
Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Pagi harinya, seperti biasa para pendaki pasti mengejar sunrise. Mereka berfoto-foto, sarapan, dan mereka melanjutkan pendakian sampai ke Kalimati. Pukul sebelas siang mereka sudah berada kembali di tengah hutan, mereka terus berjalan selama kurang lebih dua jam dan Tika tidak mendapatkan gangguan lagi.
Akhirnya mereka sampai di Kalimati pukul setengah lima sore kondisi masih sangat terang dan suhu sudah cukup dingin untuk jam segitu. Tika tidak melihat apa-apa sesampainya di Kali mati, namun dia merasa ada sosok besar dan tidak tau itu apa Tika tidak melihat namun mendengar suaranya jadi tidak tahu itu makhluk apa. Suara itu seperti terbawa angin dan memberikan pesan kepada Tika bahwa dia tidak boleh sendirian.
Tika tidak bisa mengabaikan pesan itu dan bener-bener masuk ke dalam hati. Tika sempat diam sejenak dan melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa kecuali mereka bertiga. Melihat itu Jo bertanya,
"Lihat apaan?" tanya Jo.
"Emmm... gak ada." jawab Tika sambil mengigit pinggir bibirnya.
Di belakang Tika terdapat pohon besar dan ada papan bertulisan Sumber Mani. Dan di bawah pohon tersebut mereka mendirikan tenda Jo dan Syukur bertugas mendirikan tenda, sedangkan Tika berusaha menghibur diri agar tidak terbawa rasa takut selama pendakian ini. Tika menghibur diri dengan berbicara dengan beberapa burung, berusaha melupakan kejadian-kejadian yang di alaminya.
__ADS_1
Singkat cerita, pukul setengah enam Jo dan Syukur pergi meninggalkan Tika di tenda sendirian untuk mengambil air. Jo dan Syukur berani meninggalkan Tika karena di sekitar tenda banyak pendaki lain dan waktu juga masih terang sehingga akan aman-aman aja untuk Tika sendirian di tenda. Tiba-tiba datang angin cukup kencang dan menggoyang tenda tempat Tika di tinggal, hanya tenda tersebut yang bergoyang yang lainnya tidak.
Angin sangat kencang hingga masuk ke dalam tenda, dan saat itu Tika sedang memasak di dalam tenda menggunakan kompor portable. Dan tiba-tiba flyshit seperti di angkat padahal flyshit nya di patok dengan sangat kuat kenapa bisa ke angkat, dan bisa ke angkat kalau memang ada orang masuk. Tika bergumam,
"Gila anginnya kencang banget." ucap Tika, dia masih berpikir positif banget kalau itu di sebabkan oleh angin. Setelah itu Tika merinding parah dan sangat ketakutan sampai air matanya keluar karena takut banget.
Tika mulai resah dan khawatir. Kemudian, Tika menutup semua pintu tenda rapat-rapat agar lebih tenang, Tika berdoa, berdzikir, serta berharap Jo dan Syukur cepat kembali.
"Ya Allah semoga teman-teman ku cepat balik." Tika berdoa dan berdzikir.
Dan tidak lama kemudian Jo dan Syukur kembali, tidak terjadi apa-apa dengan Tika kemudian mereka makan dengan lahap karena perut yang sangat lapar, mereka berganti pakaian segala macam. Tiba-tiba Tika di panggil Jo untuk menuangkan air wudhu.
"iya, sebentar." jawab Tika.
Tika keluar tenda dan menuangkan air wudhu buat Jo. Tiba-tiba mata Tika tertuju sama sosok laki-laki putih seperti manekin tapi kepalanya kecil. Rasa takut Tika timbul lagi namun segera dia tangkis rasa takut tersebut.
Singkat cerita mereka tidur dan bangun jam dua belas malam untuk siap-siap Summit attack. Mereka berjalan melewati tenda-tenda orang, angin malam membuat bulu kuduk Tika berdiri terus, Tika tidak tau Jo dan Syukur merasakan hal yang sama atau tidak. Tidak lama kemudian mereka mulai masuk jalur pendaki dan kembali memasuki hutan lagi, namun tanah nya pasir berkrikil.
__ADS_1
Tiba-tiba Tika kembali melihat sosok laki-laki seperti manekin tadi, tapi kali ini sosok tersebut memakai baju kuning yang membuat Tika takut dan semakin terancam. Tika hanya diam dan terus melanjutkan pendakian. Semakin jauh langkah Tika semakin memendek, rasa percaya diri Tika menurun dan hampir saja Tika memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian, namun Tika tidak mau gagal lagi. Tika terus memaksakan diri mengimbangi langkah kedua temannya, cuaca cukup dingin namun yang Tika rasakan panas.
Tika mulai lemas, kepalanya mulai pusing, langkahnya mulai tidak teratur. Tubuh Tika sangat lelah bukan lelah karena pendakiannya tapi lelah melihat sosok-sosok tersebut. Mereka terus melanjutkan pendakian yang sedikit-sedikit istirahat karena Tika sangat kelelahan, Jo dan Syukur sudah mengajak untuk turun namun Tika tidak mau karena sebentar lagi sampai puncak. Mereka istirahat sejenak, Tika duduk di atas batu dan di sebelah kirinya ada jurang. Tika memakai senter, karena kelelahan Tika menjepitkan senter di jilbab nya seperti Head lamp, Tika menengok ke kanan dan ke kiri, giliran tengok ke atas dan melihat sosok perempuan seperti di awal pendakian berdiri di atas pohon, Tika langsung mengambil senternya dan kembali memegang nya Tika membisu tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tika mengajak Jo dan Syukur untuk melanjutkan perjalanan,
"Yuuk... Kita lanjut." ajak Tika.
Belum sempat berdiri Tika di ketawain dua kali, dan ketawa itu lumayan jauh. Yang author tau, jika suara itu jauh maka sosok itu ada di dekat kita sedangkan kalau suaranya dekat berarti sosok itu jauh, jika salah author mohon di benarkan. Lanjuut!!!
Mereka mendaki ke atas hanya bertiga tidak bertemu dengan pendaki lainnya. Tiba-tiba ada seorang pendaki yang turun ke bawah, di situ Tika merasa lega karena bisa bertemu dengan manusia. Jo bertanya kepada pendaki tersebut,
"Mas kenapa turun?" tanya Jo.
"Kondisi badan lagi gak sehat Mas." jawab pendaki tersebut.
Singkat cerita, mereka bertiga melanjutkan perjalanan dan tidak terjadi apa-apa. Akhirnya mereka sampai di puncak Maha Meru dengan selamat mereka berfoto-foto dengan tawa bahagia, karena Maha Meru adalah puncak tertinggi di pulau Jawa. Tika berharap apa yang terjadi selama perjalanannya itu hanya halusinasi saja efek kelelahan.
-------------------------------------------
__ADS_1
Masih penasaran apa yang terjadi di perjalanan turun. Tongkrongin terus JEJAK PENDAKIAN. Jangan lupa share ke teman-teman nya agar bisa memetik pelajaran dari pengalaman Tika. Tunggu part selanjutnya.