Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 15


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Kami berada di ekor pesawat selama beberapa hari, menunggu Roberto dan Roy mengutak-atik radio itu. Pada akhirnya, radio itu benar-benar tidak berguna. Aku mengingatkan Roberto, sudah saatnya untuk melakukan pendakian ke barat. Dia mengangguk lemah.


Saat sedang bersiap untuk kembali ke Fairchild, kami melihat Roy sedang membanting dan menginjak-injak radio pesawat dengan geram.


"Dia harusnya menghemat tenaga. Perjalanan ke Fairchild medannya cukup sulit." Aku berkata pada Tintin.


Kami mulai berjalan saat siang. Saat berangkat, awan terlihat mendung dan langit tampak lebih rendah, tetapi udara terasa sejuk dan cuaca lebih tenang. Roberto dan Tintin berjalan didepan, Roy berjalan dibelakangku.


Seperti sebelumnya, berjalan menaiki lereng gunung melewati salju setinggi lutut sangat melelahkan. Roy sangat menderita selama perjalanan, jadi aku mengawasinya supaya dia tak tertinggal terlalu jauh. Setelah satu jam berjalan kami lalu istirahat, aku terkejut melihat warna awan berubah menjadi gelap, sangat gelap.


Awan-awan itu terlihat sangat rendah, seolah kami bisa menggapainya. Kemudian saat aku mengamatinya, awan itu seolah bergerak mengejar kami, seperti pembunuh memburu mangsanya. Sebelum kami sempat bereaksi, awan itu jatuh menimpa kami dan dengan cepat kami semua tersapu badai salju. Inilah badai pegunungan Andes yang dikenal sebagai "White Wind".


Dalam sekejap keadaan menjadi kacau. Suhu udara langsung anjlok, angin bertiup kencang. Salju berputar seperti pusaran air, menyengat kulit wajahku dan menyiutkan nyaliku. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi disekitarku, badai ini mengacaukan pandanganku. Aku panik. Dimana jalur pendakian? Aku harus kemana?


Lalu kudengar suara teriakan Roberto, terdengar sangat jauh ditengah gemuruh badai.


"Nando! Apa kamu mendengarku?"


"Roberto, aku disini!"

__ADS_1


Aku menengok ke belakang. Roy sudah menghilang.


"Roy, dimana kamu?"


Tidak ada balasan. Sekitar sepuluh meter dari arah belakang, kulihat sesuatu dalam tumpukan salju. Aku mendekatinya, lalu menyadari itu adalah Roy yang terjatuh tertimbun salju.


"Roy! Bangun!"


Dia tidak bergerak. Tubuhnya meringkuk, lututnya ditarik sampai dadanya dan lengannya menutupi tubuh.


"Gerakkan tubuhmu Roy! Jika kita tidak bergerak, kita bisa mati!


"Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa berjalan." Roy merengek.


Roy melihatku, wajahnya tampak ketakutan. "Tidak, aku tidak mau. Sudah tinggalkan aku."


Pada saat itu, badai menghempas untuk kedua kalinya dengan kencang, angin berembus dengan ganas sampai aku berpikir badai ini lama-lama bisa menerbangkan ku. Kami terjebak, semuanya terlihat putih. Sekarang aku benar tak bisa melihat apa-apa. Harapanku untuk mengikuti jejak Roberto di salju hilang. Jejak itu sudah tertutup salju. Aku tahu mereka tidak akan menunggu kami dan setiap detik bersama Roy disini semakin mendekatkanku pada bencana.


Aku menatap Roy. Tubuhnya menggigil saat ia menangis. Dan setengah tubuhnya sudah tertutup salju.


Aku harus meninggalkannya atau aku pasti mati disini. Apakah aku bisa melakukannya? Apakah aku tega meninggalkannya mati disini?


