
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Puncak gunung tertinggi disebelah barat
tertutup oleh salju dengan lereng yang sangat curam, dan pemandangan di bawah kami sangat mengerikan, pemandangan yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.
Lereng yang terjal dan ketinggian yang membuat kami pusing. Dan menuruninya melewati awan-awan membuatku takut, dan aku harus memaksa diriku untuk bergerak. Saat kami meninggalkan puncak gunung dan mulai menuruni lereng, aku menyadari bahwa berjalan turun terasa lebih mengerikan dari pada saat mendaki nya.
Mendaki gunung adalah sebuah perjuangan, dan setiap langkah yang di tempuh merupakan suatu kemenangan kecil menantang gravitasi. Tetapi menuruni gunung adalah sebuah penyerahan diri. Kita tidak lagi melawan gravitasi, tetapi berusaha untuk mengalahkan harga hidup kita yang ditawar murah, dan saat merendahkan tubuh dengan berhati-hati pada setiap pijakan yang berbahaya ke pijakan yang lain, memberikan sedikit kesempatan untuk bertahan hidup, itu akan mendorong tubuh kita jatuh dari gunung dan terjun ke awan biru yang hampa.
Ketika aku turun beberapa meter dari puncak gunung, aku tidak dapat memercayai semua ini.
"Carajo! Aku orang yang mati. Apa yang kita lakukan disini?
Membutuhkan usaha yang besar untuk menemukan kembali keberanian ku, tapi aku berhasil, aku mulai berjalan dengan
hati-hati menuruni lereng yang curam di puncak tertinggi gunung ini. Lereng gunung ini terlalu curam untuk dapat menahan salju, tiupan angin menghempas permukaan gunung dan bebatuan, jadi kami menunduk kan tubuh dengan sangat hati-hati, memegang tepian batu besar yang menonjol keluar dari permukaan, kemudian menjepitkan sepatu bot pada celah-celah di antara batu-batu kecil. Terkadang kami merangkak menuruni lereng, dengan punggung kami sebagai tumpuan, dan kadang-kadang menuruni gunung dengan posisi tengkurap.
Setiap langkah adalah sebuah risiko, batu-batu gunung yang terlihat keras akan dengan mudah hancur oleh pijakan kami, dan kami harus mencari pegangan untuk menahan tubuh.
Kami tidak memiliki pengalaman dalam mengatur strategi dan merencanakan jalur pendakian. Yang kami pikirkan hanyalah bertahan dalam setiap langkah, terkadang rute perjalanan kami mengarah ke jalur yang tidak dapat dilalui, atau menuju ujung karang yang menonjol keluar dari lereng gunung seperti balkon rumah bertingkat, dengan napas tertahan melihat dasar gunung yang berada di kedalaman ribuan meter. Tidak satu pun dari kami yang memahami teknik mendaki, tetapi kami berusaha melewati atau mengitari batu-batu yang merintangi jalan, atau turun melalui celah-celah bebatuan yang sempit. Terkadang kami tidak memiliki pilihan selain meloncat dari satu batu ke batu yang lain di ketinggian ribuan meter dalam udara yang tipis.
Selama lebih dari tiga jam kami hanya berjalan sejauh lima belas meter, tetapi akhirnya batu-batu ini memberikan jalan menuju lereng terbuka di bawah timbunan salju yang tebal. Tidak terlalu menakutkan untuk berjalan membelah salju yang tebal daripada harus melalui jalur seperti yang sebelumnya.
Tapi melewati salju yang tebal sangat melelahkan, dan kami sering kali terjebak dalam lubang-lubang yang tidak terlihat karena tertutup salju. Lagi-lagi, yang pada awalnya terlihat sebagai lereng yang landai ternyata penuh dengan dinding es, turunan
__ADS_1
yang curam dan jurang tersembunyi. Setiap jalan buntu yang kami temui memaksa kami untuk mengikuti jejak kami kembali dan mencari rute lain.
Setelah berjalan menuruni gunung sejauh beberapa ratus meter, dengan tidak terduga kami harus mengubah rute kami. Karena permukaan gunung sebelah barat selalu terkena sinar matahari, banyak salju yang mencair, dan banyak bebatuan yang
terlihat di permukaan. Permukaan gunung yang kering lebih memudahkan perjalanan dari pada permukaan yang tertimbun salju tebal, tetapi tempat ini penuh dengan batu-batu lepas dan lubang-lubang yang dalam. Bebatuan ini merupakan pijakan yang sangat berbahaya, dan sering kali aku hampir kehilangan pegangan dan harus bersusah payah mencengkeram batu dan gundukan es untuk bertahan agar tidak jatuh tergelincir.
