
Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Sebelum melanjutkan ke Part dua, bagi yang belum baca di part satu harap dibaca dulu agar paham alur ceritanya. Selamat membaca.
Pak Nova lagi selonjoran dan bersandar di pohon terlihat wajahnya sangat kelelahan, disini Agas merasa ada yang ganjil dengan Pak Nova selepas ada gangguan minta tolong tadi, tapi tidak tahu ada apa sebenarnya. Mas Galih pun sibuk otak-atik HT yang tidak mendapatkan sinyal, sedangkan Mas Burhan duduk bersandar di sebatang pohon, Agas pun mendekati Mas Burhan dan membuka obrolan.
"Mas, kenapa jadi begini ya Mas? Gua capek nih Mas, kenapa sih mereka gangguin kita?" tanya Agas agak kesal.
"Bro!! Kita emang dari awal sudah salah langkah menuju kesini, ya apa mau di kata? Mungkin sudah takdir kita harus ke tempat ini terkadang semuanya itu pasti ada maksud gak ada yang kebetulan. Mungkin ada pesan yang ingin mereka sampaikan." jawab Mas Burhan sembari mengubah posisi duduknya agar lebih tegak.
"Apa karena Pak Nova sompral ya?" tanya Agas lagi.
"Ya... Mungkin saja." jawab Mas Burhan singkat.
"Terus gimana tuh dengan Mas Galih..? Apa dia masih menyembunyikan hal lain..?" tanya Agas kembali.
"Masih banyak hal yang gak dia tau tentang tempat ini, sepertinya dia orang baru di sini." ucap Mas Burhan.
"Kok tau Mas? Keliatan ya?" tanya Agas semakin bingung.
Belum sempat Mas Burhan menjawab, Mas Galih ikut nimbrung duduk di sebelah mereka. Mas Galih pun berkata.
"Aduh... Baru kali ini disini gak dapat sinyal padahal beberapa waktu lalu sempat badai ringan di atas sini tapi masih bisa nangkap sinyal dari bawah." ucap Mas Galih.
"Ada cara lain gak komunikasi? Mungkin dengan sandi cahaya?" tanya Mas Burhan.
"Dengan ketebalan kabut seperti ini saya rasa gak mungkin Mas." jawab Mas Galih sambil mencoba menyorotkan senter ke arah kabut, ternyata benar tidak bisa menembusnya.
__ADS_1
"Jadi kita benar-benar sudah gak bisa kemana-mana? Komunikasi pun juga tidak?" tanya Pak Nova tiba-tiba.
"Sekarang sudah pukul empat lewat lima menit. Masih ada waktu dua jam lagi kita di sini. Tapi saran saya jangan sampai ada yang ketiduran untuk menghindari Hipotermia." ucap Mas Galih memberi peringatan. Mas Burhan pun menyetujui hal itu.
Mereka kembali mengobrol dengan obrolan santai, Mas Galih pun mengaku dia belum ada tiga bulan bekerja sebagai ranger di gunung itu. Mas Galih juga menjelaskan bahwa setiap malam bulan purnama para pendaki di larang keras untuk mendaki gunung harus steril.Lima belas menit mereka mengobrol, tiba-tiba ada suara langkah sangat cepat dari arah mereka datang. Mereka pun berdiri dan melihat siapa yang datang, terlihat ada sosok laki-laki bertubuh tinggi, menggunakan seragam yang sama seperti Mas Galih dan mengenakan jaket Boomber, mukanya penuh dengan jengkot dan kumis yang tebal, sorot matanya sangat tajam.
Tapi anehnya dia sama sekali tidak menggunakan headlamp atau lampu penerangan. Dia berdiri tegap menatap mereka berempat seakan menjaga jarak. Mas Galih pun mendekatinya.
"Loh Mas Agung, sampeyan menyusul kami? Weleh Mas makasih lo Mas." ucap Mas Galih. Disini mereka merasa sangat lega ternyata orang.
Tapi Mas Agung malah melanjutkan jalan tanpa memperdulikan mereka, Mas Agung menatap mereka dengan tatapan dingin.
"Mas Agung! Jangan naik dulu! Bareng kita aja sini ada perintah apa dari basecamp? Ada perintah boleh lanjut?" tanya Mas Galih.
"Saya harus ke atas itu perintah danru (komandan regu), sampeyan disini aja." jawab Mas Agung dengan ketus.
"Loh Mas... Dah lama kita gak ketemu ayolah sini dulu bahaya Mas di atas jam segini. Mas kan tau aturan." ucap Mas Galih.