Tanpa pikir panjang lagi aku berbalik dan meninggalkannya, kemudian menaiki lereng. Sambil berjalan terhuyung-huyung melawan angin, aku membayangkan Roy terbaring di salju. Aku memikirkan ia sedang melihatku berjalan menjauh dan hilang bersama badai. Mungkin itu jadi hal terakhir yang ia saksikan. Aku mengutuk diriku yang jadi sentimentil disaat hidup mati seperti ini.


Lalu tanpa menuruti kata hatiku, aku berbalik sambil menyumpah-nyumpah seperti orang gila, "Mierda! Carajo! La reputa madre que lo recontra mil y una pario!!"

__ADS_1


Ketika aku melihatnya, dengan sekuat tenaga ku tendang tubuhnya. Aku terjatuh, lututku mendarat disebelah tubuhnya. Aku memukul dan meninju wajahnya dengan keras. Ia berteriak-teriak kesakitan, tapi aku masih terus saja memukulinya.


"********! *******! Gerakkan kakimu! Dasar menyedihkan! Berdiri atau aku akan membunuhmu! ********!!"


Roy menangis dan berteriak. Tapi akhirnya ia memaksa tubuhnya bergerak. Aku mendorongnya dengan kasar, memaksanya terus berjalan.


Kami bertarung di tengah badai salju. Akibat perkelahian kami, Roy terluka parah dan kekuatanku habis. Badai yang berembus dengan kencang menakutkanku. Saat aku berusaha menarik napas di udara yang tipis, putaran angin dengan cepat menangkap napas yang kuhirup, lalu turun sampai ke dalam tenggorokanku, kemudian aku tersedak dan tergagap-gagap seperti tenggelam di air. Hawa dingin menusukku, dinginnya salju mendorongku sampai batas rasa letihku. Dengan cepat otot-otot tubuhku melemah, setiap langkah membutuhkan tekad yang sangat besar. Aku tetap menahan Roy berada di depanku,


Aku memaksa Roy dengan kasar. Aku membantunya dengan mengangkat tubuhnya. Menyeret pakaian yang dikenakannya, aku dapat merasakan betapa kurus dan lemahnya ia, kemudian hatiku melunak.


"Pikirkanlah ibumu, Roy," aku berkata padanya, dengan mulut yang berada dekat dengan telinganya supaya dapat mendengarku di tengah-tengah gemuruh badai.


"Jika kamu ingin bertemu kembali dengannya, kamu harus berjuang terlebih dahulu."


Rahangnya telah mengendur dan matanya menggantung. Dia berada dalam ambang kematian, tapi ia masih berusaha menganggukkan kepalanya, ia akan tetap hidup.


Kami mendaki bersama dan Roy bersandar pada tubuhku. la mendaki dengan seluruh sisa kekuatannya, tetapi kemudian kami sampai pada lereng yang curam. Dengan pasrah Roy menatapku, mengetahui ia tidak sanggup lagi untuk mendaki lereng gunung ini.


Aku menatap salju di lereng gunung itu, mencoba mengukur ketinggian lereng itu dengan langkahku, kemudian dengan sedikit kekuatan yang kumiliki, aku mengencangkan peganganku di pinggang Roy, lalu mengangkatnya dan meletakkan tubuhnya di bahuku. Kami melangkah pelan. Cahaya telah meredup, jalanan mulai terlihat samar.Aku mendaki hanya mengandalkan intuisi, dan selama aku berjalan menuju pesawat, otakku terus-menerus terganggu dengan pikiran bahwa kami tersesat. Namun akhirnya, saat senja tiba, aku melihat bayangan Fairchild samar-samar muncul di tengah derasnya hujan salju. Roy tidak lagi kugendong, tetapi aku menyeretnya sekuat tenaga.


Saat aku masuk, teman-teman lain membantuku dan Roy. Aku lihat Roberto dan Tintin sudah tergeletak dilantai. Aku langsung rubuh. Aku tidak dapat berhenti menggigil, ototku serasa terbakar.


"Aku telah hancur," Pikirku.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2