Ketika memungkinkan, kami membaringkan tubuh dan meluncur turun, atau menunduk kan tubuh kami di bawah semacam gua batu-batu besar dan mengikutinya menuruni gunung.
Pada saat tengah hari, setelah berada di gunung selama kurang lebih lima jam, kami tiba pada area di mana lereng gunung menghadap ke arah gunung sebelah barat. Permukaan gunungnya dipenuhi dengan lapisan salju yang dalam, dan ketika aku melihat permukaan putih dan halus, sebuah ide terlintas dalam pikiranku. Tanpa banyak berpikir, aku mengambil alas tempat duduk yang kusimpan dalam tas, melemparkannya ke permukaan salju, lalu mendudukinya.
Dengan memegang tongkat aluminium di kedua tanganku, aku menarik kakiku, mendorong tubuhku ke depan dan mulai meluncur menaiki alas tempat duduk itu menuruni lereng gunung. Aku tahu aku sedang melakukan tindakan yang sangat bodoh. Permukaan es ini sangat keras dan licin, dan dalam jarak beberapa meter, kecepatannya bertambah menjadi sangat cepat.
Terbiasa memacu sepeda motorku di jalanan Uruguay memberiku kepekaan terhadap kecepatan, dan aku yakin aku telah meluncur menuruni lereng dengan kecepatan enam puluh mil per jam. Untuk memperlambat laju kecepatan, aku menggerakkan tongkat aluminiumku di salju, dan menahan dengan kedua tumitku, tetapi upaya ini tidak berpengaruh apapun, hanya membuat berat tubuhku lebih ke depan. Aku tahu jika aku jatuh dari alas dudukku dan terguling menuruni gunung maka semua tulangku akan patah sehingga aku tidak lagi berusaha mengurangi kecepatan dan hanya berpegangan, meluncur melewati bebatuan, kemudian melesat melewati gundukan-gundukan, tanpa bisa mengendalikan maupun menghentikannya.
Akhirnya, sebuah dinding salju terlihat, dan aku sadar bahwa aku sedang meluncur tepat kearahnya.
Dan beberapa saat kemudian aku terhempas ke gundukan salju itu dengan kecepatan tinggi, namun meskipun tumbukan itu membuatku pusing, salju yang tebal telah meredam kerasnya tumbukan sehingga aku bisa selamat.
Ketika aku berusaha keluar dari timbunan salju, terdengar teriakan Roberto yang begitu keras dari atas. Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi aku tahu ia tetap berada ditempatnya saat aku melakukan perbuatan nekat itu. Aku melambaikan tangan padanya agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja, dan beristirahat sementara ia berjalan turun perlahan menemuiku.
Kami melanjutkan perjalanan menuruni lereng gunung, dan menjelang senja kami berhasil menuruni dua per tiga dari ketinggian gunung. Di lokasi pesawat, bayangan gunung sebelah barat menjadikan hari cepat menjadi gelap. Tapi di sini, di sisi sebelah barat gunung, cahaya matahari terus menyinari hingga malam tiba, dan aku ingin memanfaatkan setiap saat yang masih tersisa sebelum gelap.
"Kita harus terus berjalan sampai matahari terbenam," Kataku.
Roberto menggelengkan kepala. "Aku perlu beristirahat."
Roberto memang terlihat lelah. Aku juga sangat lelah, tapi kegelisahan dan keputusasaan dalam diriku terasa lebih kuat dari pada rasa lelahku. Selama berbulan-bulan, aku menahan keinginanku untuk terbebas dari tempat ini. Dan, sekarang aku telah berjalan menuju kebebasan ku dengan perasaan meluap-luap. Kami telah berhasil menaklukkan gunung yang mengurung, dan kini sebuah lembah terbentang luas di hadapan kami, yang menuntun kami menuju rumah. Bagaimana mungkin aku berhenti sekadar untuk beristirahat?
"Kita akan beristirahat beberapa jam lagi," Kataku.
__ADS_1
"Kita harus berhenti! " Roberto membentakku.
Aku tahu tidak ada gunanya berdebat. Kami membentangkan kantong tidur diatas permukaan batu yang kering dan beristirahat untuk malam itu.
Malam itu tidak terlalu dingin, mungkin karena kami berada di tempat yang rendah, atau mungkin karena panas matahari masih tersimpan dalam batu yang menjadi alas tidur kami.