Mas Agung tidak menjawab, ia malah terus berjalan seakan enggan dengan mereka. Tapi tiba-tiba dia menoleh dan berkata,
Mas Galih barus saja ingin mengejar tapi tangannya di tarik oleh Mas Burhan, "Sudah jangan biarkan dia jalan deluan, nanti baru kita susul." ucap Mas Burhan.
Mereka melanjutkan obrolan mereka, tapi disini wajah Mas Burhan nampak tegang dan siaga. Tiba-tiba HT Mas Galih berbunyi, "Basecamp disini mohon monitor Galih, ganti." Mereka pun semua senang dong dan Mas Galih menjawab, "Jawab, disini Galih standby, ganti." Basecamp bilang "Posisi dimana Galih? Apakah bisa dibantu menggunakan sandi cahaya?" tanya dari basecamp. Mas Galih pun menjawab "Negative-negative jarak pandang tidak optimal, posisi di titik istirahat lima menuju pos tiga, ganti." Basecamp menjawab "Baik Galih usahakan bertahan dan jangan meninggalkan titik lima tunggu sampai ada sinar matahari." Mas Galih menjawab "Siap laksanakan, basecamp. Kami barusan pun sudah di infokan ranger susulan dari BC (basecamp) yang saat ini sedang menuju pos tiga membuka jalur, ganti."
Basecamp pun merasa terkejut, basecamp berkata "Coba di ulang Galih? Kami tidak mengerti maksud anda, ganti." Mas Galing bilang, "Ranger Agung, dari basecamp barusan sudah sampai di titik ini, memberikan info dan menyuruh kami stand by, ganti."
Cukup lama respon dari basecamp dan akhirnya setelah sekian lama menunggu basecamp menjawab, "Baik Galih, fokus. Tetap waspada koordinasikan setiap lima belas menit kondisi peserta kepada kami dan jangan pernah melanjutkan naik ke atas, sebelum ada perintah." Mas Galih berkata, "Siap, ganti."
Mereka pun cukup lega dan melanjutkan obrolan, Pak Nova mengaku kalau dulu dia sangat suka sekali mendaki gunung. Hampir semua gunung di pulau Jawa pernah di daki kecuali gunung ini. Cukup lama mereka mengobrol, tiba-tiba ada suara langkah dari atas menuju ke arah mereka, ternyata itu Mas Agung berlari ke bawah melewati mereka dan Mas Galih berusaha memanggilnya tapi Mas Agung cuek dan terus berlari ke bawah.
Mas Galih pun menginfokan ke basecamp, "Basecamp monitor basecamp. Info Agung turun kembali dari atas menuju pos dua, apakah area steril? ganti." Basecamp menjawab "Mohon di ulang kembali Galih tolong di perjelas, ganti." Mas Galih pun berkata, "Ranger Agung sedan perjalanan menurun dengan berlari kami tidak di infokan apa yang terjadi di atas, mohon bantuan update dari basecamp, mengenai kondisi di atas." Basecamp pun seperti tidak merespon balasan Mas Galih tersebut, tidak lama kemudia basecamp menjawab, "Galih, bagaimana kondisi perserta? Khususnya yang cedera..?" Mas Galih pun menjawab, "Aman, peserta yang cedera berangsur membaik, dan saat ini sedang istirahat. Mohon update kondisi diatas, mengingat ranger Agung tidak berhenti memberi arahan, ganti." Tiba-tiba salah seorang di basecamp menjawab dengan emosi, "Maksud lo apa Lih? Jangan bikin kita tambah khawatir! Tidak ada perintah dari kami mengirim ranger ke sana! Terlalu berbahaya." Mas Galih pun membalas, "Maaf basecamp! Ranger Agung meluncur barusa..." Belum sempat Mas Galih menyelesaikan kalimatnya, basecamp pun menjawab, "Ranger Agung tidak akan mungkin memberikan info ke basecamp Galih! Dia meninggal kecelakaan kemarin malam pada saat perjalanan menuju kemari, kamu di ikut sertakan kali ini, untuk menggantikan dia!" Seketika mereka semua terdiam, ternyata Mas Agung bukan manusia.
__ADS_1
Mas Burhan mengajak ngobrol Mas Galih, "Sudah lah Mas Galih... Tenangkan diri anda, saya sudah tau dari awal, makanya saya tidak mengizinkan Mas... Untuk mendekati dia." Mas Galih tetap diam dan semua terdiam.
Si Agas mencoba bertanya kepada Mas Burhan, "Mas, sudah kepalang tanggung nih apakah ada kaitannya sosok wanita tadi dengan kejadian di gunung ini.?" Mas Burhan menjelaskan kepada Agas, kalau sosok wanita itu bernama Tatiek, dia adalah arwah penasaran mencari kekasihnya yang hilang di gunung ini. Kisah mereka cukup tragis, dimana berawal dari sersan Belanda bernama Stuart yang di tugaskan sebagai operator pemancar yang sekarang menjadi basecamp. Stuart hanya seorang diri ditugaskan di kantor itu, sehari-harinya dia harus naik turun kaki gunung untuk membeli perbekalan di kantor nya, pada saat itulah dia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Tatiek. Sekedar info Tatiek ini berjualan kebutuhan-kebutuhan dapur.
