
Tubuhnya semakin gemetar, tangannya mengibas-ibaskan telinganya, "Makhluk hitam berbulu itu, Bang. Dia terus-terusan
bisik di telingaku. Aku takut Bang." Suara Ale kian bergetar.
"Bilang apa dia??" Tanya Bang ldan, suaranya terdengar tegang.
"Dia suruh aku dorong Alpin, bang." Jawab Ale sambil tangannya menunjukku. Tangisnya langsung pecah. Mendengar jawaban Ale, tubuhku mendadak gemetar hebat. Bang ldan menatapku dan memintaku Istighfar.
Bang Idan memeluk Ale dan berbicara di telinganya, "Ngucap Dek, istighfar. Kuasai dirimu. Jangan lihat makhluk itu, anggap dia ngga ada, anggap suaranya ngga ada."
"Dia marah bang, " Kata Ale diantara tangisnya, "Dia mau makan aku, Bang. Aku takut, Bang."
Bang ldan memegang wajah Ale dan menatapnya langsung ke mata, "Kendalikan dirimu, Dek. Jangan dengarkan perintah siapapun kecuali Abang!" Lalu ku dengar Anes yang masih terus bergulat dengan sesuatu yang tak terlihat berteriak dengan kencang. Seketika angin seperti berhenti. Kekacauan itu hilang begitu saja. Kulihat Anes duduk bersimpuh, tangannya tertangkup di dada dan terdengar mengucap syukur.
Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan. Bersamaan juga, Ale tampak mulai menguasai dirinya lagi. Dia bangkit dengan lemah. Kami mendekati Anes, lalu berpelukan danbsaling bertangisan. Hanya Bang ldan yang tetap duduk sambil masih memegangi Bang Amran yang sepertinya tertidur.
"Kenapa tadi, Nes?" Tanya Bang ldan.
"Kunti dan pocong Bang, mereka mau bawa aku, "Jawab Anes.
Nafasnya masih naik turun. Keringat dingin menetes di dahinya, "Mereka bilang juga mau ambil Alpin, Ale, Yuni dan Abang." Kami saling berpandangan mendengar ucapan Anes.
Bang ldan kulihat sedang memperhatikan kami satu persatu. Mungkin dia menilai kondisi kami. Kemudian dia melihat ke sekeliling kami, ke hutan di kanan dan jurang di kiri kami.
"Masih kuat kalian jalan?" Tanyanya lagi. Kami menjawab serempak, "Kuat bang."
"Pin, kamu pakai kaos dalam kan? Coba kamu buka pin." Kali ini dia berbicara padaku.
Aku tak mengerti tapi tidak juga bertanya. Aku buka jaket dan kaosku, lalu kaos dalamku dan aku serahkan pada Bang ldan. Kaos dalam ku itu lalu disangkutkan pada sebuah akar yang mencuat dari gundukan tanah.
"Ayo, gerak lagi." Kata Bang ldan setelahnya, "Dengar ya, Abang tegaskan lagi. Fokus aja ke depan, apapun yang kalian lihat, dengar, rasakan, jangan diceritakan." Kami semua mengangguk.
__ADS_1
"Kita semua lihat, ngga usah diceritakan lagi. Abang pun lihat, ngga cuma kalian." Sambung Bang ldan lagi.
Aku lega karena ternyata Bang ldan pun melihat yang aku lihat. Ada ketakutanku jika selama ini aku hanya berhalusinasi. Nampaknya itu juga yang dirasakan Yuni, Anes dan Ale. Tanpa ada yang menyuruh kami semua langsung berpelukan. Dadaku bergemuruh, dan tanpa bisa ditahan mataku basah oleh airmata. Begitu juga
dengan teman yang lain. Bang ldan memeluk kami semua dan menepuk-nepuk bahu untuk menguatkan.
"Sudah, sudah. Pokoknya mulai sekarang saling jaga aja ya. Ingat, disebelah kiri kita jurang menganga. Jaga temanmu."
Kami semua mengangguk. Setelah berpelukan rasanya ada energi baru di tubuhku.
"Dek, kamu liatin Anes. Jangan lengah. Kamu juga Nes, doa terus menurut keyakinanmu. Fokus jalan, jangan toleh-toleh." Aku dan Anes mengiyakan.
Kami mulai bergerak lagi. Bang ldan berjalan paling depan sambil terus memegangi Bang Amran. Lalu Yuni, Aku, Ale dan Anes tetap di belakang.
