Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 21


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Suhu udara turun drastis malam itu hingga botol kami pecah karena udara dingin. Berimpitan dalam kantong tidur, kami mencegah agar tidak membeku, tapi tetap saja sangat menderita.


Keesokan paginya, kami menjemur sepatu yang membeku dan kembali beristirahat di kantong tidur sampai sepatu kami cukup lentur.


Lalu, setelah makan dan mengemasi barang-barang, kami mulai mendaki. Matahari bersinar terik. Hari yang sempurna.


Kami mendaki di atas ketinggian lima belas ribu meter, dan setiap beberapa ratus meter atau lebih lereng pegunungan semakin terlihat miring mendekati tegak lurus. Lereng terbuka semakin sulit dilalui, jadi kami mulai mendaki tebing-tebing batu yang berangin disisi jurang curam yang menganga di sisi gunung.


Pendaki berpengalaman mengerti bahwa tebing batu merupakan zona berbahaya, kemiringan lerengnya dengan mudah menjatuhkan batu di permukaannya. Tapi lapisan saljunya memberi kami pijakan bagus, dan batu-batu tinggi di pinggirnya memberi kami pegangan. Saat itu, pinggiran tebing batu itu mengarahkan kami ke suatu titik yang tidak dapat dilewati.


Kemudian aku menggeser kedudukan untuk mencari permukaan yang lebih memungkinkan untuk didaki. Selama menapaki tebing itu, aku semakin khawatir dengan jurang di belakangku. Mungkin ketinggian ini membuatku pusing, mungkin otakku mulai berhalusinasi karena kekurangan oksigen, tapi jurang di belakangku sepertinya semakin berbahaya.


Lapisan salju membawa kami ke dataran yang semakin sulit. Baru-baru menonjol keluar dari salju, beberapa diantaranya terlalu besar dan tidak mungkin kami daki, aku dipaksa memilih jalur dengan menggunakan nurani. Seringkali pilihanku salah dan aku terjebak di jalur yang tidak dapat dilalui, atau menemui dinding batu yang tegak lurus. Biasanya aku dapat berjalan memutar tapi kadang aku tak punya pilihan selain mendaki nya.


Lalu tibalah perjalananku terhalang lereng yang sangat curam dan tertutup salju. Aku berhenti dan berpikir, jika aku memutari nya akan memakan waktu lagi. Aku melihat Roberto dan Tintin, mereka menunggu apa yang akan aku lakukan.


Aku mempelajarinya sekali lagi. Lereng itu curam dan tampak licin. Tidak ada satupun yang dapat aku pegang. Tapi salju seperti nya cukup stabil untuk menahan ku. Aku memutuskan mendakinya.

__ADS_1


Kaki ku tancapkan ke salju, lalu mendorong berat tubuhku kedepan dengan dada menempel ke dinding es agar tidak jatuh. Dengan Hati-hati aku naik sedikit demi sedikit hingga akhirnya tiba di permukaan datar. Aku lambaikan tangan ke Roberto dan Tintin dibawah, meminta mereka mengikuti ku.


Aku berpaling dari mereka dan mulai mendaki lereng diatas ku. Sesaat kemudian aku melihat ke bawah untuk melihat Roberto telah melewati dinding jurang. Sekarang giliran Tintin. Aku kembali mendaki, dan telah naik tiga puluh meter atau lebih saat teriakan mengerikan menggema.


"Aku terjebak! Aku tidak bisa sampai!"


Aku melihat Tintin membeku di tengah lereng itu.


"Ayolah, Tintin!" aku berteriak ke arahnya.


"Kamu bisa!"


Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa bergerak."


Roberto benar. Beban di tas gunung Tintin, yang ia gendong tinggi di punggungnya, menarik tubuhnya dari permukaan gunung. Dia berjuang sekuat tenaga untuk memindahkan keseimbangan tubuhnya ke depan, tapi tidak ada pegangan


untuk menahannya, dan tampak dari raut wajahnya bahwa dia tidak dapat menahan nya lebih lama lagi.


Dari tempatku aku bisa melihat ketinggian di belakangnya, dan aku tahu apa yang akan terjadi jika Tintin terjatuh. Pertama, dia akan melayang-layang cukup lama di udara, lalu membentur lereng atau bebatuan, dan jatuh terguling seperti boneka bobrok hingga akhirnya tiba-tiba terhenti oleh timbunan salju atau tebing terjal yang menghancurkan tubuhnya.


"Tintin, bertahanlah!" aku berteriak ke arahnya. Roberto berada di bibir jurang, mengulurkan tangannya ke arah Tintin. Jangkauannya semakin dekat.


"Lepaskan tasmu!" Ia berteriak. "Berikan padaku!"

__ADS_1


Tintin melepaskan tas gunungnya dengan


hati-hati, berusaha menjaga keseimbangannya saat ia melepaskan tali tas dari lengannya, dan mengulurkannya pada Roberto. Tanpa beban tas gunungnya, Tintin bisa menemukan keseimbangan dan mendaki lereng dengan aman. Ketika sampai ke atas, ia merebahkan dirinya ke permukaan salju.


"Aku tidak bisa berjalan lebih jauh", ia berkata. "Aku terlalu lelah. Aku tidak bisa mengangkat kakiku."


Suara Tintin memperlihatkan rasa takut dan kelelahan yang amat sangat, tapi aku harus dan masih terus mendaki. Mereka tidak punya pilihan selain mengikutiku.


Saat mendaki, aku mengamati lereng gunung ke berbagai arah, tapi gunung ini sangat curam dan terjal, dimana-mana hanya jurang yang menganga.


Tangan dan kakiku gemetar karena lelah dan kedinginan. Angin berhembus kencang ketika aku berusaha menjepitkan kakiku ke celah batu, kemudian dengan menggunakan tangan kiri, aku berusaha menjangkau sebongkah batu besar yang menonjol dari salju. Batu itu terlihat keras, tapi ketika beban tubuhku berpindah, batu sebesar peluru meriam itu lepas dan menggelinding melewatiku.


"Awas! Lihat ke atasmu!" aku berteriak sangat keras.


Aku melihat Roberto yang ada di bawahku. Tidak ada waktu untuk bereaksi. Matanya terbelalak saat menunggu tubrukan batu itu, tapi ternyata batu itu melintas beberapa senti dari kepala Roberto.


Setelah hening sesaat, Roberto menatapku tajam. "Brengsek! Brengsek!" ia memaki. "Kamu coba membunuhku? Hati-hati! Jangan sembarangan!" Lalu ia diam dan berpaling ke depan, dan bahunya terlihat naik turun. Aku tahu ia menangis.


Mendengar isakannya, aku merasakan kepedihan yang begitu dalam. Tiba-tiba aku dirasuki oleh kemarahan yang datang tiba-tiba.


"Persetan dengan semua ini! Persetan! aku memaki. Sudah cukup! Aku tak mampu lagi" Aku hanya ingin mengakhirinya. Aku ingin beristirahat. Tenggelam ke dalam salju. Tenang dan diam.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2