluan menguasai diri segera menggamit tanganku dan Yuni dan meminta kami segera bergerak.


"Ayo gerak. Ini udah ngga beres. Penghuni sini marah sama kita." Kata Bang ldan.


Setengah berlari kami bergerak menuruni jalur setapak Puncak Dempo. Tapi segera kami mulai melambat lagi. Walau hati ingin


secepatnya meninggalkan tempat itu, tapi keadaan tidak mendukung. Keadaan malam yang gelap gulita ditambah jalur berbatu yang licin karena basah dan sumber cahaya yang hanya ada didepan dan belakang malah membuat kami lebih lambat dari sebelumnya.


Tiap kali aku dengar gema suara cekikikan dibalik kegelapan rimbunan pohon cantigi, kakiku secara refleks ingin segera kabur tapi berpisah dari rombongan bukan pilihan. Dari sudut mata bisa aku lihat kelebatan-kelebatan sosok putih, dan aku sungguh tak ingin memastikan sosok apa itu sebenarnya.

__ADS_1


Gerimis sudah berhenti dan bulan mengintip sedikit di balik awan. Tapi hembusan angin masih setajam silet. Aku sudah tak mampu membedakan apakah menggigil karena ketakutan atau kedinginan. Teman-teman yang lain keadaannya hampir sama denganku: Yuni, Ale dan Anes. Kami masih mampu bergerak karena kami merasa dijaga oleh Bang ldan di depan dan Bang Amran di belakang.


Berkali-kali mereka selalu mengingatkan untuk bergerak dan terus berdoa.


Aku dengar suara Anes di belakangku bertanya pada Bang Amran.


"Bang, tadi itu siapa bang?" Walau suaranya pelan tapi masih cukup terdengar olehku.


Bang Amran tidak langsung menjawab, ada jeda sebentar sebelum akhirnya dijawab dengan suara yang terdengar ragu.


"Putri Dempo."


Kami melanjutkan melangkah turun dengan pelan dan beriringan. Aku terus menerus merasa was-was seakan ada banyak mata yang sedang mengawasi kami. Kadang aku tersentak kaget melihat cahaya senter yang disorot ke tanah dari belakangku, padahal hanya cahaya senter Bang Amran.


Aku mengerti ke khawatiran Bang ldan. Gunung Dempo ini bukan gunung sembarangan. Secara berkala di gunung ini terus menerus terjadi insiden yang serius. Orang hilang dan meninggal sudah umum terdengar. Ingatan akan hal ini yang membuatku terus memaksakan diri untuk berjalan walau sudah luar biasa letih.


Disini posisi jalan kami berubah. Bang Amran dan Bang ldan berganti posisi. Yuni dibelakang Bang Amran dan aku di tengah.


Dari belakang aku dengar suara Bang ldan mengingatkan untuk jalan dan jangan putus berdoa.


"Nes, doa menurut keyakinan kamu, Yuni juga." Suara Bang Idan mengingatkan Anes berdoa.

__ADS_1


"lya bang." Jawab Anes.


Aku lega karena kami sudah melewati hutan cantigi. Pohon-pohonbcantigi dengan cabangnya yang kurus seperti jari-jari mayat membuatku tak nyaman.


Kami mulai masuk hutan yang disepanjang jalur berisi pohon-pohon besar dan mulai rapat. Dibelakang pohon-pohon itu kabut putih bergerak pelan. Bayangan samar pohon-pohon kurus dibalik kabut bagiku seakan hidup dan mengawasi langkah kami.


"Pin, fokus ke depan. Jangan tengok kiri kanan." Suara Bang ldanbterdengar dari belakang.


"lya bang." Aku menjawab.


Tanpa diminta sebenarnya aku pun mulai jengah dengan suasana sekitar. Kabut-kabut yang bergerak pelan diantara pohon dan rimbunan semak mengajakku berpikir yang aneh-aneh. Lagi pula jalanan yang kian menurun curam menuntut perhatian lebih, apa lagi ditambah minim penerangan. Sering aku ragu untuk melangkah dan harus meminta di senter lebih dulu.


Lalu aku rasakan bulu kudukku meremang. Dari sudut mata seringkali terlihat melintas sesuatu, tapi aku paksa pandanganku terus fokus kedepan. Hingga tiba-tiba diluar keinginanku sendiri wajahku pelan-pelan menoleh ke samping kanan. Mataku langsung menatap dua buah kunang-kunang yang terbang kira-kita satu meter dariku.


Pandanganku bagai terpaku ke arah dua cahaya kecil itu. Semakin lama aku tatap, cahaya kecil itu pelan-pelan semakin membesar. Tubuhku langsung kaku ketika menyadari itu bukanlah kunang-kunang, melainkan sepasang mata berwarna merah menyala. Mata itu menatap lekat padaku tanpa berkedip. Sorot matanya terlihat sadis dan menampakkan ketidak-sukaan. Pelan-pelan wajahnya terlihat, lalu rambutnya, hingga akhirnya terlihat seluruh tubuhnya. Laki-laki itu memakai pakaian serba hitam. Rambutnya panjang dan berantakan.


Aku masih belum mampu menggerakkan tubuhku. Leherku kaku. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tak bisa. Tiba-tiba jantungku seakan lepas ketika wajah makhluk tadi dalam sekejap sudah berada sejengkal dari wajahku. Tapi wajah itu kini berubah menjadi busuk, dengan belatung-belatung yangbmenggeliat dan keluar masuk di mata, hidung dan kulit pipinya. Bau bangkai yang sangat busuk terhirup dan membuatku mual. Mataku membelalak ngeri dan reflek berteriak sekuat tenaga. Dan wajah busuk itu terus mendekat. Jeritanku makin menjadi ketika aku lihat kulit dan daging yang busuk di pipinya berjatuhan ke tanah.


Sebuah tamparan keras menyadarkan ku. Itu adalah Bang Idan yang tiba-tiba sudah ada di depanku. Ketika kesadaran ku mulai


pulih, aku mendapati diriku sedang duduk dengan posisi tangan menutupi wajahku. Teman-teman yang lain ada di sekelilingku.

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2