Hubungan mereka tidak diketahui siapa-siapa, namun berita sangat cepat menyebar baik ke penduduk asli hingga menyebar ke tentara Belanda. Sampai suatu hari kantor Stuart di datangi oleh tentara Belanda dan memberi peringatan agar tidak melakukan hubungan apapun dengan orang Indonesia, mereka takut kalau Tatiek adalah suruhan atau mata-mata untuk mengorek informasi dari pemancar. Stuart bersikeras tetap melakukan hubungan dengan Tatiek hingga ia di siksa hingga tewas dan jasadnya di kuburkan di bawah tower pemancar.
Kepala tentara memalsukan informasi bahwa Stuart kabur dan memberikan info kepada Tatiek, informasi itu membuat perwira tinggi marah dan menangkap seluruh keluarga Tatiek dan membawa nya ke atas gunung. Ayah, Ibu dan adiknya Tatiek di penggal di hadapan Tatiek, para tentara memaksa Tatiek untuk memberi tahukan informasi apa saja yang diberikan oleh Stuart kepadanya. Tatiek selalu menjawab "aku gak tau apa-apa!" ya karena memang dia tidak tau. Maka Tatiek pun di siksa berat oleh mereka, Tatiek di tinggal begitu saja di atas gunung dengan memberikan gelang kaki yang apabila melangkah maka bergerincing, gelang kaki itu tidak akan lepas kecuali Tatiek memotong kakinya sendiri.
Mereka sengaja memberikan gelang kaki itu agar mereka tau keberadaan si Tatiek. Perwira memerintahkan kepada tentara bahwa apabila Tatiek turun gunung maka mereka boleh melakukan apa saja ke Tatiek. Salah satu tentara menghasut Tatiek, bahwa ia memberi tau kalau sersan Stuart masih hidup dan berada di gunung itu untuk mencari keberadaan Tatiek. Karena Tatiek sangat mencintai Stuart maka ia percaya oleh hasutan tentara tersebut.
Tatiek terus mencari Stuart di gunung tersebut sampai ia mati, posisi ia mati ada di semak-semak ketika ia belok ke jurang, ia mati dalam kondisi meringkuk kedinginan sambil menunggu cintanya yang tak kunjung datang.
Mendengar cerita itu si Agas pun bilang "Mas, maaf sebelumnya, tapi bagaimana cara Mas Burhan tau tentang semua itu?"
Mas Burhan menjawab, "Arwah penasaran akan terus mengulangi kejadian yang menyebabkan dirinya meninggal. Selama perjalanan saya seperti melihat sebuah film pendek. Tatiek, Stuart, dan tentara selalu berkeliling di sekitar kita mengulang kejadian yang sama terus menerus. Mereka juga menceritakan ini kepada saya bahwa mereka minta di doakan agar tidak di kondisi ini terus menerus."
Tiba-tiba Pak Nova berteriak, "Bohong kamu Burhan mana ada setan, orang mati mana bercerita Burhan janyan ngaco." bentak Pak Nova.
Mas Burhan menjawab, "Saya tau pak, apabila ada yang ganjil mohon di ceritakan aja pak, anda sekarang berada di gunung ini karena takdir. Ada perjalanan yang belum usai pak, kami semua disini karena bapak."
Pak Nova bilang, "Sial kamu Burhan, maksud kamu apa jangan mengada-ngada kamu!"
Mas Burhan berkata dengan santai, "Cepat atau lambat bapak pasti akan menceritakan kepada kami."
Ada apa dengan Pak Nova sebenarnya, Mas Galih tetap diam memikirkam kenapa ranger kelompok dua, tiga, dan empat tidak ada yang koordinasi lewat HT. Tiba-tiba si Agas kebelet pipis, dia pun mencari spot buat pipis. Setelah pipis ia pun kembali ke kelompok, ketika melewati Mas Galih tiba-tiba tangan Mas Galih memegang kaki kiri si Agas.
Hiii...hiii...hiii...hiii...hiii...hiii... Mas Galih kesurupan.
-------------------------------------------
Teman-teman penasaran ya sama kelanjutannya, tongkrongin terus JEJAK PENDAKIAN.
__ADS_1
Author mohon maaf sebesar-besarnya baru up lagi karena kemarin sempat badmood.
Nantikan cerita selanjutnya...