
Diantara erangan-erangan makhluk itu, aku mendengar dengan jelas suara Bapakku yang memerintahkanku untuk lari.
"PERGI NAK! PERGI!! SELAMATKAN DIRIMU!!LARI!"
Tubuh-tubuh itu dengan tangannya yang mencakar-cakar udara kini sudah mencapai tangga kayu. Dengan panik aku menggeser
pantatku yang tiba-tiba saja bisa digerakkan sambil dengan panik, kaki ku menendang-nendang mereka.
"PERGII!! PERGII!! TOLOOO0ONG!!"
Tapi bagaimana pun aku berusaha tubuh-tubuh itu terus merangsek naik. Tangan-tangan dingin dan pucat itu menarik-narik kakiku. Aku kian histeris. Lalu dari kejauhan kudengar pelan suara teriakan Bang ldan dan Anes yang memanggil-manggil namaku.
"BANG IDAAAAAANNNN!! TOL00ONGGG!"
Itu adalah teriakan histerisku yang terakhir sebelum tenggorokanku kembali tercekat kengerian.bSebuah suara lain muncul dibelakangku. Jantungku serasa lepas, mataku membelalak ngeri. Pintu pondokan itu telah terbuka!! Suara teriakan Bang ldan dan Anes membangunkanku. Apakah aku
pingsan? Kenapa aku pingsan? Tubuhku seketika mengejang teringat puluhan tangan-tangan pucat yang menggapaiku dan daun pintu pondokan yang terbuka. Aku panik dan histeris sambil menepis-nepis udara kosong. Lalu kelegaan memelukku menyadari tubuh-tubuh itu sudah tak ada. Kelegaan berganti kengerian saat kesadaranku pulih. Aku bukan lagi duduk di bale-bale pondokan, melainkan sedang duduk di akar sebuah pohon besar di pinggir jurang. Akar yang aku duduki menjuntai di tebing yang menjorok diatas jurang yang menganga.
Tubuhku gemetar saat memandang ke bawah. Kabut putih tebal menutupi dasar jurang ini.
Kulihat ke atas, Bang ldan dan Anes tampak sedang berhati-hati menuruni tebing untuk menolongku. Diatasnya lagi kulihat teman-teman yang lain Bang Amran, Ale dan Yuni. Aku kembali menangis karena ketakutan sambil memanggil-manggil Bang ldan.
"Baaang, kenapa aku disini, Bang?"
Bang Idan sambil masih bergerak turun menjawab untuk menenangkanku, "Tenang Dek. Jangan panik. Jangan bergerak-gerak."
"Baang, tolong aku, Bang. Aku takut, Bang."
Aku menangis tersedu-sedu. Tebing yang terlalu curam menghentikan gerak turun Bang Idan dan Anes. Sementara aku masih tak berani bergerak sama sekali.
"Sekarang coba berdiri dan pegangan pada akar yangbmenggantung itu." Kembali Bang ldan memberikan perintah. Dengan kaki gemetar, aku beranikan diri untuk bergerak seperlahan mungkin. Aku menelan ludah kala melirik ke bawah, jurang itu seakan memanggil-manggilku. Salah sedikit tubuhku akan terlempar kesana.
"Terus, Dek. Kau tempatkan kakimu di akar yang itu, lalu pegangan pada akar yang ini." Sambung Bang ldan lagi, tapi suaranya terdengar tegang.
__ADS_1
"Terus, Pin. Pelan-pelan." Aku mendengar suara Anes yang sama tegangnya dengan Bang ldan.
Aku tak bisa melihat ekspresi mereka berdua karena fokus mencari pegangan akar di tebing ini. Nafasku mulai habis dan
ototku lelah karena takut dan tegang.
Angin dingin bertiup dari jurang tadi membuat tubuhku gemetar kedinginan. Lalu lamat-lamat ku dengar suara-suara dari kedalaman jurang. Tubuhku kembali kaku, berharap aku hanya salah dengar. Aku pandangi jurang itu, tak ada apa-apa, hanya kabut tebal yang bergerak-gerak tertiup angin.
"De, jangan berhenti. Jalan terus!" Suara Bang ldan menyadarkanku.
Tapi baru saja akan bergerak, suara-suara itu muncul lagi.
". Alpiiiiin, tolooooong.. .. Alpin, jangan tinggalkan kami, Alpiin.."
