Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Gunung Dempo Part 7


__ADS_3

Bang Idan seakan tak mempercayai ku hingga akhirnya dia melihat sendiri. Jalur itu kini ada dua, dan kedua jalur itu tak ada yang kami kenali sama sekali.


"Insting kau pilih yang mana, Dek?" Tanya Bang ldan.


Aku menjawab tanpa ragu, "logikanya yang kiri pasti ke jurang Bang. Yang benar yang kanan kalo instingku." Bang ldan tampak berpikir dengan keras. Kami semua diam


menunggu keputusan Bang ldan.


Lalu Bang Amran membuka matanya, dia menatap kami satu persatu sambil nyengir disusul tawa terbahak-bahak.


"Hi hi hi kamu ngga bisa pulang... " Bang Amran yang masih terus kesurupan berbicara diantara tawanya. Kalimat itu dia ucapkan terus menerus dengan nada mengejek. Wajah Bang ldan langsung mengeras, lalu berteriak kencang, "SEMUA PASTI PULANG! TIDAK ADA YANG DITINGGAL!"


Aku terpaku menghadapi situasi yang mendadak kembali tegang. Sementara Ale dan Anes juga panik karena Yuni tiba-tiba mulai menggeliat lagi dan mulai mengaum dengan buas.


"Kamu ngga bisa pulang!! Hahahaha" Bang Amran membentak ku disusul tawanya yang seakan menertawakan ketidak berdayaan kami.


Ale dan Anes berteriak-teriak saat Yuni memberontak. Mereka terbanting-banting ke kanan dan kiri. Lalu diantara geraman-geramannya, Yuni berbicara, "Lompat ke jurang. Lompat ke jurang."


Kami berpandangan dengan ngeri mendengar ucapan Yuni, terutama karena posisi kami yang memang tepat di bibir jurang. Kakiku gemetar. Kabut yang menutupi jurang mengaburkan pandangan tentang seberapa dalam jurang itu sebenarnya. Pelan aku mundur menghindari tepian.


Lalu sesuatu terjadi dengan begitu cepat, aku dan Bang Idan hanya mampu mematung dengan wajah ketakutan ketika Yuni menggeram dengan kencang sambil melempar Ale dan Anes ke dalam jurang.


Tubuh kedua temanku itu langsung hilang ditelan kabut, sementara suara teriakannya bergema diantara dinding-dinding jurang. Baik aku atau Bang Idan benar-benar shock hingga kami hanya bisa mematung tak mampu bergerak. Yuni mengalihkan perhatiannya pada Bang Amran yang berteriak dan marah-marah tak karuan. Lagi-lagi kami hanya bisa melihat dengan ketakutan ketika Yuni menendang Bang Amran yang langsung terbalik ke jurang diiringi suara tawa yang mengerikan.


Belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi, Yuni tiba-tiba merangsek ke arah ku dan Bang ldan dengan gerakan seperti


harimau dan mendorong kami semua termasuk Yuni sendiri masuk ke jurang, sambil berteriak kencang, "SEMUA MASUK


JURAAANG!"

__ADS_1


Jantungku seakan digenggam lalu ditarik dengan keras. Kabut berkelebat, aku berteriak dengan histeris sambil menunggu tubuh atau kepalaku hancur membentur dasar jurang. Tapi dalam kepasrahan aku merasakan kakiku tidak menapak udara kosong, melainkan tanah yang padat. Dalam sekejap aku menyadari keberadaanku. Rasa takut, tak percaya dan lega berkumpul menjadi satu. Kami semua belum mati! Entah bagaimana tiba-tiba kami semua sudah ada di tengah jalur Dinding Lemari!


Kulihat di kanan kiriku Ale dan Anes yang menangis tersedu-sedu, juga Bang Idan yang wajahnya terlihat sangat shock tapi tetap menggenggam Bang Amran dan Yuni di kedua tangannya. Dia juga yang langsung memberi kami aba-aba agar segera turun dari Jalur Dinding Lemari ini.


Saat kami tiba di dasarnya, Bang ldan segera mengangkat kedua tangannya, mengucapkan Alhamdulillah, lalu kudengar dia juga berkali-kali mengucapkan terima kasih ke arah Yuni.


"Makasih Nenek Setue, makasih Nenek Setue sudah menyelamatkan kami. Alhamdulillah ya Allah." Bang ldan mengulang-ulang ucapannya.


Bang ldan juga menyuruh kami berterima kasih pada mahkluk yang masuk ke tubuh Yuni, juga pada Allah. Rupanya makhluk


harimau itu datang untuk menolong kami.


