
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Pagi 17 November badai salju akhirnya reda. Tanpa banyak berkata aku, Roberto dan Tintin mengemasi barang yang akan kami bawa. Kali ini kami akan mencoba ke arah lembah di timur alih-alih mendaki gunung itu. Numa yang ditolak Roberto untuk ikut karena keadaan kakinya yang membusuk hanya melihat kami dengan diam. Aku memahami kekecewaannya, aku harap hal ini tidak mematahkan semangatnya.
Matahari bersinar dan angin sepoi-sepoi. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan. Aku hanya fokus pada langkahku. Dan selama beberapa mil yang kami lewati, suara yang terdengar hanyalah derak sepatu rugbi ku di salju. Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, kudengar Roberto berteriak. Ia menemukan bagian ekor pesawat Fairchild.
Kami segera mencari benda-benda berharga di koper yang berserakan. Kami menemukan kaus kaki, sweater dan celana. Kami juga menemukan beberapa botol rum, sekotak coklat, rokok, sandwich basi dan kamera yang berisi film.
Kami semua sangat senang sampai hampir lupa mencari baterai radio, Carlos Roque pernah berkata bahwa benda itu disimpan di ekor pesawat. Setelah mencarı, kami menemukannya di ruang istirahat di belakang pintu masuk ekor pesawat.
Benda itu ternyata lebih besar dari pada yang kukira. Kami juga menemukan kotak Coca-Cola kosong di bagasi belakang dapur pesawat, yang kami angkat keluar dan digunakan untuk membuat api. Roberto memanggang beberapa potong daging
yang kami bawa, dan kami memakannya dengan lahap. Kami juga membuka sandwich yang kami temukan, lalu memakannya. Ketika malam datang, kami membentangkan baju-baju yang kami temukan sebagai alas dan tidur di atasnya.
__ADS_1
Dengan kabel yang didapat dari dinding ekor pesawat, Roberto menyambungkan accu pesawat dengan lampu dan memasangnya di langit-langit pesawat, dan untuk kali pertamanya kami memiliki penerangan pada malam hari. Kami membaca beberapa majalah dan buku komik yang ditemukan di bagasi, aku juga memotret Roberto dan Tintin dengan kamera yang kami temukan. Jika kami tidak mampu bertahan hidup, berharap seseorang akan menemukan kamera kami dan mencuci filmnya sehingga mereka tahu bahwa kami pernah hidup, walau hanya sebentar. Untuk beberapa alasan, semua ini sangat penting bagiku.
Sungguh nikmat berada di ruangan hangat yang cukup luas, bisa meluruskan kaki dan berganti-ganti posisi tidur. Pagi harinya kami tergoda untuk berlama-lama ditempat nyaman ini, tetapi kami teringat akan teman-teman dan harapan mereka pada kami. Kami lalu melanjutkan perjalanan.
Pagi itu bersalju, tapi menjelang siang langit mulai cerah, matahari menghangatkan tubuh, dan dalam perjalanan kami menjadi sangat berkeringat karena baju hangat yang kami kenakan.
Setelah selama berminggu-minggu berada pada udara dingin, panas tubuh membuat kami jadi cepat lelah, dan pada sore harinya kami terpaksa beristirahat di sebuah tonjolan batu. Kami memakan beberapa potong daging dan mencairkan salju untuk diminum, walaupun kami telah makan dan berisitirahat, tidak ada di antara kami yang sanggup melanjutkan perjalanan sehingga kami memutuskan untuk bermalam di tempat itu.
Matahari bersinar lebih terik siang itu, tetapi saat senja tiba suhu udara mulai turun. Kami menggali salju untuk tempat berlindung, dan menutup tubuh kami dengan selimut. Malam itu sangat dingin, tempat ini menjadi sama sekali tidak memberi kami perlindungan.
Malam ini adalah malam pertamaku berada di luar pesawat, aku segera memahami bahwa Gustavo, Numa, dan Maspons pasti sangat menderita saat melewatkan malam di lereng terbuka. Malam tidak lebih baik daripada malam-malam sebelumnya. Hawa dingin menyerang kami tanpa ampun, aku merasakan darahku membeku. Kami saling berpelukan agar sedikit lebih hangat. Kami menemukan cara agar tetap hangat, tubuh kami saling bertumpuk seperti sandwich. Kami tidur dengan cara ini selama beberapa jam, posisi tengah diisi secara bergantian, dan walaupun kami tidak dapat tidur, kami berusaha beristirahat sampai dini hari. Ketika pagi akhirnya datang, kami keluar dari tempat perlindungan dan menghangatkan tubuh di bawah sinar matahari pagi. Memikirkan kengerian malam tadi, aku bersyukur masih bertahan hidup.
"Mungkin. Tapi yang lain bergantung pada kita, kita harus terus berjalan." Kataku.
Roberto memandangku dengan marah.
"Sia-sia! Bisa-bisa kita yang mati! "
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan? "
"Ayo ambil accu dari ekor pesawat, kita bawa ke Fairchild. Jika dapat memfungsikan radio Fairchild, kita bisa selamat tanpa mempertaruhkan nyawa kita." Jawab Roberto.
"Aku khawatir kita hanya membuang-buang waktu saja."
"Apakah kita harus selalu berdebat? Radio ini dapat menyelamatkan hidup kita." Jawab Roberto lagi.
"Baik. Aku setuju. Tapi jika ini tidak berhasil, maka kita melakukan pendakian seperti rencana awalku." Balasku.
Roberto mengangguk. Kami bergerak kembali ke Fairchild. Lebih mudah saat berjalan menuruni lembah saat berangkat. Dalam waktu singkat kami sampai pada jalur pendakian yang berat. Tenaga kami habis saat berjuang melaluinya. Jalurnya sangat curam, sekitar 45 derajat dan salju setinggi pinggulku. Ototku terasa terbakar.
Kami sampai di tubuh Fairchild sore hari, teman-teman menyambut kami dengan dingin. Sudah enam hari kami meninggalkan mereka, dan mereka berharap saat ini kami sudah dekat dengan peradaban.
Kemunculan kami telah menghancurkan semua harapan mereka. Tapi hal itu bukan satu-satunya yang melemahkan semangat mereka, selama kami pergi, Rafael Echavarren meninggal dunia.
"Sebelum meninggal, ia selalu mengigau" Carlitos berkata kepadaku, "Dia terus memanggil ayahnya minta dijemput. Pada malam terakhirnya, aku mengajaknya berdoa dan itu membuatnya lebih tenang. Beberapa jam kemudian ia mulai nampak
__ADS_1
kehabisan napas, lalu tak lama ia meninggal."
(Bersambung)