Telapak tanganku basah, jariku gemetar hebat. Suara-suara minta tolong dan menyayat hati itu terdengar semakin dekat.
"Bang ldan, tolong bang. Aku takut. Ada suara-suara panggil aku, Bang." Aku mulai terisak lagi.
"Naik terus, Dek. Jangan kau dengarkan itu, ayo cepat!" Suara Bang Idan kian tegang. Anes dan teman-teman lain juga berteriak-teriak memintaku cepat naik.
"Jangan lagi kau toleh-toleh itu! Ayo cepat, dek!" Bang ldan terus meneriaki ku.
Sekali lagi aku hirup nafas panjang lalu mulai berpegangan akar seperti yang Bang ldan perintahkan. Dari atas, tangan Bang Idan dan Anes juga berusaha menggapaiku.
"Terus, Dek. Sedikit lagi." Bang ldan memberiku semangat.
Tanganku berpegangan kuat pada akar yang mencuat di tebing, kaki kiriku bertumpu pada akar kecil sementara kaki kananku bergerak-gerak mencari pijakan. Di bawah, suara-suara minta tolong itu terdengar semakin mendekat.
Satu gerakan, lalu tangan Bang ldan mengenggam tangan kananku. Anes dengan cekatan membantu menarik tangan kiriku ketika tiba-tiba, aku rasakan tangan-tangan dingin menyentuh betisku. Akubmembelalak ngeri melihat puluhan tangan muncul dari kabut dan menggapai-gapai serta menarikku.
". Alpiin, ikut kami, Alpiin...."
".Alpiin, alpiiin."
__ADS_1
"BAAANG IDAAAN, TOLONG BAAANG." Aku kembali histeris.
Tangan-tangan itu semakin kuat menarikku ke bawah.
"NES, TOLONG, NES!! AKU TAK MAU MATI, NES!! BAPAAAAK TOLOO0ONG!"
Tangan-tangan dingin itu naik terus dan menarik paha dan bajuku.
"Pegang terus tangan Abang, Dek! Jangan kau lepaskan! Jangan lihat ke bawah!" Bang Idan kali ini berteriak-teriak dengan panik.
Tangan-tangan dingin itu semakin kuat menarik kakiku. Aku menangis sejadi-jadinya sambil berteriak minta tolong.
Sekuat tenaga aku kibas-kibaskan kakiku, menendang kesana-sini dengan liar berusaha membebaskan diri. Tapi tangan-tangan dingin itu seakan lengket dan tak mampu aku lepaskan.
"BANNNG, TOLONG AKU, BAAAANG!"
"JANGAN LEPASKAN TANGAN ABANG, DEK! NAIK TERUS! JANGAN LIHAT KE BAWAH!" Teriak Bang ldan.
Lalu muncul suara yang aku kenal dari bawah. Itu adalah suara Bang Idan juga.
"JANGAN PERCAYA, DEK! LEPASKAN TANGANMU! CEPAT, DEK!!
Mataku membelalak ketika, ku tengok ke bawah, tangan-tangan yang menarik tanganku adalah tangan Bang ldan, Anes, Ale dan teman-teman lain. Aku kaget, mana yang benar? Dari atas kembali terdengar teriakan Bang ldan.
"JANGAN KAU DENGARKAN, DEK! DENGARKAN SAJA SUARA ABANG JANGAN DENGAR YANG LAIN!"
Aku hampir mati ketakutan ketika melihat asal suara barusan. Yang semula diatas adalah Bang ldan dan Anes, kini berubah. Yang memegang tangan kananku adalah Kakek dari pondokan itu, sedang tangan kiriku dipegangi oleh si Nenek berwajah hitam dengan rambut awut-awutan.
Dengan panik dan histeris aku memberontak ketakutan, berusaha melepaskan tanganku dari pegangan dua makhluk itu. Aku semakin ketakutan ketika dari atas mereka, muncul lagi sesosok makhluk hitam besar berbulu, datang dan ikut menarik tanganku. Aku berteriak-teriak semakin histeris.
"LEPASKAAAAAAN!!! LEPASKAAAAAAN!! TOLOO0ONGGGGG!"
Ketiga makhluk itu tertawa mengerikan, sambil menarik tubuhku keatas.
__ADS_1
-Tbc-