Di tempat itu kami semua beristirahat dan menenangkan deru jantung. Bang Amran nampak sudah sadar, tak lagi mengoceh tak


karuan, tapi dia sedikit linglung. Begitu juga Yuni. Walau belum sadar sepenuhnya, karena masih terdengar geraman-geraman halus dalam nafasnya, tapi sudah tak bergerak dengan liar. Ale dan Anes terduduk bersandarkan batu, seluruh pakaiannya basah oleh keringat.


"Bang, aku mau tanya bang," Aku bertanya pada Bang ldan sambil menggeser pantatku mendekat, "kalo nda ada Nenek Situe gimana nasib kita bang?"


ke arah jurang." Aku menelan ludah mendengar jawaban Bang ldan.


Benar, kesombongan manusia bukan apa-apa di tengah hutan belantara ini. Tanpa uluran tangan makhluk lain, kami tidak akan mungkin bisa selamat hingga ke titik ini. Kami mulai bergerak kembali beberapa saat setelah beristirahat. Sekarang kami memasuki hutan yang semakin rapat. Namun menapaki jalur yang kami kenal sungguh membuat banyak perbedaan. Sekarang kami melangkah dengan tenang. Gangguan juga tidak ada lagi seperti yang sebelumnya kami rasakan di jalur berkabut tadi, hanya kelebatan-kelebatan masih sering kali muncul di ekor mataku.


Lalu tanpa diduga, kami tiba di batas hutan. Di sebelah kananku sekarang bukan lagi pohon-pohon besar, melainkan ladang kubis sejauh mata memandang. Dipinggiran hutan aku melihat ada sebuah pondokan kayu. Cahaya yang berasal dari lampu kaleng berpendar-pendar dari pondokan itu. Rasa gembira dan syukur memenuhi dadaku. Aku langsung berlari ke arah pondokan itu sambil berteriak, "Bang, kita udah sampe bang! Kita udah selamat! Alhamdulillah!"


Aku berlari diantara penampang-penampang yang berisi buah-buah kubis yang besar dan nampak masak. Diantara kubis-kubis itu kadang terselip terong-terong besar berwarna ungu. Aku langsung teringat pada rasa laparku. Tapi itu bisa menunggu, mudah-mudahan pemilik pondokan mengijinkan kami memakan beberapa buah terong yang tampak segar tersebut.


Pondokan itu dibuat dari batang bambu yang dibelah dua. Ada tangga kecil yang mengarah ke teras pondokan itu. Di teras itu


nampak bale-bale kayu, sementara lampu kaleng tampak menempel di dinding.

__ADS_1


Dengan sigap aku naik ke tangga itu dan


mengucap salam.


"Assalamu'alaikum... " Aku mendengar suara salam ku sendiri yang terdengar sedikit antusias. Tapi tidak ada jawaban.


Setelah beberapa kali mengucap salam, akhirnya kudengar suara dari dalam pondokan, disusul pintu yang terbuka. Pemilik pondokan itu adalah seorang kakek yang berusia sekitar 60 tahun. Wajahnya


nampak tidak ramah. Lalu tanpa membalas salamku dia bertanya dengan nada yang terdengar jengkel.


"Ada apa? Siapa? Tanyanya.


Aku menjawab sesopan mungkin, "Saya Alpin, Pak. Saya mau numpang istirahat."


Dia menatapku, masih dengan tatapan jengkel nya kemudian bertanya, "Dari mana?"


"Dari pucuk pak. Kami dari Puncak Dempo." Jawabku.


Jawabannya diluar dugaanku. Dia malah semakin tampak gusar.


"Huh! Lagi-lagi terjadi. Anak-anak kurang ajar! Sebenernya buat apa kalian itu ganggu-ganggu kenyamanan penghuni Dempo? Ini selalu saja terjadi!" Dia mengomel panjang lebar. Aku menoleh ke belakang dan merasa heran karena tak melihat teman-temanku. Padahal tadi mereka tepat dibelakangku tidak jauh. Ah, mungkin sebentar lagi.


"Saya dan teman-teman numpang istirahat dulu, Pak." Kataku.


"Teman apa? Tidak ada itu teman-temanmu!" Dia menjawab


dengan galak.


Belum sempat menjawab, kulihat istrinya muncul dari balik pintu. Aku agak takut melihatnya. Nenek itu berambut panjang, beruban dan awut-awutan. Wajahnya hitam dan nampak menyeramkan, juga nampak sama tak ramahnya dengan kakek ini. Nenek itu memakai kain yang dililit di dada dan memakai kebaya model lama.

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2