Keesokan paginya adalah 15 Desember, hari keempat perjalanan kami. Saat matahari telah terbit, aku membangunkan Roberto dan kembali berjalan menuruni lereng. Menjelang siang kami telah sampai di kaki gunung, dan ternyata kami berada di jalan menuju lembah yang kami perkirakan menuju ke sebuah tempat di mana ada peradaban.
Sungai es mengalir pelan di sepanjang dasar lembah, berkelok-kelok melalui gunung-gunung yang berdiri kukuh di sekelilingnya. Dari kejauhan, salju yang menutupi sungai es itu tampak bening seperti kaca, tetapi itu hanya tipuan mata. Dari dekat, ternyata salju yang menutupi permukaan sungai es terlihat retak, menjadi bongkahan-bongkahan es dan bergerigi.
Perjalanan tidak lah mudah, beberapa kali kami hampir terjatuh seolah-olah kami berjalan di atas puing-puing beton. Bongkahan-bongkahan es yang besar berguling dan bergeser di bawah kaki-kaki kami. Pergelangan kaki kami tidak dapat bergerak, dan kedua kaki kami tergelincir dan terjepit pada celah-celah sempit di antara bongkahan es.
Perjalanan itu sungguh sulit dan menyakitkan, dan kami harus berhati-hati untuk setiap langkah kami berdua tahu bahwa di alam liar ini, patah kaki berarti kematian. Aku bertanya-tanya, apa yang akan kami lakukan jika salah seorang dari kami terluka. Apakah aku akan meninggal kan Roberto? Atau ia akan meninggalkan ku?
Sepanjang hari kami terjebak di sungai es ini, sampai tidak terasa waktu telah berlalu. Kami berdua berjuang keras melewati jalur yang sulit, dan aku membiarkan langkahku menjauh dan lebih jauh lagi dari Roberto. Terkadang ia berteriak kepadaku, "Pelan-pelan, Nando! Kamu bisa membuat kita berdua terbunuh!"
Aku terus berjalan lebih cepat dan marah setiap kali aku menunggu Roberto menyusulku, menurutku ia membuang-buang waktu. Tetapi ia memang benar. Kekuatan Roberto hampir habis. Begitu pula dengan kekuatanku yang mulai menipis. Kejang pada kakiku terasa menyakitkan dan memperlambat langkahku, napasku tipis dan terengah-engah. Aku tahu kami sedang berjalan menuju kematian, tapi aku tidak dapat menghentikan langkahku.
Waktu semakin sempit, tubuhku semakin melemah dan aku semakin takut untuk tetap berjalan. Rasa sakit dan tubuhku tidak lagi menjadi masalah bagiku, tubuhku hanyalah tumpanganku untuk pulang. Dan aku akan mengutuk diri jika tubuhku menjadi penghalang bagiku untuk pulang.
Saat itu suhu udara tidak terlalu dingin sehingga kami dapat terus berjalan setelah matahari terbenam, dan kadang-kadang aku berhasil membujuk Roberto untuk tetap melanjutkan perjalanan pada malam hari.
Walaupun dalam keadaan yang menyedih kan, kami tetap terpesona oleh keindahan Andes pada malam hari. Langit berwarna biru gelap di hiasi gugusan bintang yang berkilau. Cahaya bulan menyinari puncak pegunungan dengan lembut, dan menerangi hamparan salju dengan cahaya yang menakutkan.
Suatu kali, saat kami menuruni lereng gunung, aku melihat bayangan-bayangan samar di depanku, seperti sekumpulan orang-orang suci berkerudung yang berdoa bersama di bawah cahaya bulan. Ketika kami sampai pada bayangan-bayangan itu, ternyata ia adalah pilar-pilar salju yang tinggi, para ahli geologi menyebutnya penitente, yang terbentuk di dasar lereng bersalju oleh putaran angin.
Terdapat banyak sekali pilar di tempat itu, berjajar membisu, dan kami harus mencari jalan untuk melaluinya seolah-olah kami melewati sebuah labirin. Terkadang aku melihat bayanganku sendiri bergerak di permukaan salju, membuktikan bahwa aku nyata dan masih hidup. Namun, sering kali aku merasa seperti hantu yang bergentayangan di hamparan salju diterangi cahaya bulan, bagai jiwa yang terperangkap dalam dunia antara hidup dan mati, hanya dituntun oleh harapan, ingatan, dan kerinduan akan kampung halaman.
(Bersambung)
__ADS_1