Mulai dari sini gangguan-gangguan semakin meningkat. Tangan-tangan kurus menggapai-gapai dari semak, kepala yang
menggelinding, kuntilanak berkali-kali melintas di depan, kadang di atas kepala kami. Di suatu waktu Yuni berteriak meminta tolong, rupanya rambutnya ditarik oleh kuntilanak yang terbang di atas kepalanya.
Hampir satu jam berjalan kami sampai ditempat yang tidak asing buatku. Kakiku langsung lemas saat melihat kaos dalam putih tergantung di akar. Itu adalah kaos yang kami tinggalkan satu jam lalu! Sejak tadi aku sudah curiga kalau kami hanya jalan berputar-putar, tapi saat akhirnya terbukti, seluruh tubuhku langsung lunglai.
Bang ldan dan yang lain juga melihat kaos itu. Reaksi mereka persis denganku. Kami langsung duduk dan menundukkan kepala ke tanah. Aku rasanya sudah tak sanggup lagi berjalan. Dari sudut mata, aku lihat Yuni yang duduk di sebelahku tiba-tiba bertingkah aneh. Dia menjatuhkan diri dan mulai merangkak. Tangannya terlihat mencakar-cakar tanah. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, Yuni mengeluarkan suara auman yang menciutkan nyali.
Bulu kuduk ku menegak. Tapi menyadari didepan kami adalah jurang yang menganga, dengan cepat aku menangkap Yuni yang sedang mencakar-cakar dahan pohon sambil meraung. Aku khawatir Yuni yang sedang kerasukan akan melompat ke jurang. Tapi usahaku dipatahkan dengan mudah. Aku hampir tak percaya, Yuni yang bertubuh kecil bisa melemparku begitu saja. Kedua temanku yang lain, Ale dan Anes membantu, tapi kembali mereka dibanting begitu saja. Kemudian secara bersamaan kami bergerak dan menangkap Yuni.
Bang ldan tak ikut membantu karena Bang Amran juga memberontak berusaha melepaskan diri sambil marah-marah.
Nafasku memburu, irama jantungku berderap kencang tak beraturan. Aku dan Ale yang memegangi tangan kanan dan kiri
Yuni dibanting kesana-sini dengan mudah, tapi kami masih terus menolak melepaskan.
Anes yang memegangi Yuni dari belakang juga tak luput dari amukan Yuni.
__ADS_1
"Nenek Buyut maafkan kami Nenek. Tolonglah kami Nenek Setue, " Aku dengar suara Bang Idan mengiba memohon maaf.
Yuni menatap mata Bang ldan lekat, lalu perlahan menjadi tenang. Dia tak lagi mengamuk dan bergerak liar, tapi geraman-geraman mirip harimau masih terus terdengar dari mulutnya. Begitupun
yang terjadi pada Bang Amran, dia pun mendadak menjadi tenang, matanya tertutup. Aku mengucap syukur dalam hati.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.
Aku lihat Bang ldan menarik nafas panjang beberapa kali. Dia tampak sudah sangat kelelahan. Aku berdoa semoga Allah melindungi kami, terutama Bang ldan. Jika Bang Idan ikut kesurupan, kami semua tamat.
"Dek, Le, Nes, masih kuat kalian?" Tanya Bang ldan.
"Kuat bang." Jawab kami nyaris serempak.
"Aku jaga Amran, bisa kalian jaga Yuni? Jangan sampai dia berontak dan lari ke jurang." Tanya Bang ldan lagi.
"Bisa Bang. Kami akan jaga." Jawabku.
Bang ldan mengangguk. Lalu dia berdiri dengan lemah sambil memapah Bang Amran.
"Dek, kalian jalan duluan." Kata Bang ldan
Kami menurut. Anes dan Ale memegangi Yuni, dan aku berjalan paling depan sambil memegangi senter.
Saat cahaya senter aku arahkan ke jalur aku langsung gugup. Sebelumnya jalur itu sudah kami lewati, tapi sekarang aku tak mengenali jalur di depanku ini.
"Ada apa, dek?" Tanya Bang ldan. Wajahku menoleh kearah Bang ldan, mimik gugup dan takut terlihat jelas di wajahku.
"Bang, kek mana ini Bang? Jalurnya jadi ada dua bang?"
-Tbc-
__ADS_1